Vagner Mancini kembali berdiri di hadapan River Plate dengan membawa cerita lama yang belum hilang dari ingatan publik Jundiai. Kali ini, ia memimpin Bragantino dalam laga Copa Sudamericana di Stadion Cicero de Souza Marques, Braganca Paulista, pada Kamis, 30 April 2026 pukul 21.30 waktu setempat.
Pertemuan itu terasa istimewa karena terjadi tepat dua dekade setelah Mancini memandu Paulista de Jundiai menaklukkan River Plate 2-1 di Copa Libertadores. Bagi Mancini, laga itu bukan sekadar reuni dengan lawan besar, tetapi juga pengingat bahwa sepak bola selalu memberi panggung bagi pertandingan-pertandingan paling berat.
Mancini ingin timnya tampil di laga besar
Mancini menyambut hasil undian yang mempertemukan timnya dengan River Plate dengan antusias. Ia menilai pertandingan melawan klub besar penting untuk perkembangan para pemain Bragantino.
Ia menegaskan bahwa laga seperti ini memberi notoritas bagi tim dan kesempatan bagi pemain untuk merasakan atmosfer menghadapi kekuatan besar Amerika Selatan. Menurutnya, ada pemain yang mungkin hanya sekali dalam kariernya mendapat kesempatan seperti itu.
Atmosfer besar jadi bagian dari daya tarik
Mancini juga menyoroti pengalaman bermain di markas lawan dengan dukungan suporter dalam jumlah masif. Ia menyebut laga melawan River Plate di depan sekitar 90 ribu penonton sebagai bagian dari esensi sepak bola.
Baginya, menghadapi lawan seperti itu merupakan bagian dari perjuangan yang dijalani setiap hari dalam sepak bola profesional. Karena itu, ia menilai pertandingan ini penting bukan hanya untuk tim, tetapi juga untuk masyarakat di kota dan wilayah Bragantino.
Kenangan 2006 masih hidup
Dalam wawancara lain, Mancini mengenang keberhasilan Paulista menumbangkan River Plate sebagai momen yang masih sering dibicarakan di Jundiai. Ia berharap skuad Bragantino bisa merasakan dorongan emosional yang mirip dengan timnya kala itu.
Ia menekankan bahwa kemenangan atas River Plate pada 2006 menjadi marah besar bagi kota tersebut. Mancini juga menegaskan bahwa sepak bola harus dijalani dengan kerja keras harian, termasuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki kualitas permainan.
Jejak kemenangan yang tak terlupakan
Pada laga 2006 itu, Paulista menang lewat gol Amaral dan Jailson, sementara River Plate hanya membalas melalui Jairo Patino. Saat itu, Paulista juga diperkuat nama-nama seperti bek Rever dan penyerang Kolombia, Munoz.
Meski sempat membuat kejutan besar, Paulista tetap menutup fase grup di posisi terbawah dengan enam poin. River Plate justru melaju lebih jauh dan mencapai perempat final sebelum disingkirkan Libertad.
Kontras perjalanan dua klub
Situasi Paulista kini jauh berbeda dibanding masa kejayaannya setelah menjuarai Copa do Brasil 2005. Klub tersebut sempat mengalami krisis finansial berat sejak 2007 dan sekarang berjuang membangun kembali kekuatan di Serie A3 kompetisi negara bagian Sao Paulo.
Kontras itulah yang membuat reuni Mancini dengan River Plate terasa lebih dari sekadar laga fase grup. Ada sejarah, nostalgia, dan harapan baru yang ikut dibawa Bragantino ketika menghadapi salah satu raksasa sepak bola Argentina itu.







