Persija Jakarta dipastikan tidak bisa menjalani laga kandang ideal saat menghadapi Persib Bandung. Pertandingan pekan ke-32 itu harus dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda, setelah izin keamanan di Jakarta tidak turun dari pihak kepolisian setempat.
Situasi ini langsung memunculkan pertanyaan apakah Persib justru diuntungkan dari perubahan venue tersebut. Dari sisi Persija, kehilangan status tuan rumah di ibu kota jelas merugikan karena mereka juga tak mendapat dukungan penuh Jakmania di tribun.
Dampak besar bagi Persija
Mauricio Souza menyebut kondisi itu sebagai kerugian nyata bagi timnya. Ia menegaskan bahwa Persija seharusnya bermain di kandang sendiri dan mendapat dorongan dari suporter, bukan menjalani laga penting jauh dari Jakarta.
Souza juga menilai hilangnya atmosfer stadion yang penuh pendukung membuat timnya kehilangan salah satu keuntungan terbesar sebagai tuan rumah. Dalam keterangannya, ia mengatakan, “Tentu saja seharusnya status tuan rumah adalah milik kami dan seharusnya bermain di lapangan sendiri, dengan suporter kami.”
Ia menambahkan bahwa poin kandang seharusnya menjadi nilai positif bagi Persija. Namun, perpindahan venue membuat keuntungan itu hilang begitu saja dan justru mengubah kondisi pertandingan secara signifikan.
Apakah Persib diuntungkan?
Souza memilih tidak berspekulasi soal apakah Persib memperoleh keuntungan dari keputusan ini. Ia hanya menegaskan satu hal yang pasti, yakni Persija tidak mendapat keuntungan apa pun dari pemindahan laga ke Samarinda.
Pernyataan itu menunjukkan fokus pelatih asal Brasil tersebut lebih tertuju pada dampak internal yang harus ditanggung timnya. Absennya dukungan langsung dari puluhan ribu Jakmania menjadi faktor yang bisa mengubah keseimbangan pertandingan di lapangan.
Dalam laga besar seperti ini, atmosfer stadion kerap memengaruhi ritme permainan dan mental pemain. Karena itu, perpindahan ke Samarinda membuat status tuan rumah Persija terasa tidak utuh.
Laga penting dalam persaingan gelar
Pertandingan ini punya nilai tinggi karena berpengaruh pada persaingan papan atas. Persib Bandung memimpin dengan 72 poin dan masih dibayangi Borneo FC, sementara Persija berada di posisi ketiga dengan 65 poin.
Bagi Persib, setiap laga tersisa sangat menentukan dalam upaya menjaga posisi di jalur juara. Sementara bagi Persija, kemenangan atas Persib menjadi syarat penting untuk tetap menjaga peluang dan tekanan di persaingan gelar.
Kondisi klasemen membuat duel ini tidak hanya bernilai tiga poin, tetapi juga berpengaruh pada psikologis dua tim. Dalam situasi seperti ini, kehilangan keuntungan kandang bisa menjadi faktor yang terasa lebih besar dari sekadar pindah stadion.
Masalah lama yang belum selesai
Persija juga kembali dihadapkan pada masalah yang sudah berulang dalam beberapa musim terakhir. Sejarah mencatat, terakhir kali mereka menjamu Persib di Jakarta terjadi pada 2019, dan setelah itu berbagai kendala keamanan membuat duel besar ini terus berpindah tempat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masalah izin pertandingan di Jakarta belum menemukan solusi permanen. Stadion Segiri kini kembali menjadi lokasi pengganti bagi Persija untuk melakoni laga kandang yang semestinya dimainkan di ibu kota.
Bagi Mauricio Souza, situasi ini tidak hanya soal satu pertandingan, tetapi juga soal hilangnya keadilan kompetitif yang seharusnya melekat pada status tuan rumah. Karena itu, fokus Persija kini tertuju pada cara mengurangi dampak kerugian sebelum duel penting di Samarinda benar-benar digelar.
Source: www.suara.com