Timnas Ekuador kembali menarik perhatian publik sepak bola Amerika Selatan karena tampil sebagai salah satu tim paling stabil di kawasan tersebut. La Tri memastikan tempat di Piala Dunia 2026 setelah finis di posisi kedua kualifikasi zona CONMEBOL, hanya berada di bawah Argentina.
Capaian itu menegaskan status Ekuador sebagai kekuatan besar kedua dari Amerika Selatan saat ini. Mereka bahkan berada di atas Brasil, Uruguay, dan Kolombia dalam klasemen akhir kualifikasi, sebuah hasil yang memperlihatkan konsistensi permainan di bawah pelatih Sebastian Beccacece.
Rekam jejak Ekuador di Piala Dunia
Ekuador sudah tampil di lima edisi Piala Dunia dan akan menjalani penampilan keenam di Amerika nanti. Sejak debut pada 2002, mereka hanya absen pada dua turnamen, yakni edisi di Afrika Selatan dan Rusia.
Konsistensi itu membuat Ekuador tidak bisa dipandang sebagai tim penggembira. Walau belum banyak berbicara di fase gugur, mereka rutin hadir di panggung terbesar FIFA dan menjaga eksistensi di level tertinggi.
Pencapaian terbaik di Jerman
Dari lima keikutsertaan yang sudah dijalani, Piala Dunia 2006 di Jerman menjadi yang paling berkesan. Saat itu, Ekuador sukses lolos ke babak 16 besar setelah tampil solid di fase grup.
La Tri membuka turnamen dengan kemenangan 2-0 atas Polandia melalui gol Carlos Tenorio dan Agustin Delgado. Setelah itu, mereka menahan imbang Inggris dan kembali menang besar 3-0 atas Kosta Rika.
Performa tersebut sempat menempatkan Ekuador di posisi kedua Grup A. Namun, langkah mereka terhenti setelah kalah 0-2 dari Jerman pada laga terakhir fase grup, lalu tersingkir usai takluk 0-1 dari Inggris di babak gugur melalui gol tunggal David Beckham pada menit ke-60.
Konsisten, meski belum tajam
Pada empat edisi lainnya, Ekuador memang belum mampu melampaui fase grup. Meski begitu, kehadiran mereka yang berulang menunjukkan fondasi tim yang cukup kuat untuk bersaing dengan negara-negara besar Amerika Selatan.
Fakta itu juga terlihat dari hasil kualifikasi menuju Piala Dunia 2026. Di bawah arahan Beccacece, Ekuador hanya kebobolan dua gol dari 12 pertandingan, tetapi baru mencetak sembilan gol.
Catatan itu memperlihatkan dua sisi permainan La Tri. Pertahanan mereka sangat rapat, tetapi produktivitas lini depan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi.
Perubahan di bawah Sebastian Beccacece
Ekuador memulai fase baru setelah Federasi Sepak Bola Ekuador atau FEF berpisah dengan Felix Sanchez. Keputusan itu diambil setelah hasil yang kurang memuaskan di Copa America, lalu Beccacece datang untuk membangun ulang permainan tim.
Bersama pelatih asal Argentina itu, Ekuador tampil lebih terstruktur dan efisien. Hasil akhirnya terlihat jelas dari 29 poin yang mereka kumpulkan di kualifikasi, cukup untuk mengantar La Tri lolos langsung ke Piala Dunia 2026 tanpa harus melalui play-off.
Perkembangan ini juga memperkuat citra Ekuador sebagai tim yang makin matang. Mereka tidak hanya lolos, tetapi juga menunjukkan kemampuan bersaing dengan tim-tim papan atas di zona Amerika Selatan.
Peta persaingan di grup Piala Dunia 2026
Di putaran final nanti, Ekuador menempati Grup E bersama Pantai Gading, Curacao, dan Jerman. Komposisi itu langsung menempatkan La Tri dalam persaingan yang menuntut konsentrasi tinggi sejak laga awal.
Dengan pertahanan yang kuat dan pengalaman dari lima penampilan sebelumnya, Ekuador tetap punya modal penting untuk kembali mencuri perhatian. Tantangan terbesar mereka adalah menjaga keseimbangan permainan agar solid di belakang dan lebih efektif saat mendapat peluang mencetak gol.
Source: bola.bisnis.com