Menonton Piala Dunia 2026 langsung di stadion menjadi pengalaman yang sangat mahal bagi suporter dari Indonesia. Biaya terbesar biasanya datang dari tiket pertandingan, pesawat, penginapan, transportasi lokal, serta kebutuhan harian selama berada di Amerika Utara.
Karena turnamen digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, anggaran yang perlu disiapkan bisa naik tajam, terutama jika ingin menonton laga populer atau fase akhir. Dalam skenario realistis, dana minimal puluhan juta rupiah perlu disiapkan, dan untuk pengalaman premium biayanya dapat melonjak jauh lebih tinggi.
Tiket pertandingan jadi pos terbesar
Harga tiket pertandingan menjadi komponen utama yang paling cepat menguras anggaran. Untuk kategori termurah, tiket diperkirakan mulai dari sekitar Rp950 ribu, sedangkan laga fase grup dapat mencapai sekitar Rp11 juta per orang.
Saat turnamen masuk babak gugur, harga biasanya meningkat lagi. Tiket final diperkirakan berada di kisaran Rp64 juta hingga Rp175 juta, tetapi sistem dynamic pricing membuat harga laga tertentu bisa naik jauh lebih tinggi.
Dalam beberapa kasus, tiket final bahkan dapat menembus sekitar Rp573 juta per lembar. Situasi ini membuat keputusan memilih pertandingan menjadi sangat penting bagi penonton yang ingin menjaga anggaran tetap terkendali.
Penginapan ikut terdorong naik
Biaya akomodasi selama Piala Dunia juga diprediksi mengalami lonjakan karena tingginya permintaan wisatawan. Untuk hotel kelas menengah, tarif per malam berkisar antara Rp3 juta hingga Rp8 juta.
Sementara itu, hotel bintang empat dan lima bisa berada di rentang Rp8 juta hingga Rp26 juta per malam. Jika tinggal selama satu minggu, biaya hotel kelas menengah dapat mencapai Rp21 juta hingga Rp56 juta.
Untuk hotel premium, totalnya bisa melewati Rp180 juta dalam sepekan. Angka ini menunjukkan bahwa lama tinggal dan kelas hotel sangat berpengaruh terhadap total dana yang harus disiapkan.
Tiket pesawat dari Indonesia juga tidak kecil
Bagi penonton yang berangkat dari Indonesia, tiket pesawat menjadi salah satu pengeluaran terbesar setelah tiket pertandingan. Untuk kelas ekonomi pulang-pergi, biayanya diperkirakan berada di rentang Rp15 juta hingga Rp35 juta.
Jika memilih kelas bisnis, dana yang dibutuhkan dapat mencapai Rp53 juta hingga Rp119 juta. Biaya ini belum termasuk kebutuhan lain setelah tiba di negara tujuan.
Setelah mendarat, penonton masih harus menyiapkan anggaran transportasi lokal menuju stadion dan lokasi lain. Tarif kereta dan shuttle resmi selama turnamen diperkirakan berada pada kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk sekali perjalanan pulang-pergi.
Biaya makan dan kebutuhan harian perlu dihitung
Pengeluaran harian sering kali terlihat kecil, tetapi nilainya bisa besar jika dikumpulkan selama beberapa hari. Untuk makan, minum, dan kebutuhan lain, wisatawan diperkirakan membutuhkan sekitar Rp2,3 juta hingga Rp3,8 juta per hari.
Jika tinggal selama tujuh hari, total dana untuk kebutuhan harian bisa mencapai sekitar Rp16 juta hingga Rp27 juta. Jumlah ini membuat perencanaan harian menjadi sama pentingnya dengan pembelian tiket dan pemesanan hotel.
Gambaran total dana yang perlu disiapkan
Dalam skenario yang dianggap cukup realistis, misalnya menonton satu hingga dua laga fase grup, memakai penerbangan ekonomi, menginap seminggu di hotel kelas menengah, dan menutup kebutuhan harian secara normal, total biaya berada di kisaran Rp55 juta hingga Rp130 juta.
Namun, jika memilih hotel berbintang, penerbangan kelas bisnis, atau membeli tiket untuk semifinal hingga final, anggaran bisa naik drastis. Dalam kondisi seperti itu, dana yang dibutuhkan dapat menembus lebih dari Rp200 juta, bahkan mendekati Rp600 juta untuk pengalaman yang paling mahal.
Dengan hitungan tersebut, suporter Indonesia yang ingin menyaksikan langsung Piala Dunia 2026 perlu menyiapkan dana yang benar-benar matang sejak awal. Gambaran praktis yang cukup realistis untuk menikmati turnamen ini berada di kisaran Rp60 juta hingga Rp100 juta, tergantung pilihan pertandingan, lama tinggal, dan kelas layanan yang dipakai.
Source: bola.bisnis.com