Mantan Rival Khamzat Chimaev Ungkap Prediksi Gaethje Vs Topuria, Siapa Akan Tumbang?

Dricus du Plessis ikut menyoroti duel perebutan gelar kelas ringan antara Justin Gaethje dan Ilia Topuria yang akan menjadi laga utama UFC Freedom 250 di Gedung Putih, Washington. Mantan juara kelas menengah UFC itu menilai pertarungan ini akan sangat menarik, tetapi ia tetap memberi keunggulan kepada Topuria.

Du Plessis bukan sosok asing dalam persaingan elite UFC. Petarung asal Afrika Selatan itu pernah kehilangan sabuk kelas menengah setelah dikalahkan Khamzat Chimaev, sebelum Chimaev kemudian juga tumbang dari Sean Strickland yang merebut kembali gelar tersebut.

Topuria dinilai sebagai bintang terbesar UFC

Dalam pandangannya, Topuria saat ini tampil sebagai salah satu nama paling bersinar di UFC. Du Plessis bahkan menyebut petarung asal Spanyol-Georgia itu sebagai bintang terbesar dalam olahraga ini saat ini karena selalu menang dengan cara yang meyakinkan.

“Saya pikir Ilia Topuria adalah bintang terbesar dalam olahraga ini saat ini, dan memang seharusnya begitu,” kata Du Plessis dalam Fight Forecast. Ia menambahkan bahwa gaya bertarung Topuria membuat setiap penampilannya terasa spesial karena sering berakhir spektakuler.

Topuria datang dengan rekor tak terkalahkan 17-0 MMA dan 9-0 di UFC. Ia akan berusaha menyatukan sabuk saat menghadapi Justin Gaethje yang membawa rekor 27-5 MMA dan 10-5 UFC.

Respek besar untuk gaya bertarung Gaethje

Meski menjagokan Topuria, Du Plessis tidak meremehkan Gaethje. Ia justru menilai petarung berjuluk “The Highlight” itu selalu menyajikan pertarungan seru dan hampir tidak pernah terlibat duel yang membosankan.

“Maksud saya, pria itu tidak pernah terlibat dalam pertarungan yang membosankan sepanjang hidupnya,” ujar Du Plessis. Ia menegaskan bahwa gaya bertarung Gaethje memang mendorongnya untuk selalu tampil agresif dan mencari pertarungan terbuka.

Du Plessis juga menilai banyak orang kerap meremehkan kemampuan Gaethje. Namun, ia mengingatkan bahwa petarung Amerika Serikat itu sudah lama hidup di dunia tarung dan terbiasa menghadapi tekanan di level tertinggi.

Strategi yang dinilai paling masuk akal

Menurut Du Plessis, Gaethje tidak boleh terpancing untuk bertukar pukulan jarak dekat dengan Topuria. Ia menilai langkah paling aman dan efektif adalah membangun serangan secara sabar, lalu memanfaatkan tendangan untuk mengganggu ritme lawan.

Ia menyoroti khususnya tendangan kaki karena bisa mengurangi mobilitas Topuria. Du Plessis juga menyebut Gaethje punya tendangan kepala berbahaya, sambil mengingat kembali momen saat petarung itu melawan Dustin Poirier.

“Gaethje harus mempersiapkan serangannya,” kata Du Plessis. Ia menilai kunci kemenangan Gaethje ada pada serangan yang terukur, bukan adu pukul liar yang justru menguntungkan Topuria.

Du Plessis juga menilai Topuria lebih unggul dalam aspek grappling dan gulat, sehingga Gaethje perlu benar-benar disiplin dengan rencana bertarungnya. Dalam pandangannya, Topuria terlalu berbahaya jika diberi ruang untuk membaca pola lawan.

Pasar taruhan juga memfavoritkan Topuria

Prediksi Du Plessis sejalan dengan pasar taruhan yang lebih memihak sang juara bertahan. Berdasarkan data FanDuel, Gaethje berstatus underdog dengan odds +430, sementara Topuria menjadi favorit kuat dengan odds -670.

Perbedaan itu menunjukkan besarnya keyakinan publik terhadap peluang Topuria mempertahankan momentumnya. Namun, status underdog juga membuat Gaethje tetap punya daya tarik tersendiri karena dikenal mampu memberi kejutan dalam pertarungan besar.

Pada akhirnya, Du Plessis tetap memilih Topuria sebagai pemenang meski ia mengaku sangat menyukai gaya bertarung Gaethje. “Saya penggemar berat Gaethje, tetapi Ilia akan memenangkan pertarungan ini,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa duel tersebut bisa menjadi salah satu tontonan paling menarik di UFC White House.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait

Back to top button