Igor Thiago kini disebut sebagai salah satu penyerang Brasil yang bakal tampil di Piala Dunia 2026, tetapi perjalanan menuju panggung besar itu tidak pernah mudah. Di balik statusnya sebagai pemain profesional, ia pernah jatuh ke depresi berat saat masih berusia 18 tahun dan bahkan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya.
Kisah itu terungkap lewat penuturan sang istri, Letícia Carvalho, yang menggambarkan betapa berat tekanan yang dialami Thiago pada awal kariernya. Ia mengatakan kritik, situasi klub yang sulit, dan beban mental di level profesional membuat Thiago merasa tersesat dan membutuhkan pertolongan.
Tekanan awal karier yang memicu krisis mental
Letícia menyebut Thiago pernah menelepon sambil menangis dan mengatakan bahwa semuanya terasa sangat berat. Pada masa itu, Thiago masih sangat muda dan baru menapaki karier profesional, namun tekanan yang datang justru terasa lebih besar dari kemampuannya untuk bertahan.
Situasi itu membuat kondisi mentalnya memburuk dan ia kemudian menjalani terapi psikologis. Menurut Letícia, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemulihan Thiago dari depresi yang sempat menguasai hidupnya.
Peran keluarga dalam titik balik kehidupan
Perubahan besar datang pada 2021, saat anak pertama mereka, Javi, lahir. Letícia menyebut kehadiran putra mereka menjadi alasan utama Thiago bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali arah hidupnya.
Ia bahkan mengatakan bahwa paternitas menyelamatkan Thiago dari depresi. Sejak menjadi ayah, Thiago dinilai lebih tenang, lebih matang, dan memiliki tujuan yang lebih kuat di luar lapangan.
Luka kehilangan ayah sejak kecil
Selain tekanan karier, Thiago juga membawa beban emosional lain yang tidak kalah berat. Ia kehilangan ayah sejak usia 13 tahun, dan duka itu disebut masih sering muncul dalam momen-momen penting dalam hidupnya.
Letícia mengungkap bahwa Thiago kerap mengatakan, “Aku hanya ingin ayahku ada di sini untuk melihat ini.” Ungkapan itu menunjukkan bahwa kehilangan tersebut belum sepenuhnya pulih, meski waktu terus berjalan.
Lebih sensitif, lebih protektif terhadap keluarga
Pengalaman panjang penuh tekanan dan kehilangan membentuk Thiago menjadi pribadi yang sensitif dan cenderung tertutup. Di sisi lain, luka itu juga membuatnya sangat protektif terhadap keluarga dan lebih berhati-hati saat membuka diri kepada orang lain.
Dalam proses itu, dukungan psikolog profesional memegang peran penting. Letícia menyebut sosok psikolog mereka membantu Thiago mengelola emosi dan menyembuhkan luka batin yang lama ia simpan sendiri.
Kini, setiap gol yang ia cetak bukan hanya penanda kontribusi di lapangan, tetapi juga simbol perjuangan panjang melawan masa lalu. Bagi Thiago, perjalanan dari depresi menuju panggung Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa kekuatan mental, dukungan keluarga, dan keberanian mencari bantuan bisa menjadi penentu untuk bertahan dan bangkit.
