Luis de la Fuente Santai Hadapi Messi, Justru Cemas Naik Helikopter Jelang Final

Pelatih Spanyol Luis de la Fuente tidak memperlihatkan ketegangan besar menjelang final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Di tengah sorotan pada duel melawan Lionel Messi dan tim juara bertahan, ia malah mengaku lebih gugup menghadapi perjalanan helikopter menuju hotel tim.

Sikap santai itu menjadi gambaran pendekatan Spanyol menuju laga puncak di Stadion MetLife, New Jersey. La Roja datang dengan ambisi merebut gelar dunia kedua setelah pencapaian mereka pada Piala Dunia 2010.

De la Fuente menyampaikan candaan tersebut saat berbicara kepada awak media sebelum pertandingan. Ia mengatakan penerbangan setelah konferensi pers justru menjadi hal yang paling membuatnya tidak nyaman.

"Saya cukup gugup karena kami akan kembali dengan helikopter," ujar De la Fuente sambil tertawa. "Kami datang dengan helikopter, dan kami harus terbang kembali setelah konferensi pers selesai. Itu benar-benar membuat saya gugup."

Pelatih berusia 63 tahun itu menegaskan tidak ada kecemasan lain yang mengusiknya menjelang final. "Namun tidak ada yang lain. Saya benar-benar tenang. Kami beruntung berada dalam keadaan ini, dalam situasi ini," katanya.

Final yang Mempertemukan Dua Tim Besar

Pertemuan ini mempertemukan Spanyol, juara Eropa, dan Argentina sebagai pemegang gelar juara dunia. Kedua tim sama-sama memiliki pemain berkualitas serta pendekatan yang menekankan penguasaan bola dan kreativitas.

AspekSpanyolArgentina
Status menuju finalJuara EropaJuara bertahan dunia
TargetGelar dunia keduaMempertahankan gelar dunia
Catatan pentingJuara Piala Dunia 2010Diperkuat Lionel Messi

Menurut De la Fuente, kesamaan karakter itu berpotensi menghasilkan pertandingan dengan mutu teknis tinggi. Ia menilai kedua kesebelasan ingin menampilkan sepak bola yang mengandalkan bakat, kecemerlangan, dan permainan indah.

"Ada dua tim kelas atas, dua tim luar biasa dengan banyak kesamaan, baik dalam pendekatan permainan maupun kualitas para pemainnya. Saya pikir ini akan menjadi pertandingan yang hebat," tutur De la Fuente, sebagaimana diberitakan www.suara.com.

Ia juga tidak menempatkan hasil akhir sebagai satu-satunya ukuran dari perjalanan timnya. Bagi De la Fuente, kesempatan mencapai final dan bersaing memperebutkan trofi merupakan pencapaian yang sangat bernilai.

"Bagi saya, hal yang penting adalah berada dalam posisi untuk menang, untuk mencapai final," katanya. "Saya akan senang mencapai final Piala Dunia setiap tahun, meski kalah."

Spanyol Diminta Menikmati Momen

De la Fuente meminta skuadnya menikmati kesempatan tersebut dengan mengandalkan kekuatan dan kualitas sendiri. Pada saat yang sama, Spanyol tetap harus menjaga Argentina, yang ia sebut sebagai lawan sangat tangguh, agar berada dalam kendali.

Sepanjang turnamen, ia menilai para pemainnya telah menunjukkan sikap profesional dalam menerima berbagai penyesuaian. Aturan jeda hidrasi dan durasi turun minum yang diperpanjang untuk kebutuhan hiburan disebut diterima tanpa keluhan.

Pelatih itu menekankan bahwa adaptasi berarti menerima keadaan yang tidak dapat diubah. "Tidak ada satu pun keluhan atau gerutuan. Adaptasi berarti menerima apa yang tidak bisa Anda ubah," ujarnya.

Final ini menjadi kesempatan bagi De la Fuente untuk menyamai capaian Vicente del Bosque, pelatih yang membawa Spanyol menjadi juara dunia pada 2010. Laga di New Jersey tersebut juga menandai pertemuan pertama Spanyol dan Argentina di final Piala Dunia, dengan perhatian publik dunia mengarah pada duel dua kekuatan sepak bola itu.

Source: www.suara.com
Terkait