Mengapa Dugaan FIFA Memihak Messi Mudah Dipercaya, Ekonomi Media Berperan

Dugaan bahwa FIFA menguntungkan Argentina dan Lionel Messi kerap muncul setiap ada keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Narasi itu cepat menyebar karena Messi bukan hanya pesepak bola elite, melainkan juga figur dengan nilai komersial sangat besar bagi industri sepak bola global.

Namun, besarnya nilai ekonomi seorang pemain tidak otomatis menjadi bukti adanya rekayasa pertandingan. Yang lebih penting untuk dipahami adalah cara media, platform digital, dan perhatian publik membentuk persepsi terhadap setiap keputusan di lapangan.

Perhatian Publik Menjadi Komoditas

Dalam teori ekonomi politik media, perhatian audiens memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Vincent Mosco, melalui buku The Political Economy of Communication, menjelaskan proses komodifikasi sebagai perubahan berbagai aspek kehidupan menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Dalam industri media global, pertandingan dengan perhatian besar dapat meningkatkan nilai hak siar, iklan, sponsor, hingga penjualan merchandise. Piala Dunia menjadi salah satu contoh paling jelas karena kompetisi ini menggabungkan olahraga, hiburan, bisnis, dan jangkauan audiens lintas negara.

FIFA mengelola turnamen yang memiliki nilai hak siar televisi hingga miliaran dolar. Sponsor global seperti Adidas, Coca-Cola, Visa, Hyundai, dan perusahaan multinasional lain juga menanamkan investasi besar dalam ekosistem tersebut.

Keberhasilan turnamen, karena itu, tidak semata diukur dari kualitas permainan. Kemampuan mempertahankan perhatian penonton dunia juga menjadi faktor penting dalam nilai komersial kompetisi.

Messi sebagai Aset Komersial

Lionel Messi memiliki daya tarik yang melampaui perannya sebagai pemain Argentina. Namanya dapat membantu penjualan tiket, menaikkan rating siaran, memperbesar percakapan di media sosial, serta mendorong penjualan jersey dan minat sponsor.

Dalam kerangka komodifikasi individu, seorang atlet dapat dipandang sebagai produk ekonomi atau merek. Fenomena serupa pernah terlihat pada Michael Jordan di basket, Tiger Woods di golf, Roger Federer di tenis, serta Cristiano Ronaldo dalam sepak bola.

Nilai komersial itulah yang membuat sebagian publik mudah menghubungkan keberadaan Messi di turnamen dengan kepentingan bisnis yang lebih luas. Ketika keputusan wasit dianggap menguntungkan Argentina, muncul asumsi bahwa keberlangsungan perjalanan Messi akan menaikkan nilai komersial Piala Dunia.

Menurut ulasan di bola.bisnis.com, persepsi tersebut antara lain muncul dari keputusan seperti penganuliran gol, penggunaan VAR yang dinilai lebih sering merugikan lawan, atau pemberian kartu. Beberapa pertandingan melawan Tanjung Verde dan Swiss juga disebut menjadi contoh yang memicu perdebatan.

Persepsi Tidak Sama dengan Bukti

Belum ada bukti empiris yang menunjukkan FIFA secara sistematis menginstruksikan wasit untuk menguntungkan Argentina atau Messi. Keputusan wasit tetap merupakan hasil interpretasi atas situasi pertandingan yang kompleks, termasuk ketika teknologi VAR digunakan.

Kontroversi juga bukan hanya terjadi dalam laga yang melibatkan Argentina. Banyak tim lain mengalami keputusan yang diperdebatkan, sehingga satu atau beberapa insiden tidak cukup untuk membuktikan adanya pola manipulasi.

Masalahnya, publik sering kali telah memiliki ekspektasi emosional terhadap narasi “panggung terakhir Messi” di Piala Dunia. Dalam kondisi tersebut, keputusan yang menguntungkan Argentina cenderung lebih mudah dilihat sebagai bagian dari cerita besar yang telah dipercaya sebelumnya.

Psikologi mengenal kecenderungan itu sebagai confirmation bias. Seseorang lebih mudah memberi perhatian pada informasi yang menguatkan keyakinannya, sementara informasi yang tidak sesuai sering kali kurang diperhatikan.

Algoritma Memperbesar Kontroversi

Ekonomi digital membuat narasi kontroversial semakin cepat berkembang. Konten dengan judul provokatif mengenai FIFA, wasit, VAR, dan Messi biasanya memancing klik, komentar, serta pembagian ulang dalam jumlah besar.

Algoritma media sosial kemudian dapat memperluas distribusi konten dengan tingkat interaksi tinggi. Proses ini berjalan terlepas dari apakah isi narasi tersebut telah didukung bukti yang kuat atau belum.

Penjelasan faktual yang berimbang sering kalah cepat dibandingkan unggahan yang memicu kemarahan atau kecurigaan. Akibatnya, opini publik dapat terbentuk bukan hanya dari peristiwa di lapangan, tetapi juga dari logika ekonomi perhatian yang mengomersialkan keterlibatan pengguna.

Besarnya nilai ekonomi Messi memang menjelaskan mengapa media terus membangun narasi di sekelilingnya. Namun, pembahasan tentang ekonomi politik media harus tetap dipisahkan dari tuduhan pengaturan pertandingan yang memerlukan bukti empiris kuat.

Tantangan FIFA adalah menjaga kepercayaan publik ketika kepentingan komersial dan emosi suporter bertemu dalam panggung sebesar Piala Dunia. Jika penonton lebih percaya pada narasi konspirasi daripada integritas pertandingan, legitimasi sepak bola sebagai olahraga populer ikut dipertaruhkan.

Source: bola.bisnis.com
Terkait