Javier Tebas Minta Infantino Mundur, FIFA Dinilai Mengancam Liga Domestik

Author: Qoo Media

Presiden LaLiga Javier Tebas mendesak Gianni Infantino meninggalkan jabatan Presiden FIFA. Ia menilai arah kebijakan FIFA telah mengancam fondasi industri sepak bola karena terlalu memusatkan perhatian pada turnamen internasional.

Kritik itu menyoroti dampak perluasan kompetisi terhadap kalender pertandingan dan keberlangsungan liga domestik. Bagi Tebas, sepak bola tidak bisa hanya berputar di sekitar Piala Dunia yang berlangsung dalam waktu terbatas.

Liga Domestik Disebut Penopang Industri

Dalam wawancara dengan media Italia La Gazzetta dello Sport, Tebas menyebut penambahan peserta turnamen internasional sebagai langkah yang tidak masuk akal. Pernyataan tersebut dikutip www.medcom.id setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

“Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia,” ujar Tebas.

Menurutnya, Piala Dunia memang merupakan turnamen paling penting, tetapi kompetisi nasional tetap menjadi penggerak utama ekosistem sepak bola. Liga-liga domestik dinilai menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan dan menopang aktivitas klub sepanjang musim.

Tebas menilai kepentingan itu terancam ketika FIFA terus memperlebar ruang bagi agenda internasional. Ia menyebut kebijakan tersebut berpotensi mengorbankan kompetisi yang menjadi fondasi olahraga ini.

“Kompetisi nasional adalah penopang olahraga ini. Mereka sedang menghancurkan industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan demi sebuah turnamen yang hanya berlangsung sekitar 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain,” katanya.

Usulan 64 Tim dan Aturan Baru Disorot

Salah satu isu yang paling ditentang Tebas ialah wacana Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta. Usulan perluasan tersebut sebelumnya diajukan secara resmi oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL.

Isu Rincian Sorotan Tebas
Piala Dunia 2030 Wacana 64 peserta Dinilai menambah tekanan pada kalender sepak bola
Cooling break Piala Dunia 2026 Jeda hidrasi di tengah laga Disebut dapat menjadi ruang jeda iklan
Final Piala Dunia 2026 Jeda babak pertama 27 menit Dinilai lebih mengutamakan pertunjukan paruh waktu

Selain jumlah peserta, Tebas mempertanyakan penerapan cooling break pada pertandingan Piala Dunia 2026. Ia mengakui LaLiga juga menerapkan jeda hidrasi, tetapi hanya ketika kondisi cuaca memang sangat panas.

“FIFA mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri, bukan demi sepak bola. Cooling break itu hanya alasan,” kata Tebas.

Ia juga menyinggung sejumlah stadion Piala Dunia yang telah dilengkapi pendingin udara. Karena itu, Tebas menduga jeda tersebut lebih berkaitan dengan kepentingan iklan daripada kebutuhan teknis pertandingan.

Durasi jeda babak pertama final yang diperpanjang menjadi 27 menit turut menjadi sasaran kritik. Tebas memandang perubahan itu sebagai contoh kuatnya orientasi komersial dan hiburan dalam penyelenggaraan turnamen.

Dukungan Sistem Dinilai Sulit Digoyang

Meski menyerukan pengunduran diri, Tebas mengakui peluang perubahan di pucuk FIFA masih kecil. Menurutnya, Infantino memiliki dukungan kuat dari sistem dan federasi anggota.

“Dalam pandangan saya, ya, waktunya sudah habis. Namun dia mendapat dukungan dari sistem dan federasi, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan,” ujar Tebas.

Ia mengatakan tidak ada kandidat oposisi yang bersedia maju hanya untuk kalah. Tebas juga menilai banyak pihak sebenarnya menentang kepemimpinan Infantino, tetapi memilih tidak mengambil tindakan.

“Saya mendengar banyak orang menentang Infantino. Mereka mengatakannya, tetapi tidak melakukan apa pun,” lanjutnya.

Suporter Eropa Ikut Menuntut Reformasi

Kritik serupa datang dari Football Supporters Europe atau FSE, organisasi yang mewakili kelompok suporter di Eropa. FSE menilai Piala Dunia 2026 terlalu mengutamakan hiburan dan komersialisasi dibanding pengalaman pendukung sepak bola.

Organisasi itu mendesak reformasi tata kelola FIFA agar keputusan penting kembali melibatkan liga, klub, pemain, dan suporter. FSE juga menyoroti harga tiket yang tinggi, biaya transportasi mahal, komunikasi yang minim transparansi, serta kebijakan yang dinilai merusak identitas sepak bola.

Di tengah kritik tersebut, Infantino telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Pemilihan dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko.

Source: www.medcom.id
Terbaru