Timnas Malaysia U-23 menghadapi situasi yang sangat sulit dalam Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 setelah menelan kekalahan tipis 0-1 dari Lebanon di pertandingan perdana Grup F yang berlangsung di Stadion Thammasat, Thailand. Kegagalan ini semakin memperkeruh peluang Malaysia untuk lolos ke putaran final, mengingat mereka masih harus bertanding menghadapi dua tim tangguh, yakni Mongolia dan tuan rumah Thailand.
Gol tunggal Ali El Fadl pada menit ke-83 menjadi momok bagi Malaysia. Kekalahan tersebut menambah tekanan bagi skuad asuhan pelatih kepala yang hingga kini masih berjuang mengatasi masalah utama mereka, yaitu kesulitan mencetak gol. Kapten tim, Ubaidullah Shamsul, menyatakan kekecewaannya usai pertandingan karena meskipun permainan Malaysia terbilang cukup baik pada babak pertama, mereka gagal memanfaatkan peluang untuk mencetak gol. “Ini seperti siapa yang bisa mencetak gol, mereka yang akan menang,” ujar Ubaidullah kepada Makan Bola.
Masalah lini depan memang sudah menjadi kendala serius bagi Malaysia sejak keikutsertaan mereka di Piala AFF U-23 2025 yang digelar di Jakarta. Dari tujuh pertandingan terakhir, Malaysia hanya mampu mencetak gol pada satu laga, yaitu saat mereka mengalahkan Brunei Darussalam dengan skor telak 7-1. Ketiadaan gol dalam banyak pertandingan membuat usaha mereka untuk meraih kemenangan kian sulit. Ubaidullah menegaskan, “Masalah kami masih sama sejak Piala AFF U-23 lalu, tidak mampu mencetak gol dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.”
Lebih memperparah kondisi, tim Negeri Jiran tetap tidak berhasil mencetak gol meskipun sudah mencoba berbagai cara di menit-menit akhir saat menghadapi Lebanon. Ini menandakan bahwa kendala produktivitas gol bukan hanya masalah teknis sesaat, melainkan sebuah masalah sistemik yang perlu segera diatasi agar Malaysia bisa bersaing di turnamen regional dan internasional.
Situasi Malaysia saat ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan Indonesia. Timnas Indonesia U-23 yang bermain di Grup J pada laga perdana berhasil menahan imbang Laos tanpa gol, yang walaupun mendapat sorotan negatif, masih memberikan harapan untuk perbaikan di pertandingan berikutnya. Indonesia masih mempunyai peluang untuk bisa memperbaiki catatan dengan menghadapi Macau dan Korea Selatan. Sementara Malaysia harus berhadapan dengan Mongolia dan Thailand, dua lawan yang tidak bisa dianggap enteng, untuk mempertahankan asa lolos ke babak final Piala Asia U-23 2026 di Arab Saudi.
Masalah produktivitas gol ini menjadi perhatian utama dalam perbaikan kualitas Timnas Malaysia U-23. Ketidakmampuan mencetak gol bukan hanya soal kualitas penyerang, tetapi juga refleksi dari aspek taktik, kreativitas lini tengah, dan efektivitas penyelesaian akhir. Kapten Ubaidullah menekankan pentingnya perubahan strategi agar bisa memecahkan kebuntuan gol demi meraih hasil positif ke depan.
Dalam konteks rivalitas kawasan, nasib Malaysia U-23 saat ini lebih tragis dibandingkan Indonesia U-23. Indonesia, meski hasil laga pertamanya kurang memuaskan, masih memiliki peluang untuk bangkit di laga-laga berikut. Sementara Malaysia harus segera memperbaiki banyak hal, termasuk memperkuat mental dan strategi serangan guna menghindari kegagalan lebih lanjut.
Catatan statistik ini menjadi peringatan keras bagi tim Malaysia bahwa perbaikan mendalam diperlukan agar bisa kembali kompetitif di level Asia. Dengan waktu yang semakin sempit dan tekanan yang terus meningkat, Malaysia U-23 harus segera beradaptasi dan mengeksekusi peluang yang ada, jika ingin membuka jalan menuju babak final dan mengangkat prestasi sepakbola muda mereka di panggung internasional.
