Skandal Naturalisasi: Nama Indonesia Diseret dalam Berita Jurnalis Malaysia

Isu naturalisasi pemain sepak bola Malaysia menjadi sorotan dunia setelah FIFA memberikan sanksi tegas kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) atas pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain asing. Kontroversi ini memunculkan tudingan liar dari seorang jurnalis Malaysia, Zulhelmi Zainal, yang menyebut Indonesia sebagai pihak yang "menyabotase" perkembangan sepak bola Malaysia lewat kedekatannya dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Tuduhan Kontroversial dari Jurnalis Malaysia

Sehari sebelum pengumuman resmi sanksi FIFA tanggal 26 September 2024, Zulhelmi Zainal menulis di akun X-nya yang diikuti hampir 50.000 pengguna bahwa ada “kekuatan asing yang mencoba menyabotase tim Malaysia karena takut dengan kebangkitan Macan Malaya.” Belakangan diketahui ia mengarah pada Indonesia sebagai salah satu pengaruh yang dekat dengan pimpinan FIFA.

Unggahan ini awalnya kurang mendapat perhatian, tetapi viral setelah FIFA memutuskan bahwa FAM telah terbukti melakukan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain, yakni Gabriel Palmero dan Jon Irazabal dari Spanyol; Facundo Garces, Rodrigo Holgado, dan Imanol Machuca dari Argentina; Joao Figueireido asal Brasil; serta Hector Hevel dari Belanda.

Dampak dan Sanksi dari FIFA

Komite Disiplin FIFA menegaskan FAM melanggar Pasal 22 Peraturan Disiplin FIFA terkait pemalsuan dokumen. Sanksi yang dijatuhkan cukup berat, antara lain:

  1. Denda sebesar 350.000 franc Swiss atau sekitar Rp 11,5 miliar.
  2. Larangan bermain selama 12 bulan kepada tujuh pemain naturalisasi yang terlibat.
  3. Dampak langsung bagi klub-klub di Malaysia dan negara asal pemain seperti Spanyol, Argentina, Kolombia, dan Belanda akibat kehilangan pemain inti di tengah musim.

Selain itu, Malaysia berpotensi besar harus dikalahkan pertandingan melawan Vietnam dalam kualifikasi Piala Asia 2027 setelah AFC memberlakukan aturan penggunaan pemain tidak sah berakibat kekalahan 0-3. Dengan tujuh pemain yang tidak memenuhi syarat bermain, peluang Malaysia melaju ke Piala Asia 2027 nyaris tertutup, sekaligus membuka kesempatan bagi Vietnam yang kini berpeluang memimpin Grup F.

Hubungan Indonesia dan FIFA Menjadi Sorotan

Tudingan jurnalis Malaysia itu semakin meruncing karena media Indonesia, seperti Akuratco, turut menyoroti pernyataan Zulhelmi yang dianggap menyiratkan Indonesia sebagai "kekuatan destruktif." Sejumlah netizen Malaysia dan Indonesia terlibat adu argumen di media sosial.

Salah satu bukti yang dipamerkan adalah foto Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Erick Thohir, bersama Presiden FIFA Gianni Infantino. Erick Thohir, yang dikenal sebagai pengusaha sukses dengan kekayaan US$ 3,6 miliar menurut Forbes, pernah menjabat Presiden klub Inter Milan dan kini aktif memimpin PSSI. Hubungannya dengan Infantino memang terlihat intens dan dianggap berkontribusi dalam jaringan sepak bola internasional.

Langkah FAM dan Proses Banding

FAM sendiri telah menyiapkan dokumen banding atas keputusan FIFA tersebut. Zulhelmi Zainal mengklaim FIFA sempat mengakui legalitas status pemain-pemain tersebut sebelum pertandingan kualifikasi melawan Vietnam berlangsung. Namun, sanksi yang telah dijatuhkan menunjukkan adanya pelanggaran serius yang mengancam reputasi sepak bola Malaysia secara internasional.

Sanksi ini tidak hanya berdampak pada prestasi timnas Malaysia tapi juga menyebabkan kerugian finansial dan potensi kehilangan fokus kompetisi di level klub. Kasus naturalisasi ini menjadi pelajaran penting bagi federasi sepak bola di Asia Tenggara agar lebih berhati-hati dan taat aturan internasional.

Reaksi dan Implikasi Regional

Kasus ini juga menggambarkan bagaimana isu naturalisasi pemain dapat memicu kecemburuan dan gesekan antarnegara, terutama antara Malaysia dan Indonesia yang memiliki rivalitas sepak bola cukup tinggi. Tuduhan “sabotase” yang dilontarkan jurnalis Malaysia memperlihatkan ketegangan diplomasi olahraga yang bisa berdampak buruk terhadap citra kedua negara di mata internasional.

Sebagai tokoh penting yang disebut-sebut dalam kontroversi ini, Erick Thohir menegaskan bahwa hubungannya dengan FIFA bertujuan memperkuat posisi sepak bola Indonesia, bukan untuk mengganggu pihak lain. Sementara itu, FIFA tetap menegakkan disiplin tanpa pandang bulu demi menjaga integritas kompetisi global.

Kasus ini menambah deretan masalah naturalisasi dalam dunia sepak bola Asia yang kerap menjadi polemik terkait prosedur, keabsahan administrasi, dan etika olahraga. Federasi-federasi regional diharapkan dapat melakukan pengawasan ketat agar insiden serupa tidak terulang dan mendukung perkembangan olahraga yang sehat dan profesional.

Berita Terkait

Back to top button