Francesco Bagnaia tampil luar biasa pada MotoGP Jepang di Motegi dengan merebut pole position, memimpin seluruh lap di sprint race, serta balapan utama hingga finis sebagai juara. Namun, kemenangan sempurna ini membawa perasaan campur aduk bagi pembalap Ducati Lenovo itu, antara kegembiraan dan rasa kesal.
Setelah menjalani sepuluh seri sebelumnya tanpa meraih podium akibat masalah pada bagian depan motornya, Bagnaia akhirnya menemukan solusi yang efektif. Perubahan besar yang dicoba Ducati pada tes pascabalapan di Misano menunjukkan hasil signifikan. “Pada tes Misano saya bisa lebih cepat 0,7 detik, perbedaannya sangat besar,” ujar Bagnaia, yang juga merupakan juara dunia MotoGP dua kali.
Keberhasilan tersebut tidak sepenuhnya diprediksi, mengingat trek Motegi memiliki karakter berbeda dari Misano. Namun, Bagnaia mampu membuktikan kebangkitannya dengan meraih hasil maksimal di akhir pekan balap tersebut. Meski merasa senang, ia juga sedikit kesal karena merasa perubahan tersebut seharusnya ditemukan lebih awal pada musim ini. “Saya senang, tetapi juga marah. Mungkin kami bisa menemukannya lebih awal, setelah satu atau dua seri pertama,” imbuhnya.
Perubahan teknis dan rasa percaya diri meningkat
Secara spesifik, Bagnaia enggan menjelaskan secara detail soal komponen baru yang digunakannya. Namun, sumber tim Ducati yakin bahwa pembalap asal Italia itu kembali memakai beberapa bagian lama seperti aero jok belakang, swingarm, dan fork dari musim sebelumnya. Hal ini memberikan sensasi mengendarai motor GP24 yang lebih nyaman dan responsif. “Akhir pekan ini saya benar-benar menunggangi motor saya, bukan melawannya,” kata Bagnaia.
Sensasi mengendarai motor yang lebih akurat tersebut membuatnya mampu tampil dominan dari awal hingga akhir balapan, baik di sprint race maupun race utama. Bahkan, ia berhasil memecahkan rekor lap dan mengunci posisi pole di seri MotoGP Jepang tersebut.
Drama knalpot mengeluarkan asap
Meskipun tampil prima, balapan sempat dikejutkan dengan adanya masalah teknis di paruh kedua. Knalpot Ducati miliknya tiba-tiba mengeluarkan asap, yang menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan mesin lebih serius. Untungnya, mesin tetap kuat dan Bagnaia bisa menyelesaikan balapan tanpa gangguan lebih lanjut. “Kalau sampai terkena sanksi, mungkin itu jadi momen paling menyakitkan dalam karier saya,” ujarnya lega.
Insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan teknis yang masih ada, meski performa mesin Ducati sudah menunjukkan kemajuan. Faktor ini tentu harus diantisipasi oleh tim agar tidak mengganggu peluang perolehan poin di seri-seri berikutnya.
Dampak positif pada klasemen pembalap
Kemenangan di Motegi membuat Bagnaia memangkas jarak dengan pesaing di klasemen pembalap. Kini ia tertinggal 66 poin dari pemimpin klasemen Fabio Quartararo dan berhasil mengurangi selisih menjadi 27 poin dari posisi kedua yang ditempati Alex Marquez. Dengan masih tersisa lima seri balapan, Pecco—julukan Bagnaia—memiliki kesempatan untuk mempertajam perolehan poin dan memperbaiki posisi.
“Sayangnya kami butuh 16 balapan untuk menemukan solusi ini. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” kata Bagnaia mengomentari proses perbaikan motor Ducati musim ini.
Kebangkitan performa Bagnaia di MotoGP Jepang menjadi titik balik penting dalam perjuangan pembalap berusia 28 tahun itu musim 2025. Diperkuat dengan kerja sama tim dan riset teknis yang tepat, Bagnaia berpotensi untuk kembali bersaing di papan atas hingga akhir musim.
MotoGP Jepang di Motegi pun memberikan momentum kuat bagi Bagnaia dan Ducati untuk melanjutkan tren positif saat menghadapi seri-seri terakhir musim ini. Dukungan konsisten dari pabrikan Italia dan kesiapan teknis dapat menjadi faktor penentu dalam persaingan ketat untuk meraih gelar juara musim ini.
Src: https://www.beritasatu.com/sport/2926656/bagnaia-senang-dan-kesal-seusai-tampil-sempurna-pada-motogp-jepang?page=all





