Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, kembali menghadapi kegagalan bersama pelatih asal Belanda setelah sebelumnya mengalami nasib serupa di Inter Milan. Kini, kegagalan itu terulang melalui pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, yang gagal membawa skuad Garuda lolos ke Piala Dunia 2026.
Indonesia harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia setelah kalah 0-1 dari Irak dalam laga Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang berlangsung di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB. Gol tunggal yang dicetak gelandang Irak, Zidane Iqbal, pada menit ke-75 menjadi penentu kegagalan Indonesia melaju ke babak berikutnya. Meski Indonesia tampil cukup berani dan menciptakan sejumlah peluang, mereka gagal menembus pertahanan ketat Irak. Kemenangan ini membuat Irak menjaga peluang lolos, sementara Indonesia menutup babak keempat dengan nol poin dan berada di dasar klasemen Grup B.
Kegagalan ini menimbulkan deja vu bagi Erick Thohir dalam kaitannya dengan pelatih asal Belanda. Pada 2016, saat menjabat sebagai Presiden Inter Milan, Erick mempercayakan tim kepada Frank De Boer. Namun, De Boer hanya mampu bertahan selama 85 hari karena serangkaian hasil buruk, hingga akhirnya dipecat. Kini, tujuh tahun berselang, skenario serupa terulang di tubuh Timnas Indonesia dengan Patrick Kluivert yang memiliki reputasi besar sebagai legenda sepak bola Belanda. Namun, hasil yang diharapkan justru tidak tercapai.
Perjalanan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 awalnya penuh optimisme. Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Indonesia meraih kemenangan besar atas Brunei Darussalam di babak pertama, dan melanjutkan performa menjanjikan di babak kedua dengan menyingkirkan Vietnam dan Filipina. Pencapaian bersejarah pun diraih ketika Garuda melaju ke babak ketiga untuk pertama kalinya.
Namun, keputusan PSSI yang tidak memperpanjang kontrak Shin Tae-yong memicu kontroversi besar, dan Patrick Kluivert kemudian ditunjuk sebagai pengganti. Di bawah arahan Kluivert, Indonesia kesulitan mempertahankan momentum positif. Adaptasi dengan strategi baru berjalan lambat, dan dua kekalahan beruntun di babak keempat, melawan Arab Saudi dan Irak, menutup semua peluang Indonesia untuk melangkah lebih jauh.
Kritik tajam muncul dari para penggemar dan pengamat sepak bola Indonesia usai kekalahan dari Irak. Tagar #KluivertOut menjadi trending topic nasional di media sosial sebagai bentuk protes terhadap performa dan keberadaan pelatih asal Belanda tersebut. Banyak pihak menilai bahwa penggantian Shin Tae-yong terlalu terburu-buru, mengingat pelatih asal Korea Selatan tersebut sudah menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Selain itu, Erick Thohir juga disorot karena dianggap mengulangi pola kesalahan yang sama seperti di Inter Milan—terlalu mengandalkan nama besar pelatih asing tanpa mempertimbangkan kecocokan dan dinamika di lapangan.
Meski kegagalan tersebut menjadi pukulan telak, Erick Thohir menegaskan bahwa proyek jangka panjang pengembangan sepak bola Indonesia tetap berlanjut. Ia menyatakan bahwa evaluasi mendalam akan dilakukan guna memperbaiki sistem pembinaan dan meningkatkan konsistensi performa Timnas Indonesia. Namun, tuntutan publik untuk adanya perubahan total semakin menguat, termasuk kemungkinan pergantian pelatih baru, yang dianggap hanya solusi sementara dari permasalahan struktural yang lebih dalam dalam tubuh PSSI.
Pola kegagalan Erick Thohir bersama pelatih asal Belanda kini terlihat jelas. Baik Frank De Boer di Inter Milan maupun Patrick Kluivert di Timnas Indonesia datang dengan harapan tinggi dan reputasi gemilang, namun keduanya gagal mengangkat performa tim sesuai ekspektasi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah proyek sepak bola tidak hanya bergantung pada nama besar pelatih, melainkan juga pada strategi adaptasi, pemahaman karakter pemain, dan dukungan sistem yang solid.
Mimpi Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2026 memang harus tertunda. Namun, perjalanan dari kemenangan meyakinkan atas Brunei hingga perjuangan keras di Jeddah menunjukkan bahwa Timnas Garuda sedang berada di jalur yang lebih baik dibandingkan masa lalu. Tantangan ke depan bukan semata mencari pelatih baru, melainkan membangun konsistensi dan arah yang jelas agar mimpi meraih tiket ke Piala Dunia tidak kembali hanya menjadi cerita yang berakhir sebelum waktunya.
Source: www.viva.co.id
