Mantan manajer Timnas Indonesia U-23, Rahim Soekasah, melontarkan kritik tajam terhadap PSSI terkait penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Kritikan ini muncul menyusul kegagalan Timnas Indonesia melaju ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak di babak keempat kualifikasi zona Asia.
Dua kekalahan berturut-turut di Grup B, yakni 2-3 dari Arab Saudi pada 9 Oktober 2025 dan 0-1 dari Irak pada 12 Oktober 2025, membuat Indonesia terpuruk di posisi buncit tanpa poin. Penunjukan Kluivert pada awal tahun 2025 menggantikan Shin Tae-yong kini menjadi sorotan, terutama dari kalangan pengamat sepak bola.
Sorotan Keras kepada PSSI dan Penunjukan Kluivert
Rahim menegaskan bahwa pihak yang harus mendapat sorotan bukan hanya Patrick Kluivert, melainkan juga PSSI sebagai federasi yang mengangkatnya. Ia mempertanyakan keputusan PSSI mengganti Shin Tae-yong saat performa tim sedang meningkat.
“Yang mengangkat pelatih siapa? Yang memilih pelatih siapa?” ujarnya dengan nada keras dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi di tvOne, Senin (13/10/2025). Rahim juga menegaskan bahwa pada saat Shin Tae-yong masih melatih, performa Timnas Indonesia cenderung positif bahkan mampu menandingi kekuatan Arab Saudi.
“Secara statistik, saat itu STY sedang membuat performa Indonesia menggebu-gebu,” katanya, mempertanyakan alasan PSSI mengganti pelatih asal Korea Selatan tersebut.
Kritik atas Rekam Jejak Patrick Kluivert
Rahim menilai, meskipun Patrick Kluivert dikenal sebagai legenda sepak bola Belanda, ia belum memiliki rekam jejak yang meyakinkan sebagai pelatih. "Dari pertama saya tahu di Januari, saya sudah bilang Patrick Kluivert itu tidak ada track record jadi pelatih bagus," ujarnya.
Menurutnya, federasi seharusnya lebih selektif dalam menunjuk pelatih, terutama dengan mempertimbangkan pengalaman dan kemampuan manajerial untuk mengangkat tim nasional ke level yang lebih baik.
Alasan Pergantian Pelatih Dinilai Kurang Masuk Akal
PSSI sempat menyebut kendala bahasa sebagai salah satu alasan pergantian pelatih Shin Tae-yong dengan Kluivert. Namun, Rahim menilai alasan tersebut kurang masuk akal. Dia menyebut bahwa kendala bahasa bisa diatasi dengan bantuan penerjemah, sebagaimana lazim dalam dunia sepak bola internasional.
“Di luar negeri itu biasa, orang Perancis nggak bisa bahasa Inggris tapi melatih di Inggris. Kan ada translator, bahasa sepak bola itu sudah internasional,” jelas Rahim.
Ia menduga PSSI memiliki alasan lain yang tidak disampaikan secara transparan kepada publik. Pernyataan ini menunjukkan ketidakpuasan dan kekecewaan atas kebijakan yang dibuat oleh federasi dalam menangani Timnas.
Nasib Pelatih dan Rencana PSSI
Sementara itu, Manajer Timnas Indonesia, Sumardji, menyatakan bahwa nasib Patrick Kluivert akan diputuskan dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI. “Kalau soal itu (masa depan Patrick Kluivert) nanti akan diputuskan dalam rapat Exco,” ujarnya.
Sumardji juga menegaskan akan menyampaikan segala evaluasi secara terbuka dan jujur tanpa menutup-nutupi kekurangan yang ada. Hal ini menjadi sinyal penting bagi publik dan penggemar sepak bola mengenai langkah berikutnya dari PSSI dalam menangani posisi pelatih Timnas.
Di sisi lain, desakan pemecatan Kluivert semakin kuat di media sosial dengan tagar #KluivertOut yang ramai diperbincangkan masyarakat. Tagar ini menjadi simbol kekecewaan besar masyarakat setelah kegagalan tim Garuda memastikan tempat di Piala Dunia.
Evaluasi Menyeluruh dan Tuntutan Transparansi
Kegagalan pada babak kualifikasi ini memicu dorongan bagi PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh elemen, mulai dari pelatih hingga manajemen tim dan kebijakan federasi. Kritik dari Rahim Soekasah adalah bagian dari suara luas yang menuntut transparansi dan profesionalisme dalam mengambil keputusan besar yang menyangkut prestasi nasional di bidang sepak bola.
Mengingat sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer dan sarat dengan harapan publik, setiap keputusan strategis dari PSSI akan terus menjadi sorotan penting dari berbagai kalangan, termasuk pengamat, pelatih, pemain, dan tentu saja para suporter.
Source: www.viva.co.id
