Pemecatan beruntun pelatih Timnas Indonesia menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk para pemain asing yang berkiprah dalam kompetisi Liga Indonesia. Roger Bonet, atau Ruxi, bek Madura United asal Spanyol, menyampaikan kritikan pedas terkait kebijakan PSSI yang dinilainya dapat merusak reputasi sepak bola Indonesia di mata pelatih top dunia.
Melalui akun media sosial pribadinya, Ruxi menegaskan bahwa pola pemecatan pelatih secara cepat dalam rentang waktu beberapa bulan akan membuat Indonesia kesulitan menarik juru taktik berkelas dunia pada masa mendatang. “Indonesia perlu menyadari bahwa jika pelatih terus dipecat setelah beberapa bulan saja, akan semakin sulit setiap tahunnya untuk menarik pelatih berkualitas,” tulis Ruxi.
Hal ini berkaitan erat dengan kisruh yang terjadi setelah pemecatan Patrick Kluivert dan jajaran staf pelatih asal Belanda pada Oktober 2025. Alex Pastoor, eks asisten pelatih yang ikut dipecat, mengungkapkan bahwa target yang dibebankan oleh PSSI tidak realistis mengingat posisi peringkat FIFA Indonesia yang berada di urutan 119 dunia. Ia menjelaskan bahwa proyek yang dijalankan seharusnya bersifat jangka panjang, bukan semata mengejar tiket ke Piala Dunia 2026.
Pastoor membeberkan tiga fokus utama yang menjadi mandat PSSI dalam proyek ini, yaitu membawa Timnas lolos ke Piala Dunia, mengembangkan pemain lokal untuk tim U-23 dan U-20, serta membangun fondasi yang kokoh untuk pembinaan pemain jangka panjang. Sayangnya, proyek ini gagal berjalan mulus karena penghentian kerja sama setelah kurang dari satu tahun.
Keraguan dan ketidakpastian juga muncul di kalangan pendukung dan pengamat setelah PSSI belum menentukan secara tegas sosok pengganti Kluivert. Nama-nama besar seperti Louis van Gaal, Shin Tae-yong, hingga Jesus Casas mencuat sebagai kandidat calon pelatih baru, namun belum ada keputusan resmi yang diumumkan.
Kritik Ruxi mencerminkan kekhawatiran mendalam mengenai strategi manajemen PSSI. Ia mengingatkan bahwa keputusan yang terkesan impulsif dan emosional dalam memberhentikan pelatih akan menjadi alat pendorong kontraproduktif bagi kemajuan sepak bola Indonesia. Stabilitas dan visi jangka panjang dinilai sangat krusial agar Timnas Indonesia bisa berkembang dan menarik minat pelatih kelas dunia.
Reaksi seperti ini bukan tanpa dasar mengingat sejarah pergantian pelatih yang terlalu cepat kerap menimbulkan ketidakpastian teknis dan psikologis bagi skuad Garuda. Situasi tersebut juga berpotensi merusak citra Indonesia di mata komunitas pelatih internasional yang menghargai kestabilan dan perencanaan strategis.
Di sisi lain, tokoh pelatih seperti Shin Tae-yong pernah memberikan pesan positif mengenai masa depan sepak bola Indonesia. Meski Timnas gagal lolos ke Piala Dunia 2026, Shin Tae-yong optimistis bahwa dengan persiapan yang matang dan kerja keras, Indonesia berpeluang besar mencapai Piala Dunia 2030. Pesan itu sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh elemen sepak bola Tanah Air untuk fokus membangun fondasi yang kuat, tanpa terjebak pada perubahan yang terburu-buru dan tidak terencana.
PSSI diharapkan dapat segera mengambil langkah lebih bijak dalam memilih pelatih baru serta mengedepankan pendekatan pembangunan berjangka panjang demi meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia. Hal ini penting agar negara ini tidak hanya menjadi pasar atau tempat transit pelatih asing, tetapi juga mampu mencetak prestasi yang konsisten dan berkelanjutan di kancah internasional.
Source: www.viva.co.id
