Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengumumkan kenaikan anggaran kontingen Indonesia untuk SEA Games 2025 di Thailand dari Rp10 miliar menjadi sekitar Rp60 miliar. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat persiapan 17 cabang olahraga unggulan yang masuk dalam roadmap baru menuju kompetisi regional yang akan digelar pada 9-20 Desember 2025 di tiga kota, yaitu Bangkok, Chonburi, dan Songkhla.
Dalam pertemuan dengan Pengurus Besar Akuatik Indonesia (PB AI) di kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat (24/10/2025), Erick Thohir menjelaskan bahwa kenaikan dana tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah atlet yang disiapkan dari sekitar 120 menjadi 700 sampai 900 orang. “Dari sisi pemerintah, dukungan anggaran juga meningkat signifikan, dari Rp10 miliar menjadi 60 miliar, dengan peningkatan jumlah atlet yang ikut dari 120 menjadi 700–900,” ujarnya.
Fokus pada Cabang Olahraga Unggulan
Erick menegaskan bahwa alokasi anggaran yang lebih besar ini dimaksudkan untuk memastikan pembinaan optimal pada cabang-cabang olahraga unggulan yang berpotensi membawa medali, sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas atlet. Pemerintah juga menegaskan komitmennya memberi perhatian lebih kepada cabang olahraga yang menunjukkan keseriusan dan hasil prestasi yang nyata. Sebaliknya, cabang yang tidak serius diprediksi akan mengalami penurunan prioritas dalam roadmap pembinaan.
“Dalam evaluasi nanti, akan ada pembagian antara yang didukung pemerintah dan yang mandiri. Kalau cabang yang mandiri ini perform dan keseriusannya serius, bisa masuk ke promosi. Sedangkan yang tidak serius, akan mengalami degradasi,” tutur Menpora.
Selain itu, Erick telah memberikan tenggat waktu tiga bulan untuk mengatasi permasalahan dualisme kepengurusan cabang olahraga. Hal ini dianggap penting agar roadmap 17 cabang olahraga tersebut berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik. Dalam konteks ini, Kemenpora juga telah berkoordinasi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) agar jadwal Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak bertabrakan dengan Olimpiade, demi memberikan ruang fokus bagi atlet terbaik nasional.
Cabang Akuatik Jadi Prioritas
Ketua Umum Pengurus Besar Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie, menyambut positif kenaikan anggaran dan strategi pemerintah ini. Ia menegaskan bahwa cabang olahraga akuatik — yang meliputi renang, loncat indah, polo air, renang perairan terbuka, dan renang indah — termasuk dalam sektor prioritas yang disiapkan secara jangka panjang untuk target Olimpiade 2028 dan 2032.
“Kami sangat bersemangat dan berkomitmen. Mudah-mudahan cabang olahraga mother sport, yaitu renang, bisa menjadi ladang medali bagi Indonesia di masa depan,” ujar Anindya. Upaya PB AI akan difokuskan pada pembinaan usia muda dan pengembangan atlet melalui pendidikan serta kompetisi internasional. Mereka juga berencana menjaring atlet muda yang berprestasi untuk disekolahkan di luar negeri guna memperkuat kompetensi.
Terkait target di SEA Games 2025, Anindya menyampaikan bahwa hal tersebut masih akan dibicarakan, meskipun mereka optimistis bisa menjaga prestasi atau bahkan meningkat dari capaian sebelumnya. “Targetnya minimal sama seperti sebelumnya, kalau bisa lebih baik. Kami optimistis karena para atlet terus berlatih dan berhasil memecahkan rekor nasional,” tambahnya.
Progres Pembinaan dan Verifikasi Cabang Olahraga
Erick juga mengungkapkan bahwa hasil verifikasi Kemenpora menunjukkan bahwa sebagian besar rencana pembinaan cabang olahraga berjalan sesuai target. Dari 10 cabang olahraga yang sudah diverifikasi, termasuk cabang akuatik, sekitar 70-80 persen kesepakatan pembinaan untuk SEA Games sudah tercapai.
“Kami sangat optimistis dengan persiapan yang berjalan, terutama untuk 17 cabang unggulan yang menjadi fokus pemerintah, agar bisa memberikan kontribusi maksimal di SEA Games 2025,” kata Menpora.
Dengan peningkatan dana dan perhatian lebih kepada cabang-cabang olahraga prioritas, pemerintah berharap Indonesia dapat mengoptimalkan potensi atletnya serta meraih prestasi memuaskan di ajang olahraga regional tersebut. Selain itu, tidak adanya dualisme pengurus di cabang olahraga diharapkan dapat memperlancar koordinasi dan pelaksanaan pembinaan atlet di masa mendatang.
Source: www.viva.co.id




