Gelandang Aston Villa, Amadou Onana, kembali menolak berlutut sebelum kick-off dalam pertandingan Liga Inggris melawan Manchester City di Villa Park, Minggu (26/10/2025). Momen ini terjadi pada rangkaian kampanye antirasisme “No Room for Racism” yang digelar Premier League sepanjang periode 18–26 Oktober 2025, dimana seluruh laga didedikasikan untuk mendorong kesadaran melawan diskriminasi rasial.
Onana memilih berdiri tegak saat sebagian besar pemain lain menjalani tradisi berlutut sebagai bentuk solidaritas menolak rasisme. Tindakan ini bukan kali pertama dilakukan oleh pemain berkebangsaan Belgia tersebut. Pada Februari 2023 saat masih berseragam Everton dalam laga derby melawan Liverpool, Onana juga menolak ikut berlutut. Sebagai gantinya, ia mengangkat tinju sebagai ekspresi pribadi dalam melawan rasisme.
Selain Onana, sejumlah pemain lain juga menunjukkan sikap berbeda terkait aksi berlutut di Liga Inggris musim ini. Misalnya, Dominic Calvert-Lewin dari Leeds United dan Crysencio Summerville dari West Ham United memilih untuk tidak berpartisipasi dalam ritual tersebut pada pekan sebelumnya. Leeds United secara resmi memberikan kebebasan kepada para pemain untuk menentukan sendiri apakah mereka ingin ikut berlutut atau tidak dalam setiap pertandingan kampanye antirasisme.
Keputusan Onana menolak berlutut menarik perhatian bila melihat latar belakangnya sebagai korban dari pelecehan rasial. Pada Agustus 2023, ia mengalami serangan komentar bernada rasis yang disebarkan melalui media sosial. Everton kala itu mengecam keras insiden tersebut dan berkolaborasi dengan pihak kepolisian Merseyside dalam penyelidikan kasus tersebut. Pernyataan dan langkah tegas klub tersebut mencerminkan upaya serius dalam menangani permasalahan diskriminasi di dunia sepak bola.
Kampanye “No Room for Racism” merupakan program tahunan Liga Inggris yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya dan dampak rasisme di sepak bola serta mendorong perubahan sosial. Selama periode kampanye, pemain, staf, dan suporter mengadakan berbagai aksi simbolis untuk menunjukkan dukungan terhadap keterbukaan dan keadilan. Meski demikian, tidak semua pihak setuju bahwa berlutut merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk melawan rasisme.
Perbedaan sikap para pemain terhadap ritual berlutut tersebut memunculkan diskusi lebih luas mengenai bentuk dukungan paling efektif dalam menghadapi isu diskriminasi. Beberapa berargumen bahwa tindakan simbolis bisa jadi kurang bermakna apabila tidak disertai langkah konkret. Sementara yang lain menganggap bahwa menghormati pilihan individual dan ekspresi alternatif juga penting dalam menangani masalah kompleks seperti rasisme di sepak bola.
Dalam pertandingan antara Aston Villa dan Manchester City tersebut, Onana tampil sebagai gelandang utama dan menunjukkan performa apik. Keputusan berlutut atau tidak tampaknya tidak mengganggu fokus pertandingan, yang tetap berjalan kompetitif dan penuh semangat. Premier League pun terus berupaya memfasilitasi dialog konstruktif antara pihak-pihak terkait guna menjaga integritas dan inklusivitas dalam sepak bola Inggris.
Berbagai upaya lain dalam Liga Inggris juga dijalankan untuk menekan angka kasus rasisme, seperti edukasi bagi klub dan suporter, pengawasan ketat terhadap kata-kata diskriminatif di stadion, hingga penerapan sanksi keras kepada pelaku pelecehan rasial. Pengalaman pribadi Onana sekaligus menjadi pengingat bahwa masalah ini masih nyata dan membutuhkan perhatian berkelanjutan dari seluruh elemen sepak bola.
Dengan semakin berkembangnya perdebatan tentang cara terbaik memerangi rasisme di sepak bola, perilaku pemain seperti Amadou Onana memperlihatkan bahwa simbol dan aksi bisa beragam dan personal. Upaya kolektif dan dialog terbuka diharapkan bisa menciptakan lingkungan olahraga yang lebih inklusif dan bebas dari segala bentuk diskriminasi, demi keberlangsungan sepak bola yang adil dan menghormati keberagaman.
Source: www.beritasatu.com




