Kehilangan pemain bintang kerap dianggap sebagai kemunduran besar bagi klub sepak bola. Namun, sejarah menunjukkan bahwa sejumlah klub top Eropa justru mampu bangkit dan tampil lebih hebat setelah melepas pemain andalan mereka. PSG dan empat klub elite Eropa lainnya menjadi contoh nyata bagaimana strategi jitu dalam pemanfaatan dana hasil penjualan pemain bintang berperan besar dalam transformasi kesuksesan.
Everton dan Kebangkitan Setelah Melepas Wayne Rooney
Pada tahun 2004, Everton melepas talenta muda Wayne Rooney ke Manchester United dengan harga rekor £25,6 juta. Meski kehilangan pemain terbaiknya, Everton tidak terpuruk. Manajer David Moyes memanfaatkan dana penjualan untuk merekrut beberapa pemain kunci seperti Tim Cahill dan Mikel Arteta. Dampaknya, Everton yang sebelumnya finis di peringkat 17 Liga Inggris berhasil melonjak ke posisi keempat pada musim 2004/2005 dan lolos ke kualifikasi Liga Champions. Kebangkitan ini menunjukkan bagaimana pengelolaan dana transfer yang tepat bisa mengubah nasib sebuah tim.
Inter Milan: Legenda Treble Usai Pelepasan Ibrahimovic
Inter Milan menjadi sorotan setelah melepas Zlatan Ibrahimovic ke Barcelona pada 2009. Dalam kesepakatan sebesar £40 juta plus Samuel Eto’o, Inter menggunakan dana tersebut untuk mendatangkan pemain-pemain seperti Wesley Sneijder, Lucio, Diego Milito, dan Thiago Motta. Paulo Mourinho memanfaatkan komposisi skuad baru ini dengan maksimal. Alhasil, pada musim tersebut Inter meraih treble winners: gelar Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions. Bahkan tim ini sukses menyingkirkan Barcelona milik Ibrahimovic di semifinal Liga Champions, membuktikan kekuatan kolektif lebih unggul dari sekadar kehadiran satu bintang.
Liverpool dan Revolusi Usai Penjualan Philippe Coutinho
Pada 2018, penjualan Philippe Coutinho ke Barcelona senilai £142 juta sempat memicu kekhawatiran para pendukung Liverpool. Namun manajer Jurgen Klopp memilih untuk tidak membeli langsung pengganti Coutinho, melainkan fokus memperkuat lini belakang. Bos asal Jerman ini mendatangkan Virgil van Dijk dengan biaya £75 juta dan kiper Alisson Becker seharga £67 juta. Dua transfer ini kemudian menjadi fondasi kokoh yang membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2018/2019 dan Premier League musim 2019/2020 — gelar pertama mereka dalam 30 tahun. Nama Coutinho pun kini sering dianggap sebagai katalis keberhasilan era baru Liverpool.
Leicester City dan Kesuksesan Setelah Menjual Harry Maguire
Penjualan Harry Maguire ke Manchester United dengan nilai rekor dunia £80 juta pada 2019 tidak membuat Leicester City melemah. Sebaliknya, dana besar itu dipakai untuk mempermanenkan pemain andalan seperti Youri Tielemans dan memperkuat skuad asuhan Brendan Rodgers. Dalam dua musim berikutnya, Leicester berhasil finis di lima besar Liga Inggris dan meraih trofi Piala FA 2021, sebuah prestasi luar biasa mengingat ini adalah gelar FA Cup pertama dalam sejarah klub. Kesuksesan ini menegaskan pentingnya perencanaan transfer yang matang dan investasi tepat sasaran.
PSG dan Transformasi Gemilang Pasca Kepergian Mbappé
Musim panas 2024 menandai kepergian Kylian Mbappé secara gratis ke Real Madrid. PSG, yang kehilangan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah mereka, tidak runtuh malah menunjukkan kekuatan baru. Pelatih Luis Enrique mengubah pendekatan taktis dengan memaksimalkan potensi kolektif. Ousmane Dembélé diubah perannya menjadi penyerang tengah, sedangkan Bradley Barcola, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia menjadi motor baru serangan PSG. Hasilnya fantastis: PSG berhasil meraih treble bersejarah dengan menjuarai Ligue 1, Coupe de France, dan yang paling ditunggu-tunggu, Liga Champions, usai menundukkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di final.
Kesuksesan kelima klub ini menggarisbawahi pelajaran penting dalam dunia sepak bola modern. Penjualan pemain bintang bukan selalu pertanda kemunduran, melainkan bisa menjadi peluang untuk membangun tim yang lebih solid dan berdaya saing tinggi. Pengelolaan dana transfer yang bijak dan pembentukan tim yang kuat secara kolektif menjadi pondasi utama keberhasilan mereka. Transformasi ini membuktikan bahwa kekuatan sebuah klub tidak lagi hanya bergantung pada satu pemain, tetapi pada strategi dan sinergi tim secara keseluruhan.
Source: www.suara.com




