Barcelona baru-baru ini menghadapi kritik tajam setelah mengunggah video yang menampilkan kunjungan mantan bek Bayern Muenchen dan timnas Jerman, Jerome Boateng, ke fasilitas latihan klub. Video tersebut memperlihatkan Boateng berinteraksi dengan penyerang Barcelona, Robert Lewandowski, menjelang pertandingan penting di stadion Nou Camp yang telah direnovasi.
Kritik mengemuka lantaran Boateng memiliki riwayat hukum terkait kekerasan fisik terhadap mantan pasangannya. Pada 2023, ia dijatuhi denda sebesar 200.000 euro yang ditangguhkan serta peringatan oleh pengadilan Muenchen, setelah terbukti bersalah atas tindakan kekerasan fisik yang direncanakan pada 2018. Namun, Boateng membantah melakukan kekerasan dan tengah mengajukan banding atas putusan tersebut.
Respons Resmi Barcelona
Menanggapi polemik ini, Barcelona menyatakan secara tegas bahwa Boateng tidak memiliki ikatan kontraktual maupun peran aktif di klub. Pernyataan resmi klub menegaskan bahwa kehadiran Boateng hanyalah kunjungan edukasional satu kali dalam rangka prosesnya mendapatkan lisensi kepelatihan. Klub juga menekankan bahwa kunjungan tersebut bukan merupakan undangan institusional untuk tugas olahraga atau representasi apapun dari pihak Barcelona.
Barcelona menegaskan kembali komitmennya dalam memerangi kekerasan berbasis gender. Mereka mengakui adanya sensitivitas di masyarakat terkait isu ini dan menyesalkan adanya persepsi inkonsistensi akibat tindakan mereka. Klub menambahkan bahwa penghormatan serta mengenang para perempuan korban kekerasan merupakan nilai dasar yang tak bisa ditawar dan tidak ada kejadian yang dimaksudkan melemahkan pesan tersebut.
Konteks Kunjungan Jerome Boateng
Kunjungan Boateng ke Ciutat Esportiva merupakan bagian dari langkahnya untuk memulai karier sebagai pelatih. Ia telah menyelesaikan lisensi kepelatihan UEFA B pada November 2024. Sebelumnya, pada bulan lalu, Boateng sempat membatalkan program magang di Bayern Muenchen akibat protes keras dari para fans. Kunjungan ke Barcelona ini dianggap sebagai bagian dari proses pendidikannya, meskipun menuai kritik.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Unggahan video kedatangan Boateng serta pengumuman klub terkait peringatan kekerasan terhadap perempuan menjadi kontroversial di media sosial. Banyak penggemar menyebut langkah klub sebagai “memalukan” dan “ironis” mengingat latar belakang hukum Boateng. Hening cipta satu menit yang dilakukan Barcelona memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan juga dianggap kurang sejalan dengan kehadiran mantan pemain tersebut.
Latar Belakang Kekerasan dan Kasus Hukum Jerome Boateng
Jerome Boateng terlibat dalam tiga sidang pengadilan terkait tuduhan kekerasan terhadap mantan pasangannya. Putusan hukum terakhir mengharuskan dia membayar denda dengan penangguhan serta mendapatkan peringatan resmi. Selain kasus tersebut, mantan pacar Boateng lainnya dilaporkan bunuh diri pada tahun 2021, di mana ia baru saja mengakhiri hubungan dengan sang pemain.
Pentingnya Komitmen Klub dalam Isu Kekerasan Berbasis Gender
Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi klub besar dalam menjaga reputasi dan nilai-nilai sosial, terutama menyangkut isu kekerasan berbasis gender. Barcelona berupaya menyeimbangkan dukungan terhadap pengembangan karier mantan pemain dengan tanggung jawab sosial mereka. Klub juga menggunakan momen tersebut untuk menegaskan dukungan mereka pada upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di ranah olahraga maupun masyarakat luas.
- Barcelona menegaskan tidak memiliki hubungan kontraktual dengan Boateng.
- Kunjungan Boateng bertujuan sebagai bagian proses lisensi kepelatihan.
- Klub tetap berkomitmen memerangi kekerasan berbasis gender.
- Kontroversi muncul akibat latar belakang hukum Boateng.
- Klub mengadakan hening cipta untuk memperingati korban kekerasan gender.
Sikap Barcelona dalam kasus ini menjadi contoh bagi klub-klub lain dalam menghadapi kritik publik dan menjaga sensitivitas isu sosial yang makin mendapatkan perhatian global. Proses transisi seorang atlet menjadi pelatih sering kali memerlukan strategi komunikasi yang matang agar tidak menimbulkan kontroversi yang merugikan citra institusi olahraga.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




