Perang harga mobil di Indonesia semakin sengit sepanjang 2024 dan 2025, khususnya di segmen SUV dan kendaraan elektrifikasi. Banyak merek besar menurunkan harga untuk meningkatkan daya saing dan menarik minat konsumen.
Namun, Jetour memilih jalur berbeda dan menolak ikut terlibat dalam fenomena perang harga ini. Vice President PT Jetour Sales Indonesia, Caroline Ling, menegaskan bahwa Jetour memiliki strategi penjualan yang berfokus pada nilai dan kualitas produk, bukan sekadar menurunkan harga.
Strategi Jetour dalam Persaingan Pasar
Caroline menjelaskan bahwa Jetour mengedepankan produk yang benar-benar sesuai kebutuhan konsumen Indonesia. Harga yang ditawarkan, seperti pada model PHEV, adalah harga indikatif dan bukan bentuk kompetisi banting harga.
"We always emphasize that Jetour does not engage in price wars," ujarnya saat ditemui di ICE BSD City, Tangerang pada 28 November 2025. Pernyataan ini menunjukkan sikap tegas Jetour untuk menjaga keberlanjutan bisnis tanpa merusak segmen pasar melalui perang harga yang merugikan.
Model Jetour T2 bermesin ICE menjadi contoh penghargaannya yang khusus untuk pasar Indonesia. Varian ini dipasarkan dengan harga terendah secara global sebagai bentuk apresiasi dan strategi penetrasi pasar. Caroline menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk ikut berlomba menurunkan harga secara agresif, melainkan memberikan alternatif terbaik bagi konsumen dalam segmen SUV.
Diferensiasi Produk dan Harga Kompetitif
Marketing Director PT Jetour Motor Indonesia, Moch. Ranggy Radiansyah, menambahkan bahwa Jetour menempatkan diferensiasi produk sebagai keunggulan utama. Perang harga memang mencerminkan pasar yang dinamis, tetapi bukan jalur yang ingin ditempuh Jetour.
“Jetour memilih untuk tidak terlibat dalam perang harga dan tetap menyajikan produk yang sepadan dengan nilai yang ditawarkan,” jelas Ranggy. Konsistensi dalam kualitas dan layanan menjadi fokus utama agar Jetour mampu bersaing secara sehat.
Jetour juga memberikan harga yang bersaing di Indonesia jika dibandingkan dengan pasar lain. Contohnya, harga Jetour di Meksiko bahkan bisa mencapai Rp600 jutaan, sementara harga indikatif di Malaysia lebih dari Rp700 juta. Penyesuaian harga khusus di Indonesia ini menjadi bentuk komitmen Jetour untuk mendukung pasar domestik tanpa mengorbankan standar kualitas.
Kondisi Pasar dan Tantangan Persaingan
Persaingan di segmen SUV di Indonesia terus meningkat dengan hadirnya beberapa pemain baru dan strategi agresif dari banyak merek. Fenomena perang harga semakin memperketat peluang untuk bisa bertahan di pasar tanpa strategi yang matang.
Strategi Jetour yang fokus pada kualitas produk dan layanan yang konsisten membantunya tetap eksis di tengah gempuran tren perang harga. Langkah ini berbeda dengan pendekatan pesaing yang berlomba menurunkan harga sehingga terkadang mengorbankan aspek kualitas dan layanan purna jual.
Fokus Pada Manfaat untuk Konsumen
Jetour berkomitmen untuk memberikan produk yang tidak hanya terjangkau tetapi juga memberikan manfaat signifikan kepada konsumen. Caroline menegaskan bahwa kualitas tidak boleh dikorbankan demi memenangkan persaingan harga. Hal ini penting agar nilai yang diterima pembeli benar-benar optimal dan berkelanjutan.
Dengan cara ini, Jetour berharap dapat membangun kepercayaan konsumen yang kuat dan mempertahankan eksistensinya di pasar Indonesia. Perusahaan melihat bahwa fokus pada diferensiasi produk dan kepuasan pelanggan adalah kunci keberhasilan jangka panjang.
Strategi Jetour ini menjadi jawaban terhadap tren perang harga mobil yang semakin marak. Pendekatan ini juga menunjukan bahwa tidak semua pemain otomotif harus terjebak dalam kompetisi harga yang ketat agar dapat bersaing secara sehat dan berkesinambungan.
