Hyundai saat ini tidak berada dalam posisi untuk membeli kembali pabrik otomotif miliknya yang pernah beroperasi di Rusia. Kondisi ini terjadi akibat konflik yang berkepanjangan di Ukraina serta sanksi ekonomi Barat yang belum dicabut. Informasi tersebut diungkapkan oleh sumber internal Hyundai yang memahami dinamika di balik keputusan ini.
Sebelumnya, Hyundai bersama afiliasinya, Kia, menjadi produsen mobil asing terbesar di Rusia. Namun, perusahaan asal Korea Selatan tersebut telah melepas kepemilikan penuh pabrik mereka di St. Petersburg kepada AGR Automotive Group. Transaksi itu dilakukan dengan nilai simbolis, hanya sekitar 140.000 won, dan disertai dengan klausul opsi beli kembali selama dua tahun yang bakal berakhir pada bulan depan.
Ketidakpastian Opsi Beli Kembali dan Pengaruh Konflik
Opsi pembelian kembali pabrik oleh Hyundai ini kini berada di ujung waktu, dan hingga saat ini belum ada keputusan final dari pihak perusahaan mengenai tindak lanjutnya. Hyundai mengungkapkan kepada Reuters bahwa keputusan akhir mengenai opsi tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Sementara itu, pihak AGR Automotive Group belum memberikan komentar terkait isu ini. Menurut sumber terkait, ketidakmampuan Hyundai menjalankan opsi beli ulang pabrik sangat erat berkaitan dengan situasi perang dan sanksi yang sedang berlangsung. Sumber tersebut menyebutkan, “Perangnya harus berakhir,” sebagai kunci utama teratas bagi Hyundai dapat kembali menimbang opsi tersebut.
Pabrik Asing dan Aset Otomotif di Rusia Pasca Perang
Kondisi geopolitik telah memaksa berbagai perusahaan otomotif asing meninggalkan pasar Rusia. Pabrik-pabrik yang mayoritas dibangun dengan investasi besar kini banyak yang beralih memproduksi merek Tiongkok atau bahkan merek lokal Rusia. Hyundai bukan satu-satunya yang menjual asetnya dengan harga sangat rendah disertai opsi beli kembali dengan batas waktu tertentu. Beberapa perusahaan otomotif global yang mengambil langkah serupa antara lain:
- Mazda Motor: Kehilangan hak beli kembali atas pabriknya pada Oktober setelah tidak menjalankan opsi terkait.
- Renault, Ford, Nissan, dan Mercedes-Benz: Memiliki periode opsi beli kembali yang berakhir antara beberapa tahun ke depan.
- Toyota dan Volkswagen: Menjual seluruh asetnya di Rusia tanpa menyertakan hak beli kembali sama sekali.
Saat Hyundai menjual pabriknya, perusahaan mencatat kerugian sebesar 287 miliar won akibat penjualan yang dilakukan dalam situasi sulit.
Dominasi Hyundai–Kia di Pasar Otomotif Rusia
Sebelum keluar dari pasar Rusia, Hyundai dan Kia memegang posisi penting sebagai pemain dominan. Kedua grup tersebut memiliki kapasitas untuk memproduksi lebih dari 200.000 unit mobil setiap tahunnya di pabrik St. Petersburg. Pada masa puncaknya, penjualan kolektif Hyundai dan Kia di Rusia mencapai lebih dari 400.000 unit. Itu setara dengan hampir seperempat jumlah seluruh mobil baru yang terjual di negara tersebut, menempatkan mereka di atas pemain lokal utama seperti Avtovaz. Separuh dari total penjualan mobil Hyundai dan Kia di Rusia diproduksi langsung dari fasilitas dalam negeri mereka.
Namun setelah gelombang sanksi Barat dan keluarnya produsen asing, pasokan kendaraan di Rusia kini didominasi merek-merek dari Tiongkok. Tahun ini saja, mobil asal Tiongkok yang terjual di Rusia hampir mencapai 1 juta unit dari total penjualan mobil sekitar 1,57 juta unit.
Perkembangan Sektoral Otomotif di Rusia
Pasar otomotif Rusia yang sebelumnya dianggap sangat menjanjikan di wilayah Eropa, kini sedang mencoba bangkit perlahan. Mayoritas pabrik bekas milik asing, termasuk pabrik Hyundai, telah beralih memproduksi kendaraan merek Tiongkok dengan branding lokal. Contohnya, pabrik Hyundai yang dulunya dikenal memproduksi model Solaris yang sangat populer, sekarang telah bergeser ke merk baru hasil aliansi Tiongkok–Rusia.
Kamera dunia tengah menyorot langkah Hyundai dan kemungkinan nasib opsi beli kembali aset otomotif mereka di Rusia. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan sanksi yang masih membelit, perusahaan otomotif luar mulai menata ulang strategi pasar dan portofolio aset global mereka.
Baca selengkapnya di: bisnisupdate.com