Advertisement

Dominasi BYD di Pasar Mobil Listrik, Tesla Lakukan Perubahan Strategi Besar

Produsen mobil listrik asal China, BYD, kembali mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar EV global. Sepanjang tahun, BYD berhasil menjual 2,26 juta unit kendaraan listrik di seluruh dunia. Angka ini mengungguli Tesla yang mencatat penjualan hanya 1,64 juta unit saja.

Keberhasilan BYD ini menarik perhatian mengingat mereka tidak berjualan di pasar Amerika Serikat yang cukup besar. Sementara itu, Tesla yang justru memasarkan produknya di China, mengalami penurunan penjualan hingga 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal terakhir, Tesla hanya terjual 418.227 unit, lebih rendah dari prediksi banyak analis.

Faktor Penurunan Penjualan Tesla

Tesla menghadapi berbagai tantangan yang berkontribusi pada penurunan penjualannya. Keputusan CEO Elon Musk untuk bergabung dengan pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai Menteri Efisiensi menyebabkan sentimen negatif dari konsumen. Pada masa jabatannya sebagai menteri, Musk memangkas sejumlah program dan pegawai negeri sebelum akhirnya mundur untuk kembali fokus mengawal Tesla.

Selain itu, penghentian insentif kredit pajak EV sebesar 7.500 dollar AS dari pemerintah Amerika Serikat turut menurunkan minat beli kendaraan Tesla. Meskipun Musk memiliki rencana strategis berupa pengembangan layanan robotaxi dan robot humanoid, langkah tersebut belum mampu mengangkat kinerja penjualan perusahaan.

Dominasi BYD dan Strategi Ekspansi

Didirikan pada 1995 sebagai pabrikan baterai, BYD kini mendominasi pasar domestik China yang merupakan pasar EV terbesar di dunia. Dengan pengalaman dan keunggulan di pasar dalam negeri, BYD mulai memperluas pasar internasional ke wilayah Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa. Strategi ini ditempuh untuk mengatasi tekanan persaingan dan marjin laba yang menyempit akibat perang tarif dengan AS.

BYD juga telah membuka pabrik di Indonesia dan Thailand. Hal ini menandai upaya mereka untuk terus memperkuat jaringan produksi dan pangsa pasar regional.

Strategi Tesla Menghadapi Persaingan

Meskipun menghadapi tekanan, Tesla mencoba mempertahankan posisi dengan menyesuaikan harga jual kendaraannya. Saat ini, Model Y dijual di bawah 40.000 dollar AS sementara Model 3 paling murah berada di angka kurang dari 37.000 dollar AS. Reduksi fitur pada model-model tersebut menjadi cara Tesla untuk bersaing dengan EV asal China dan Eropa.

Permasalahan Tesla juga terjadi di pasar Eropa karena sulitnya mendapatkan persetujuan regulasi terkait teknologi swakemudi. Namun, analis Wedbush Sekuritas, Dan Ives, memprediksi penjualan Tesla akan meningkat jika regulasi tersebut disetujui. Selain itu, pasar EV di negara-negara kecil mulai tumbuh dan menjadi alternatif di tengah penurunan pasar utama seperti China dan Eropa.

Peluang Bisnis dan Pengembangan Teknologi

Tesla tengah mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan otonom yang diprediksi membuka ceruk pasar senilai 1 triliun dollar AS. Ini merupakan fokus baru yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan di masa depan.

Di sisi lain, kehadiran deposit nikel yang melimpah di Indonesia, Filipina, dan beberapa negara Amerika Latin menjadi peluang penting. Bahan baku ini krusial untuk produksi baterai kendaraan listrik. Baik Tesla maupun BYD menunjukkan minat untuk membangun industri baterai dan rantai pasok global di kawasan ini.

Ringkasan Perbandingan Penjualan EV

Produsen Penjualan Tahun ini (unit) Penjualan Tahun lalu (unit) Perkembangan Penjualan
BYD 2,26 juta 1,76 juta Naik signifikan
Tesla 1,64 juta 1,79 juta Turun sekitar 8%

Meski Tesla masih menjadi ikon EV global, persaingan dengan produsen asal China seperti BYD semakin ketat. Langkah-langkah Tesla dengan harga kompetitif dan pengembangan teknologi otonom akan menentukan posisi mereka dalam pasar yang dinamis. Sementara itu, BYD terus menancapkan dominasinya di pasar utama dan ekspansi ke konsumen global, mempertegas statusnya sebagai ”raja” EV dunia saat ini.

Baca selengkapnya di: www.kompas.id

Berita Terkait

Back to top button