Penipuan jual mobil bekas lewat Facebook masih menjadi ancaman serius bagi banyak pengguna. Kasus terbaru menunjukkan modus yang semakin canggih dan terencana dengan baik. Pelaku penipuan memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap akun yang tampak asli dan sudah lama aktif.
Biasanya, pelaku membuat unggahan bernuansa emosional. Mereka mengaku sedang menghadapi situasi darurat seperti keluarga sakit keras atau harus pindah rumah dengan cepat. Cerita sedih tersebut menjadi alasan yang efektif untuk memancing empati calon korban.
Dalam postingan, pelaku menawarkan mobil bekas dengan harga sangat murah. Mobil yang dipajang terlihat mulus dan kondisi prima, sehingga calon pembeli sulit menolak tawaran tersebut. Harga rendah ini sengaja dipasang agar cepat menarik perhatian.
Kepercayaan semakin tinggi karena akun yang digunakan bukan akun palsu. Pelaku melakukan peretasan pada akun asli pengguna Facebook. Setelah akun diretas, pemilik asli kehilangan akses, sementara pelaku menggunakan identitas tersebut untuk berkomunikasi.
Saat calon pembeli menunjukkan minat, pelaku langsung mengarahkan percakapan ke pesan pribadi. Di sana, korban diminta mengirim uang tanda jadi. Alasannya, mobil banyak peminat sehingga harus segera mengamankan transaksi.
Metode pembayaran yang dipilih biasanya melalui transfer instan atau dompet digital. Cara ini dipilih karena sulit dilacak dan transaksinya tidak bisa dibatalkan. Pelaku meyakinkan korban bahwa uang tanda jadi akan dikembalikan jika terjadi pembatalan.
Pelaku juga menggunakan alasan klasik untuk menghindari komunikasi langsung. Mereka mengaku sedang berada di luar kota, rumah sakit, atau sulit menerima panggilan telepon. Cara ini digunakan agar korban tidak sempat curiga dan berpikir ulang.
Setelah uang terkirim, penjual mendadak menghilang. Pesan yang dikirim korban tidak dibalas dan nomor telepon diblokir. Unggahan penipuan tetap dibiarkan aktif di Facebook untuk menjaring korban baru.
Penanganan pengaduan terhadap unggahan penipuan ini terbilang lambat. Meski sudah banyak dilaporkan, konten tersebut sering tidak segera dihapus. Akibatnya, satu unggahan bisa menipu beberapa korban sekaligus dengan kerugian mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Kasus penipuan seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan laporan Carscoops pada Januari 2026, pola modusnya hampir sama di berbagai negara. Cerita yang digunakan, harga mobil, dan metode pembayaran yang diminta serupa, menandakan modus ini sudah menjadi jaringan internasional.
Untuk menghindari penipuan, masyarakat perlu lebih waspada. Jangan mudah percaya pada tawaran harga mobil yang jauh di bawah pasaran. Cerita sedih penjual sebaiknya tidak dijadikan alasan transaksi terburu-buru.
Langkah paling aman adalah mengonfirmasi identitas penjual secara langsung. Jika memungkinkan, hubungi pemilik akun melalui jalur komunikasi lain atau minta verifikasi melalui teman-teman yang mengenal si penjual. Jangan kirim uang sebelum memastikan keaslian penjual.
Jika transaksi tidak memungkinkan bertemu langsung dan memeriksa kendaraan, lebih baik urungkan niat membeli. Harga murah tidak sebanding dengan risiko kehilangan uang akibat penipuan digital.
Berikut beberapa tips agar terhindar dari penipuan jual beli mobil bekas di Facebook:
1. Selalu verifikasi identitas penjual secara langsung.
2. Hindari transaksi jika hanya dilakukan lewat pesan pribadi.
3. Cek riwayat akun Facebook penjual dan aktivitasnya.
4. Jangan tergiur harga yang terlalu murah dari nilai pasar.
5. Gunakan metode pembayaran yang dapat dilacak dan batalkan jika perlu.
6. Waspadai cerita yang terlalu emosional dan terburu-buru.
7. Laporkan akun atau postingan mencurigakan ke pihak Facebook.
Walaupun media sosial memudahkan transaksi, kehati-hatian tetap harus menjadi prioritas. Penipuan digital yang memanfaatkan platform Facebook dapat menyebabkan kerugian besar bagi korban. Oleh karena itu, penting untuk selalu waspada dan melakukan verifikasi sebelum melakukan pembayaran dalam jual beli mobil bekas secara online.





