China menghadapi tantangan serius di industri kendaraan listrik (EV) akibat melonjaknya harga logam dan chip memori. Kenaikan biaya ini berdampak pada profitabilitas produsen, sekaligus membebani konsumen yang kini juga harus membayar pajak pembelian 5%.
Menurut analis UBS, Paul Gong dan timnya, sejak awal tahun ini terjadi kombinasi negatif berupa berakhirnya stimulus pemerintah, penerapan pajak pembelian, serta inflasi harga komoditas. Semua ini membuat industri EV sulit menyerap kenaikan biaya produksi. UBS memperkirakan biaya sebuah EV pintar berukuran sedang naik antara RMB 4,000 hingga RMB 7,000, atau setara sekitar $575.
Kenaikan Harga Logam dan Memori
Dalam riset UBS, pembuatan satu EV ukuran sedang mengonsumsi sekitar 200 kilogram aluminium dan 80 kilogram tembaga. Dalam tiga bulan terakhir, harga aluminium naik RMB 600, tembaga naik RMB 1,200, dan lithium naik antara RMB 1,000 hingga RMB 3,800. Kenaikan harga lithium karbonat sangat signifikan, mencapai 80% hanya dalam dua bulan terakhir.
Selain logam, chip memori DRAM juga menjadi dorongan biaya penting. Harga spot DRAM untuk kendaraan modern melonjak 180%, dari RMB 700 menjadi RMB 2,000 per unit. Harga ini mewakili tambahan biaya sekitar RMB 1,300 untuk tiap EV. Produsen kendaraan harus bersaing dengan sektor pusat data dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang juga sangat membutuhkan memori.
Dampak bagi Produsen dan Konsumen
UBS menegaskan bahwa bila kenaikan biaya ini sepenuhnya ditanggung produsen, maka margin keuntungan bisa habis sama sekali. Industri EV saat ini sudah berkompetisi ketat dengan margin tipis. Riset UBS juga menyebut bahwa secara historis, ketika seluruh pelaku industri menghadapi kenaikan bahan baku, tarif pengalihan biaya ke konsumen cenderung tinggi.
Namun, situasi kini kompleks karena permintaan EV melemah seiring berakhirnya insentif stimulus dan adanya pajak pembelian baru. Belum jelas bagaimana dampak biaya tersebut akan dibagi antara pemasok, produsen, dan konsumen. Situasi ini membuat pasar EV China harus berhati-hati dalam mengatur harga dan produksi.
William Li, pendiri dan CEO Nio, juga mengakui bahwa kenaikan harga bahan baku dan chip memori menjadi tekanan besar di pasar. Pada briefing media awal Januari, ia menyoroti persaingan sumber daya chip memori antara produsen EV dan sektor AI yang tengah berkembang pesat.
Prospek Pasokan dan Permintaan
UBS menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kenaikan harga bisa mendorong pemasok menambah kapasitas produksi, atau justru menekan permintaan sehingga harga bahan baku tidak terus melonjak. Namun, dalam jangka pendek, kondisi ini menambah tantangan signifikan bagi pengembangan industri EV China.
Penting untuk dicermati, harga lithium karbonat baterai di pasar spot China terus bergerak naik, mencapai RMB 175,250 per ton pada akhir Januari. Harga ini naik tajam dari sekitar RMB 75,700 per ton di awal tahun. Komponen ini sangat krusial karena hampir semua EV saat ini menggunakan baterai lithium-ion.
Tabel Ringkasan Kenaikan Harga Bahan Baku Utama
| Bahan Baku | Kenaikan Harga (RMB) | Keterangan |
|---|---|---|
| Aluminium | +600 | untuk 200 kg per EV |
| Tembaga | +1,200 | untuk 80 kg per EV |
| Lithium | +1,000 – +3,800 | Lithium karbonat baterai |
| DRAM | +1,300 | Kenaikan per unit DRAM |
Dengan situasi biaya produksi yang terus meningkat dan ketidakpastian permintaan, produsen kendaraan listrik di China menghadapi tekanan besar untuk menyeimbangkan harga jual tanpa mengorbankan margin keuntungan. Hal ini memunculkan tantangan strategis mendalam dalam mengelola rantai pasokan dan harga produk.
Perubahan kebijakan fiskal dan pasar global, ditambah kompetisi dari sektor teknologi canggih, memengaruhi dinamika harga komoditas penting untuk industri EV. Pengamat industri menyarankan agar produsen memperhatikan perkembangan harga bahan baku secara real time dan melakukan penyesuaian produksi agar tetap kompetitif.
Di tengah tantangan ini, produsen kendaraan listrik perlu mengembangkan strategi yang adaptif terhadap fluktuasi harga bahan baku dan teknologi, sambil mengawasi respons konsumen terhadap penyesuaian harga. Industri EV China akan menjadi barometer penting bagi pasar kendaraan ramah lingkungan global.





