Pemerintah Afrika Selatan tengah mempertimbangkan penerapan tarif hingga 50% pada kendaraan yang diimpor dari China dan India. Kebijakan ini muncul sebagai upaya melindungi sektor manufaktur otomotif domestik yang mengalami tekanan akibat lonjakan impor.
Data menunjukkan bahwa impor kendaraan dari China ke Afrika Selatan meningkat drastis sebesar 368% dalam empat tahun terakhir. Sedangkan impor kendaraan dari India juga tumbuh signifikan, mencapai 135% selama periode yang sama.
Alasan Pengenaan Tarif Tinggi
Departemen Perdagangan, Industri, dan Kompetisi Afrika Selatan sedang melakukan tinjauan internal untuk mengevaluasi langkah-langkah pengendalian impor. Menurut Ayabonga Cawe, Komisaris International Trade Administration Commission, tarif impor kendaraan penumpang yang sudah dirakit utuh saat ini sekitar 25%, namun batas maksimum tarif yang diizinkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) adalah 50%.
Ia menambahkan, ada peluang untuk menaikkan tarif komponen kendaraan dari kisaran 10%-12%, tergantung pada negara asal impor. Kebijakan ini bertujuan menyamakan tarif impor sesuai standar WTO yang mengadopsi prinsip perdagangan negara paling diuntungkan (most-favored-nation).
Dampak Lonjakan Impor Kendaraan
Pada tahun 2025, kendaraan dari China dan India masing-masing menyumbang 53% dan 22% dari total impor kendaraan Afrika Selatan. Kompetisi paling ketat terjadi di segmen pasar kendaraan entry-level, di mana produk impor berbiaya rendah menekan margin keuntungan produsen lokal.
Penetrasi merek mobil China semakin meningkat di negara tersebut. Laporan riset dari Deutsche Bank menunjukkan bahwa merek seperti Chery dan Great Wall Motors (GWM) mendominasi pasar dengan kehadiran operasional yang kuat dan pertumbuhan penjualan yang pesat.
Pertumbuhan Penjualan Kendaraan di Afrika Selatan
Data penjualan kendaraan di Afrika Selatan mencatat pertumbuhan positif. Pada Desember, penjualan kendaraan naik 19% secara tahunan menjadi 48.983 unit. Sehingga, total penjualan kendaraan sepanjang 2025 mengalami kenaikan 16%, mencapai 596.856 unit.
Chery berhasil menjual 46.887 unit kendaraan pada 2025, melonjak hampir dua kali lipat atau 98% dari tahun sebelumnya. GWM juga mencatat peningkatan penjualan sebesar 45,3% dengan total 27.243 unit terjual. Data ini dirilis oleh perusahaan riset pasar MarkLines.
Akuisisi Fasilitas Produksi Nissan oleh Chery
Pada tanggal 23 Januari lalu, Nissan mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Chery untuk akuisisi aset produksi di Rosslyn, Pretoria. Chery akan mengambil alih lahan, bangunan, serta fasilitas produksi Nissan dan stamping yang bersebelahan sekitar pertengahan tahun ini.
Langkah ini menandai penguatan posisi merek China pada pasar otomotif Afrika Selatan serta sebagai respons terhadap dinamika global perlindungan industri dalam negeri. Kebijakan tarif tinggi dianggap perlu untuk menjaga kelangsungan produsen lokal yang terdampak kompetisi tenaga murah dari kendaraan impor.
Data Tarif dan Impor Kendaraan
| Aspek | Data/Informasi |
|---|---|
| Tarif impor kendaraan saat ini | Sekitar 25% |
| Tarif impor maksimum WTO | 50% |
| Peningkatan impor kendaraan China | 368% dalam 4 tahun |
| Peningkatan impor kendaraan India | 135% dalam 4 tahun |
| Pangsa impor kendaraan 2025 | China 53%, India 22% |
| Penjualan Chery 2025 | 46.887 unit, naik 98% |
| Penjualan GWM 2025 | 27.243 unit, naik 45,3% |
Kebijakan penyesuaian tarif ini menjadi peluang sekaligus tantangan untuk industri otomotif Afrika Selatan. Pemerintah berupaya mencari keseimbangan antara membuka akses pasar dan melindungi produsen lokal dari serbuan barang impor yang meningkat pesat dari negara-negara Asia, khususnya China dan India.





