
Honda mengejutkan dunia otomotif dengan keputusan menghentikan produksi CR-V e:FCEV, varian SUV berbahan bakar hidrogen yang menjadi bagian dari strategi elektrifikasi jangka panjang pabrikan asal Jepang tersebut. Penghentian ini dilakukan setelah stok sistem sel bahan bakar yang dibuat secara patungan dengan General Motors habis, sebagai dampak dari rencana penghentian produksi Fuel Cell System Manufacturing (FCSM) pada akhir tahun 2025.
Penghentian Produksi CR-V e:FCEV dan Dampaknya
CR-V e:FCEV adalah satu-satunya SUV hidrogen Honda yang selama ini menggunakan sel bahan bakar dari FCSM sebagai sumber tenaga. Dalam pernyataan resmi, Honda menyebutkan bahwa produksi model ini akan berlanjut di Performance Manufacturing Center di Ohio (AS) hanya sampai stok sel bahan bakar yang tersedia habis atau dialokasikan untuk keperluan lain. Setelah itu, produksi CR-V e:FCEV akan resmi dihentikan, menyusul langkah sebelumnya yang telah menghentikan Honda Clarity Fuel Cell.
Meski belum ada tanggal pasti untuk penghentian total, Honda memastikan model ini masih bisa disewa oleh konsumen di California, yang memang menjadi satu-satunya wilayah pemasaran resmi CR-V e:FCEV sejak peluncurannya pada 2024. Skema sewa selama tiga tahun ditawarkan dengan tarif bulanan USD 459, uang muka USD 2.959, serta kredit bahan bakar hidrogen senilai USD 15.000 untuk mendukung penggunaan kendaraan berbahan bakar hidrogen.
Tantangan Pasar Kendaraan Hidrogen
Penjualan dan penyewaan CR-V e:FCEV yang mencapai sekitar 200 unit terbilang kecil jika dibandingkan dengan target pasar mobil listrik konvensional. Kondisi ini juga dialami Toyota dengan model FCEV mereka, Mirai, yang hanya berhasil menjual sekitar 210 unit sepanjang tahun 2025. Angka tersebut memperlihatkan masih terbatasnya adopsi kendaraan hidrogen di pasar global, yang disebabkan oleh infrastruktur pengisian bahan bakar hidrogen yang sangat terbatas serta harga kendaraan yang relatif tinggi.
Honda CR-V e:FCEV sendiri mengusung teknologi kombinasi antara sel bahan bakar hidrogen dan plug-in hybrid. Mobil ini memiliki baterai berkapasitas 17,7 kWh serta tangki hidrogen berisi 4,3 kg. Tenaga maksimal yang mampu dihasilkan motor listrik depan adalah 174 HP dengan torsi puncak sebesar 310 Nm. Performa tersebut memungkinkan jangkauan total sekitar 435 km, dengan jarak tempuh listrik murni mencapai 47 km yang membantu mengurangi konsumsi hidrogen.
Fitur yang dihadirkan juga cukup lengkap, mulai dari pintu bagasi elektrik, velg 18 inci, jok kulit, hingga sistem audio premium Bose dengan 12 speaker. Panel instrumen digital 10,2 inci dan layar infotainment 9 inci juga disematkan sebagai standar kemewahan dan kenyamanan pada CR-V hidrogen ini.
Masa Depan Teknologi Hidrogen Honda
Walaupun produksi CR-V e:FCEV dihentikan, Honda menegaskan tidak meninggalkan pengembangan teknologi hidrogen sama sekali. Perusahaan tengah mengerjakan sel bahan bakar generasi terbaru secara mandiri sebagai bagian dari inovasi teknologi masa depan. Sel bahan bakar terbaru ini nantinya akan digunakan untuk memperluas peluang bisnis kendaraan hidrogen, yang dianggap sebagai salah satu bisnis inti baru Honda.
Selain itu, fasilitas Performance Manufacturing Center di Ohio yang sebelumnya memproduksi CR-V e:FCEV dan Acura NSX akan dialihkan fungsinya untuk memproduksi kendaraan listrik niaga bernama Fastport eQuad. Langkah ini menunjukkan transformasi strategi Honda dalam menghadapi masa depan kendaraan ramah lingkungan yang lebih beragam.
Apakah Ini Tanda Tamatnya Era Hidrogen?
Penghentian produksi CR-V e:FCEV memang menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan mobil hidrogen. Namun, penurunan produksi ini lebih kepada restrukturisasi strategi teknologi Honda serta keterbatasan infrastruktur dan pasar untuk teknologi fuel cell saat ini. Meskipun demikian, Honda dan beberapa produsen lain masih terus mengembangkan teknologi hidrogen dan mencoba membawa inovasi baru ke pasar.
Adopsi kendaraan hidrogen masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketersediaan stasiun pengisian hidrogen hingga biaya produksi yang tinggi. Hal ini menjadi faktor utama mengapa kendaraan listrik berbasis baterai saat ini lebih diminati di pasar global. Namun, ketahanan material dan efisiensi pengisian cepat pada mobil hidrogen membuat teknologi ini tetap menarik sebagai alternatif jangka panjang.
Honda sendiri berupaya menjalankan pendekatan beragam, dengan mengembangkan teknologi hybrid, listrik baterai, serta hidrogen. Langkah berhentinya CR-V e:FCEV bukan berarti teknologi hidrogen akan hilang, melainkan transformasi untuk menghadirkan inovasi yang lebih efisien dan berkelanjutan di masa depan.





