China resmi memberlakukan standar nasional pertama yang mewajibkan sistem bantuan pengemudi dalam kendaraan penumpang ringan. Mulai 1 Januari 2028, semua kendaraan ringan wajib dilengkapi sistem pengereman darurat otomatis atau Automatic Emergency Braking (AEB) sebagai perlengkapan standar.
Sistem AEB berfungsi memantau lingkungan di depan kendaraan secara real-time untuk mendeteksi potensi tabrakan. Saat risiko tabrakan muncul, sistem ini akan memberikan sinyal peringatan dan secara otomatis mengaktifkan pengereman guna mencegah atau mengurangi dampak tabrakan.
Dari Pilihan Menjadi Kewajiban
Sebelumnya, pemasangan sistem AEB hanya bersifat opsional di kendaraan ringan. Namun, setelah revisi standar teknis yang ditetapkan oleh Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) pada Desember lalu, sistem AEB menjadi perlengkapan wajib. Hal ini tercantum dalam standar nasional GB 39901—2025 mengenai persyaratan teknis dan metode pengujian sistem pengereman darurat tingkat lanjut untuk kendaraan ringan.
Peralihan ini menandai langkah signifikan China dalam memperkuat keselamatan berkendara di era elektrifikasi otomotif yang tengah berlangsung pesat. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen mobil di negara ini sudah mengadopsi AEB sebagai fitur standar pada model baru mereka.
Statistik dan Pencapaian Implementasi
Data MIIT menunjukkan bahwa pada 2025, 64% kendaraan penumpang baru yang dijual di China sudah dilengkapi dengan fungsi bantuan pengemudi termasuk sistem AEB. Transportasi yang lebih aman menjadi tujuan utama kebijakan tersebut mengingat angka kecelakaan lalu lintas yang masih menjadi perhatian.
Mekanisme kerja sistem AEB diatur untuk berfungsi optimal pada kecepatan antara 10 hingga 80 km/jam. Standar ini berlaku untuk berbagai jenis kendaraan penumpang, mulai dari sedan, SUV, hingga MPV, dengan syarat sistem secara otomatis dapat mengaktifkan pengereman darurat dalam kisaran kecepatan tersebut.
Batasan dan Peran Pengemudi
MIIT juga menegaskan bahwa sistem AEB memiliki batasan teknis tertentu. Sistem ini dirancang hanya sebagai alat bantu darurat, bukan pengganti tanggung jawab pengemudi selama berkendara. Pengemudi diharuskan memahami keterbatasan teknologi ini agar tidak menimbulkan rasa percaya berlebihan yang dapat membahayakan keselamatan.
Meski begitu, teknologi AEB terus mengalami pengembangan. Beberapa pabrikan, seperti Nio Inc, telah memperkenalkan versi AEB yang dioptimalkan dengan kecerdasan buatan. Pembaruan perangkat lunak ini memungkinkan sistem AEB beroperasi lebih efisien dalam mengenali situasi berbahaya.
Selain itu, ada pula pengembangan kemampuan sistem AEB yang dapat diaktifkan pada kecepatan lebih tinggi, mencapai hingga 150 km/jam. Inovasi ini menandai tren peningkatan teknologi bantuan pengemudi di pasar otomotif global yang juga diaplikasikan di China.
Dampak Kebijakan Standar Baru
Penerapan standar wajib sistem AEB menjadi titik balik penting dalam regulasi keselamatan kendaraan di China. Hal ini diharapkan bisa menurunkan angka kecelakaan akibat tabrakan depan dan memberikan perlindungan lebih besar bagi pengemudi serta penumpang.
Kebijakan ini juga mendorong produsen kendaraan untuk lebih serius mengintegrasikan teknologi keselamatan canggih dalam produk mereka. Pasar kendaraan ringan di China pun akan semakin kompetitif dengan keberadaan fitur keselamatan mutakhir sebagai standar.
Berikut beberapa poin kunci dari standar baru ini:
- Berlaku untuk kendaraan ringan penumpang, termasuk sedan, SUV, dan MPV.
- Wajib memiliki sistem AEB yang aktif antara kecepatan 10-80 km/jam.
- Sistem memantau lingkungan depan secara terus-menerus dan otomatis mengaktifkan pengereman darurat.
- Pengemudi tetap harus bertanggung jawab dan tidak boleh mengandalkan sepenuhnya pada AEB.
- Progres teknologi memungkinkan aktivasi AEB pada kecepatan lebih tinggi hingga 150 km/jam.
Langkah ini memperkuat posisi China sebagai salah satu negara yang serius mengangkat standar keselamatan kendaraan. Integrasi sistem pengereman darurat otomatis sebagai fitur wajib menandai kemajuan dalam mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya. Implementasi yang efektif tentunya membutuhkan edukasi pengemudi agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan aman.






