Beberapa dealer Audi di China mulai menutup operasionalnya secara mendadak akibat tekanan penurunan penjualan yang cukup signifikan. Penurunan ini juga berdampak pada margin keuntungan dan menyebabkan sejumlah dealer menghentikan izin usaha di berbagai provinsi, seperti Henan, Guangxi, Beijing, dan Zhejiang.
Pada Januari, pemilik dealer Audi Kaifeng Jin’ao melaporkan penutupan toko tanpa pemberitahuan resmi. Paket perawatan multi-tahun yang dibeli dengan harga antara 16.800 hingga 18.800 yuan tidak dapat dimanfaatkan. Kondisi ini memicu ketidakpuasan pelanggan serta karyawan dealer yang menuntut pembayaran upah yang belum diterima.
FAW-Audi, perusahaan patungan yang mengelola merek Audi di China, menyatakan bahwa dealer Kaifeng Jin’ao resmi menarik diri dari jaringan mereka sejak November tahun lalu. Pihak FAW-Audi mengimbau para pelanggan untuk menghubungi dealer secara langsung atau menempuh jalur hukum terkait persoalan yang terjadi.
Data penjualan Audi di China menunjukkan tren penurunan selama dua tahun berturut-turut. Pada 2025, penjualan menurun 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan total 617.500 unit terjual. Sementara itu, segmen kendaraan mewah berbahan bakar bensin tetap menjadi tulang punggung pasar Audi di China.
FAW-Audi menginformasikan bahwa penjualan kendaraan berbahan bensin di China pada 2024 mencapai 611.100 unit. Namun, di tahun berikutnya penjualan model bensin mengalami penurunan 6,7 persen menjadi 570.100 unit. Kondisi pasar yang melemah menjadi tantangan utama bagi jaringan dealer Audi.
Penurunan penjualan ini membuat Audi harus memberlakukan diskon besar untuk beberapa model andalan. Contohnya, harga Audi A3 2026 kini tersedia mulai 106.700 yuan dengan potongan harga hingga 40 persen. Model listrik juga tidak lepas dari diskon yang cukup dalam.
Audi Q3 dan Q4 e-tron ditawarkan dengan harga 131.800 yuan dan 157.900 yuan, yang masing-masing mendapatkan diskon sebesar 50 persen. Penurunan harga ini diharapkan mampu menarik minat konsumen dan membantu penjualan tetap stabil meski pasar menunjukkan tren melemah.
Di sisi lain, Audi berencana untuk memperkenalkan produk baru guna memperbaiki posisi mereka di pasar otomotif China. Pada akhir tahun, FAW-Audi akan meluncurkan Audi A6L terbaru serta Audi A6L e-tron, sedan listrik pertama yang dibangun di atas platform Premium Platform Electric (PPE) khusus untuk pasar China.
Peluncuran model-model baru ini diharapkan dapat mengembalikan daya tarik Audi di tahun-tahun mendatang. Kendaraan listrik menjadi fokus utama karena tren global dan kebutuhan konsumen yang semakin mendukung produk ramah lingkungan.
Secara global, Audi tetap mencatat pengiriman kendaraan yang cukup tinggi meski ada penurunan sekitar 3 persen menjadi lebih dari 1,6 juta unit pada tahun 2025. Penjualan mobil listrik malah menunjukkan kenaikan signifikan mencapai 223.000 unit atau naik 36 persen dari sebelumnya.
Pasar Eropa dan Jerman menunjukkan stabilitas penjualan yang baik. Namun, di pasar seperti China dan Amerika Utara, Audi menghadapi tantangan besar akibat persaingan ketat dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Hal ini turut memengaruhi performa dealer dan penjualan secara keseluruhan.
Penutupan dealer Audi di China merupakan dampak nyata dari dinamika pasar otomotif yang terus berubah. Tekanan penjualan, margin keuntungan menipis, serta pergeseran selera konsumen menjadi faktor utama yang menyebabkan sejumlah dealer terpaksa menghentikan operasionalnya.
Strategi diskon besar dan peluncuran model baru menjadi langkah Audi untuk mempertahankan eksistensi di pasar China. Namun, keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada respons konsumen dan perkembangan situasi ekonomi ke depan.






