Insentif BEV Terancam Disetop 2026, Ini 3 Skenario dan Dampak Besar Industri Otomotif Nasional

Industri otomotif nasional kini menghadapi tantangan besar seiring berakhirnya insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Pemerintah belum menetapkan skema insentif pengganti, sehingga para pelaku industri harus bersiap menghadapi perubahan yang dapat memengaruhi harga jual dan daya beli masyarakat.

Pengamat ekonomi Josua Pardede memaparkan tiga skenario yang berpotensi terjadi pada 2026 terkait insentif BEV dalam Dialog Industri Otomotif Nasional saat IIMS 2026.

Skenario Penghentian Seluruh Insentif

Skenario pertama adalah penghentian semua insentif tanpa adanya perpanjangan. Pajak-pajak seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), bea impor, dan Pengembalian Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) akan kembali ke tarif normal. Kondisi ini diperkirakan membuat harga jual kendaraan listrik meningkat signifikan.

Kenaikan harga ini berpotensi menekan penjualan, terutama di tengah tren pelemahan permintaan domestik. Josua menilai, jika insentif tak berlanjut, tekanan pada penjualan kendaraan tahun ini akan semakin besar. "Kalau sekiranya insentif ini tidak berlanjut, tentunya ini akan cukup berpengaruh terhadap kinerja penjualan otomotif di tahun ini," ujarnya di Jakarta.

Skenario Perpanjangan Seluruh Insentif

Skenario kedua adalah melanjutkan seluruh insentif yang selama ini diberikan. Secara teori, langkah ini dapat mengurangi tekanan pasar dan menjaga stabilitas penjualan otomotif nasional. Namun, menurut Josua, peluangnya sangat kecil.

Situasi fiskal menjadi alasan utama kecilnya kemungkinan perpanjangan. Realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun lalu mencatat defisit mendekati 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, target penerimaan pajak tahun ini dipatok tinggi di angka 13 persen. Belanja pemerintah juga tetap besar demi mendukung program prioritas nasional.

Josua menjelaskan, pemerintah perlu memandang kondisi ini dengan perspektif menyeluruh. "Dari sisi insentif fiskal, ini pasti akan terus dikaji oleh Kementerian Keuangan, seberapa produktif dan bagaimana dampaknya terhadap ekonomi riil Indonesia," tuturnya.

Skenario Perpanjangan Insentif Sebagian atau Terarah

Skenario ketiga dianggap sebagai opsi paling realistis oleh Josua. Pemerintah dapat memperpanjang insentif tetapi dalam bentuk lebih terbatas atau diarahkan secara spesifik. Insentif bisa diberikan untuk pembelian mobil pertama atau hanya untuk produsen yang memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertentu.

Model ini dianggap sebagai win-win solution yang sekaligus menjaga volume penjualan tanpa membebani fiskal secara berlebihan. "Itu yang memang kita lihat secara umum mungkin bisa menjadi win-win solution," katanya.

Dinamika Produksi dan Ekspor

Selain tantangan internal, industri otomotif nasional juga menghadapi dinamika produksi dan ekspor. Penjualan domestik sepanjang 2025 sempat terkontraksi 7,2 persen secara tahunan. Namun, produksi kendaraan relatif terkendali sehingga tidak mengalami penurunan drastis.

Ekspor menjadi andalan penting untuk menopang kinerja industri otomotif di tengah tekanan pasar domestik. Khusus segmen BEV, produksi di dalam negeri masih lebih kecil daripada kendaraan konvensional. Meski demikian, sejumlah produsen berkomitmen membangun fasilitas produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia memiliki potensi untuk memperkuat posisi sebagai basis produksi dan ekspor kendaraan listrik ke pasar internasional.

Pentingnya Kebijakan yang Seimbang

Ke depan, arah kebijakan insentif akan menentukan bagaimana industri otomotif nasional bergerak pada 2026. Pemerintah harus menjaga kesehatan keuangan negara tanpa menghambat proses transformasi industri menuju elektrifikasi.

Keseimbangan antara prioritas fiskal dan langkah mendukung pengembangan kendaraan listrik dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan pertumbuhan industri otomotif yang lebih berkelanjutan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus diantisipasi oleh semua pemangku kepentingan di sektor otomotif.

Pengembangan insentif yang terukur dan strategis sangat krusial agar momentum pertumbuhan kendaraan listrik tetap terjaga tanpa menimbulkan beban finansial besar bagi negara.

Baca selengkapnya di: www.liputan6.com

Berita Terkait

Back to top button