
Penjualan mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menunjukkan lonjakan luar biasa pada awal tahun ini di Indonesia. Data distribusi unit pada Januari mencatat adanya kenaikan sebesar hampir 3.037% secara year to year, yaitu dari hanya 16 unit pada Januari tahun sebelumnya menjadi 502 unit. Meskipun demikian, bila dibandingkan dengan periode Desember sebelumnya, pasar PHEV mengalami penurunan sekitar 52%, dari 1.051 unit menjadi 502 unit, yang diperkirakan merupakan efek dari siklus tahunan industri otomotif.
Merek Asal China Kuasai Pasar PHEV
Segmen PHEV di Indonesia masih didominasi oleh merek-merek asal China yang perlahan menemukan pangsa pasar. Chery menjadi salah satu penguasa segmen ini melalui model Tiggo 8 CSH, yang berhasil mencatat distribusi sebanyak 240 unit pada bulan tersebut. Angka ini menguasai hampir separuh pangsa pasar PHEV nasional. Selain Chery, pemain lain seperti Geely, Jaecoo, dan Wuling juga mulai menunjukkan performa positif dengan penjualan masing-masing di atas puluhan unit.
Perbandingan Penjualan Mobil Elektrifikasi
Jika dibandingkan dengan jenis mobil elektrifikasi lainnya, penjualan PHEV masih relatif kecil. Mobil listrik berbasis baterai (BEV) mampu menyentuh angka 10.211 unit, sedangkan hybrid non-plug-in (HEV) terjual sebanyak 4.195 unit pada periode yang sama. Total pasar mobil elektrifikasi mencapai 14.908 unit, yang berarti PHEV hanya berkontribusi sekitar 3,3% dari keseluruhan penjualan. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski mengalami pertumbuhan cepat, penetrasi PHEV masih harus digenjot untuk bersaing lebih ketat dengan BEV dan HEV.
Daftar Mobil PHEV Terlaris Awal Tahun
Berikut daftar mobil PHEV terlaris sepanjang bulan ini yang bisa menjadi referensi konsumen dan pelaku industri otomotif:
- Chery Tiggo 8 CSH: 240 unit
- Geely Starray EM-i: 78 unit
- Wuling Darion PHEV: 57 unit
- Jaecoo J7: 51 unit
- Chery Tiggo 9 CSH: 41 unit
- Jaecoo J8: 26 unit
- Mazda XC90: 5 unit
- Mazda CX80: 3 unit
- BMW XM: 1 unit
Dominasi model dengan teknologi Chery Super Hybrid ini membuktikan bahwa strategi penetrasi merek China efektif dalam menggaet pasar yang menginginkan kombinasi pengoperasian listrik dan mesin bensin untuk fleksibilitas jarak tempuh.
Faktor Pendorong Pertumbuhan PHEV
Pertumbuhan pesat segmen PHEV dapat dijelaskan oleh kebutuhan konsumen yang masih menginginkan kenyamanan mobil listrik, tetapi merasa ragu untuk sepenuhnya beralih karena keterbatasan infrastruktur pengisian baterai. PHEV menawarkan solusi praktis dengan sistem pengisian ulang baterai dan mesin bensin sebagai cadangan. Model seperti Chery Tiggo 8 CSH menyediakan sensasi berkendara elektrik sekaligus jaminan jarak tempuh untuk perjalanan jauh tanpa khawatir kehabisan energi.
Prospek dan Tantangan Pasar PHEV
Meskipun tren penjualan menunjukkan peningkatan, pasar PHEV harus bersiap menghadapi persaingan ketat dengan mobil listrik murni (BEV) yang terus menurun harga dan didukung kebijakan pemerintah. Adanya koreksi penjualan bulan ke bulan juga mengindikasikan perlunya strategi pemasaran dan edukasi konsumen yang lebih agresif dari para produsen. Selain itu, pengembangan infrastruktur pengisian listrik yang merata menjadi kunci agar minat konsumen terhadap mobil elektrifikasi dapat terus naik.
Dengan posisi PHEV yang kini mulai merangsek pasar, mobil jenis ini akan menjadi alternatif yang relevan dalam transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Kekuatan merek-merek China seperti Chery dan Geely memberikan gambaran jelas bahwa persaingan di segmen elektrifikasi mobil semakin ketat dan dinamis.**





