Nissan Tutup 7 Pabrik Global dan Pangkas 20 Ribu Karyawan Demi Selamatkan Perusahaan: Strategi Ekstrem di Tengah Kerugian Miliaran Yen dan Ancaman Perlambatan Pasar EV Global

Nissan Motor Co., Ltd. mengambil langkah drastis dengan menutup tujuh pabrik perakitan secara global sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Keputusan ini diambil untuk mempercepat agenda efisiensi yang bertujuan memperbaiki kinerja perusahaan dalam industri otomotif yang kini penuh tekanan.

CEO Ivan Espinosa menyatakan bahwa penutupan pabrik dan pemangkasan sekitar 20 ribu karyawan berhasil dilakukan lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan. Langkah ini menunjukkan progres konkret dalam menghadapi tantangan pasar global yang tidak mudah, terutama di tengah perlambatan permintaan kendaraan dan biaya operasional yang terus meningkat.

Kerugian Kuartal Keempat dan Dampaknya

Pada kuartal keempat, Nissan melaporkan kerugian operasional sebesar 28,3 miliar yen atau sekitar US$185 juta. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat kerugian 14 miliar yen. Penjualan kuartalan juga mengalami penurunan sebesar 6 persen, dari 3,2 triliun yen menjadi hampir 3 triliun yen.

Ivan Espinosa mengakui bahwa kerugian tersebut adalah konsekuensi logis dari proses restrukturisasi. “Saat melakukan restrukturisasi pasti ada ongkos yang timbul. Itu sudah kami perkirakan,” ujarnya. Meski demikian, manajemen tetap menargetkan untuk kembali mencetak laba operasional pada akhir tahun fiskal 2026.

Strategi Nissan Menghadapi Tantangan Industri

Restrukturisasi yang dilakukan Nissan tidak hanya berupa penutupan pabrik dan pengurangan tenaga kerja. Perusahaan juga melepas gedung kantor pusat dan menutup pabrik andalan di Oppama. Semua ini merupakan bagian dari langkah strategis untuk menyesuaikan produksi secara global dan memangkas biaya.

Espinosa yang memimpin agenda turnaround sejak tahun lalu menyatakan pentingnya strategi tambahan untuk memikat konsumen kendaraan listrik (EV). Nissan yang selama ini agresif dalam segmen EV menghadapi tantangan akibat perlambatan tren kendaraan listrik global.

Pengembangan Teknologi dan Aliansi Strategis

Untuk menjaga daya saing, Nissan berencana mengembangkan baterai generasi baru yang lebih efisien. Model terbaru Nissan Leaf optimistis dapat terus menarik minat pasar global. Selain itu, Nissan tetap memperkuat aliansi strategis mereka dengan Renault dan Mitsubishi Motors guna mendukung inovasi dan efisiensi biaya.

Sejumlah analis menyebutkan, tren pelambatan pasar EV dapat menjadi ancaman jangka pendek. Namun, kolaborasi dan inovasi teknologi diyakini menjadi kunci bagi Nissan dalam mempertahankan posisinya di industri otomotif dunia yang semakin kompetitif.

Dampak dan Prospek Bisnis

Meski penurunan kinerja masih terjadi pada tahun fiskal yang akan berakhir, dengan proyeksi rugi bersih mencapai 650 miliar yen, manajemen yakin upaya restrukturisasi dan perbaikan strategi bisnis akan membuahkan hasil positif.

Saham Nissan yang sempat tertekan selama setahun terakhir menunjukkan tanda pemulihan dengan kenaikan tipis sekitar 0,5 persen pada perdagangan terakhir. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap langkah-langkah restrukturisasi yang diambil.

Daftar Langkah Restrukturisasi Nissan

  1. Penutupan tujuh pabrik perakitan secara global
  2. Pemangkasan tenaga kerja sekitar 20 ribu orang
  3. Pelepasan gedung kantor pusat
  4. Penutupan pabrik andalan di Oppama
  5. Pengembangan teknologi baterai baru untuk kendaraan listrik
  6. Penguatan aliansi strategis dengan Renault dan Mitsubishi Motors

Dengan langkah-langkah tersebut, Nissan berupaya menyesuaikan diri dengan kondisi pasar otomotif yang penuh ketidakpastian. Fokus perusahaan kini beralih pada efisiensi operasional dan inovasi produk, terutama di segmen kendaraan listrik yang menjadi harapan pertumbuhan di masa depan.

Dunia otomotif sedang mengalami perubahan signifikan, dan keputusan Nissan untuk menutup pabrik dan memangkas tenaga kerja mencerminkan tekanan yang harus dihadapi oleh pabrikan besar. Melalui strategi yang tepat dan kolaborasi global, Nissan berusaha mengamankan posisinya dan menatap masa depan dengan optimisme meski kondisi saat ini penuh tantangan.

Baca selengkapnya di: www.oto.com

Terkait