
BYD yang sebelumnya dikenal sebagai pemimpin pasar kendaraan penumpang di China kini kehilangan posisinya kepada Geely. Pada Januari 2026, penjualan BYD merosot drastis, seiring melemahnya pasar otomotif China secara keseluruhan.
Data dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penurunan penjualan kendaraan penumpang hingga 13,9 persen year-on-year (YoY) pada Januari 2026. Jumlah penjualan ritel tercatat 1,544 juta unit, turun signifikan dibandingkan Desember 2025. Dalam kondisi pasar yang menurun tersebut, Geely justru mampu menunjukkan performa positif.
Kinerja Geely di Pasar Kendaraan Penumpang China
Geely berhasil menjadi pemimpin pasar kendaraan penumpang dengan penjualan ritel mencapai 210.000 unit pada Januari 2026. Angka ini unggul hampir 80.000 unit dibandingkan BYD yang hanya mencatatkan 94.000 unit. Dari sisi wholesales, Geely juga mendominasi dengan 270.000 unit, melampaui BYD yang berada di posisi kedua dengan 206.000 unit. Pertumbuhan penjualan wholesales Geely mencapai 1,3 persen YoY.
Keberhasilan Geely didukung oleh strategi ekspansi yang agresif dengan target peluncuran satu hingga dua model baru setiap kuartal. Perusahaan menyasar penjualan tahunan sebanyak 3,45 juta kendaraan. Langkah ini tampak efektif untuk mengamankan pangsa pasar di tengah pasar otomotif yang melemah.
Penurunan Signifikan BYD
BYD menghadapi tekanan berat akibat penurunan permintaan kendaraan penumpang listrik. Penjualan ritel BYD merosot 53 persen YoY, dari 200.000 unit pada Januari tahun sebelumnya menjadi hanya 94.000 unit. Secara wholesales, penurunan BYD mencapai 30,7 persen YoY.
Penurunan ini menandai koreksi tajam setelah beberapa tahun BYD dominan berkat teknologi tinggi dan inovasi kendaraan listrik. Namun, kondisi pasar yang tidak mendukung dan persaingan semakin ketat membuat BYD sulit mempertahankan posisi puncak.
Posisi Pemain Otomotif Lain di China
Selain Geely dan BYD, produsen lain seperti Chery dan SAIC Motor juga mencatatkan performa menarik. Chery berada di posisi ketiga dengan penjualan wholesales 194.000 unit, sedangkan SAIC Motor mampu meningkatkan penjualan grosir hingga 53,6 persen YoY. Lonjakan ini didorong oleh ekspor merek MG yang semakin kuat.
Tesla China juga menunjukkan pertumbuhan penjualan wholesales sebesar 69.000 unit dengan kenaikan 9,3 persen YoY. Tren ini menunjukkan kompetisi terus meningkat, baik dari merek lokal maupun merek global di pasar China.
Dampak di Pasar Otomotif Global dan Indonesia
Melemahnya pasar kendaraan penumpang di China berpotensi mendorong produsen mengalihkan fokus ekspansi ke pasar luar negeri, termasuk Indonesia. Strategi ekspansi global tersebut kemungkinan meliputi penurunan harga produk, percepatan peluncuran model baru, serta peningkatan investasi produksi lokal.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini membuka kesempatan sekaligus tantangan. Konsumen berpotensi menikmati harga kendaraan listrik yang lebih kompetitif. Namun, persaingan ketat dapat memberi tekanan pada produsen lokal dan mempercepat konsolidasi industri otomotif nasional.
Pemerintah dan pelaku industri di Indonesia perlu mengantisipasi perubahan ini dengan memperkuat ekosistem manufaktur kendaraan listrik. Insentif yang jelas dan kebijakan transfer teknologi yang efektif penting untuk memastikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar tetapi juga pusat produksi yang berdaya saing.
Faktor Kunci Kesuksesan Geely
- Strategi ekspansi agresif dengan peluncuran produk baru reguler.
- Target penjualan tahunan ambisius sekitar 3,45 juta unit.
- Adaptasi cepat terhadap perubahan pasar dan tren kendaraan listrik.
- Kemampuan penetrasi pasar ritel dan wholesales yang seimbang.
Kesimpulan Sementara
Geely kini menjadi raja otomotif China dengan mengungguli BYD yang tengah menghadapi penurunan signifikan. Perubahan dominasi ini menandai dinamika pasar yang sangat kompetitif di sektor kendaraan penumpang elektrik. Strategi Geely yang agresif membuktikan keunggulan beradaptasi di tengah tantangan industri otomotif global yang terus berubah.
Situasi pasar kendaraan di China juga menjadi indikator penting bagi pasar otomotif global, termasuk Indonesia, untuk menyesuaikan strategi produksi dan pemasaran demi menghadapi era baru alat transportasi ramah lingkungan.





