Pengamat Kritik Ketimpangan Dampak IIMS yang Hanya Terasa di Jawa Sementara Pasar Otomotif Nasional Tertekan

Author: Qoo Media

Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) kembali digelar dengan hasil transaksi yang menggembirakan. Pada penyelenggaraan terakhir, nilai transaksi mencapai Rp8 triliun dan mencatat peningkatan sebesar 19 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, pengamat otomotif menilai dampak gelaran ini terhadap pasar otomotif nasional tidak merata.

Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menyampaikan bahwa pengaruh IIMS masih terfokus kuat di Pulau Jawa. Sementara wilayah lain di luar Jawa belum merasakan dampak positif serupa. Selain itu, tekanan inflasi dan perubahan belanja negara juga membatasi daya beli masyarakat secara luas.

Ketimpangan Dampak IIMS terhadap Pasar Otomotif

Menurut Yannes, daya beli kelas menengah di Indonesia masih belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini menjadi hambatan utama bagi penjualan kendaraan baru di pasar domestik. "Terjadi sensitivitas pasar lokal terkait daya beli, kebijakan fiskal yang kerap berubah, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta gangguan rantai pasok global," ujarnya.

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pasar otomotif adalah:

  1. Inflasi yang menekan kemampuan konsumen membeli kendaraan baru.
  2. Kebijakan fiskal yang berubah-ubah sehingga menciptakan ketidakpastian bagi pembeli.
  3. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS menyebabkan harga kendaraan impor atau komponen naik.
  4. Ketegangan geopolitik internasional yang berdampak pada supply chain global.

Yannes menyarankan agar pelaku industri otomotif fokus memperluas pasar ekspor sebagai strategi penyeimbang. Pasar ekspor dapat membantu utilitas pabrik tetap maksimal saat permintaan domestik masih terbatas.

IIMS: Transaksi Tinggi Namun Manfaat Terbatas

Selama pameran IIMS 2025 yang berlangsung selama 10 hari, total penjualan kendaraan mencapai 22.322 unit dengan jumlah pengunjung mencapai hampir 580 ribu orang. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan pengunjung sebesar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan transaksi dan jumlah pengunjung ini belum mampu mengatasi permasalahan daya beli di luar Pulau Jawa.

Menurut Yannes, keberlanjutan industri otomotif tidak bisa hanya mengandalkan momentum pameran domestik. Pasar otomotif di berbagai daerah masih menghadapi kendala ekonomi dan logistik yang belum terselesaikan secara menyeluruh.

Strategi Menghadapi Tantangan Pasar Otomotif

Penguatan pasar ekspor menjadi opsi utama untuk menjaga kestabilan industri otomotif nasional. Beberapa langkah yang dapat dijalankan pelaku industri meliputi:

  1. Pengembangan produk yang sesuai dengan permintaan pasar global.
  2. Peningkatan kualitas dan daya saing kendaraan buatan lokal.
  3. Memperkuat jaringan distribusi dan layanan purna jual di luar Jawa.
  4. Kolaborasi dengan pemerintah untuk memperbaiki regulasi dan kestabilan nilai tukar.

Langkah-langkah ini diperlukan agar pabrik otomotif tidak hanya bergantung pada pasar domestik yang rentan terhadap perubahan ekonomi. Selain itu, diversifikasi pasar juga dapat membantu memitigasi risiko terkait ketegangan geopolitik dan gangguan supply chain.

Daya Beli dan Kebijakan Fiskal sebagai Penentu Utama

Tekanan inflasi yang terjadi secara nasional menimbulkan konsekuensi langsung pada daya beli masyarakat. Belanja konsumen yang bergeser menjadi lebih hemat dan selektif terhadap produk otomotif. Sementara itu, kebijakan fiskal yang belum stabil mempengaruhi keputusan pembelian dan investasi dalam industri otomotif.

Fluktuasi nilai tukar rupiah juga membawa efek pada harga komponen dan kendaraan impor yang biasanya berkontribusi besar pada biaya produksi. Hal ini menyebabkan harga akhir kendaraan menjadi lebih mahal dan menekan minat pembeli.

IIMS, dengan segala keberhasilannya dalam mendongkrak transaksi, belum cukup untuk mengatasi permasalahan fundamental tersebut. Oleh sebab itu, pengembangan pasar ekspor dan perbaikan kondisi ekonomi domestik harus berjalan beriringan untuk menciptakan pertumbuhan industri otomotif yang berkelanjutan.

Pemangku kepentingan perlu melihat IIMS bukan hanya sebagai ajang pamer dan transaksi sesaat, tetapi sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan pasar internasional. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mendorong industri otomotif nasional berkembang lebih kokoh dan merata.

Terbaru