Fenomena microsleep menjadi faktor penyumbang sekitar 20 persen kecelakaan lalu lintas di Malaysia. Data ini diungkapkan oleh Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS), yang menyatakan bahwa kondisi ini memiliki dampak serius terhadap keselamatan jalan raya.
Microsleep adalah kondisi saat pengemudi tertidur sesaat tanpa disadari selama dua hingga 10 detik. Meski mata terlihat terbuka, kesadaran pengemudi “padam” sehingga kendaraan bergerak tanpa kendali.
Dalam beberapa detik itu, risiko kecelakaan meningkat drastis, terutama saat berkendara di jalan tol atau jalur antar kota. Bila kecepatan kendaraan tinggi, hilangnya kontrol selama 10 detik berpotensi menyebabkan tabrakan fatal.
Menurut Prof. Dr. Siti Zaharah Ishak, Deputi Direktur Jenderal MIROS, microsleep sering dipicu oleh kelelahan dan gangguan ritme sirkadian tubuh. Kondisi ini cenderung meningkat saat musim libur panjang dan arus balik perayaan.
Pengemudi yang memaksakan perjalanan meski mengantuk akan menghadapi risiko kecelakaan lebih tinggi. Oleh karena itu, pengenalan tanda-tanda microsleep harus menjadi prioritas untuk mencegah insiden.
Tanda-tanda Microsleep yang Harus Diwaspadai
- Tubuh terasa gelisah dan sering menggoyang di kursi berkendara.
- Kecepatan kendaraan tidak stabil dan mengalami fluktuasi tanpa sebab jelas.
- Mata terasa berat, sulit untuk tetap fokus, dan sering berkedip.
- Kesulitan mempertahankan perhatian pada jalan dan kondisi sekitarnya.
Jika tanda-tanda ini muncul selama mengemudi, istirahat sejenak adalah tindakan paling aman. Berhenti di area rehat atau SPBU memungkinkan pengemudi untuk memulihkan kondisi dan mencegah kejadian fatal.
Meskipun kendaraan modern kini dilengkapi fitur keselamatan canggih, seperti sistem peringatan konsentrasi pengemudi (Driver Attention Monitoring) dan teknologi ADAS, teknologi ini tidak dapat menggantikan kewaspadaan fisik.
Para ahli menegaskan bahwa tidur yang cukup dan istirahat teratur tetap menjadi cara paling efektif mencegah microsleep. Faktor manusia menjadi ancaman terbesar dalam keselamatan jalan, meskipun teknologi terus berkembang.
Dalam dunia otomotif yang semakin maju, kehilangan fokus selama beberapa detik bisa berakibat tragis. Microsleep menunjukkan bahwa sekilas hilangnya kesadaran dapat membuka peluang kecelakaan fatal.
Penting untuk selalu mengenali gejala awal dan bertindak cepat dengan beristirahat agar tidak memaksakan tubuh yang lelah. Kesadaran akan risiko microsleep juga harus ditingkatkan di kalangan pengemudi.
Dengan data MIROS yang menunjukkan sekitar 20 persen kecelakaan jalan akibat microsleep, pemerintah dan berbagai lembaga terkait perlu memperkuat edukasi keselamatan berkendara. Sosialisasi gejala dan langkah pencegahan microsleep harus digencarkan.
Pengaturan waktu perjalanan yang baik dan memastikan kondisi tubuh fit sebelum mengemudikan kendaraan menjadi kunci pencegahan utama. Hindari berkendara saat merasa ngantuk atau dalam kondisi fisik kurang prima.
Langkah berikut dapat membantu pengemudi menghindari microsleep:
- Tidur minimal 7-8 jam sebelum perjalanan jauh.
- Beristirahat setiap 2-3 jam selama perjalanan.
- Hindari konsumsi obat atau minuman yang menimbulkan kantuk saat mengemudi.
- Kenali gejala kelelahan dan ambil jeda setiap kali merasa mengantuk.
Upaya bersama pengemudi dan pengelola jalan sangat penting untuk menekan angka kecelakaan akibat microsleep. Keselamatan jalan harus didukung oleh kesiapan fisik dan mental pengemudi serta kesadaran penuh akan risiko mengemudi dalam kondisi lelah.
Dengan kewaspadaan dan pemahaman yang baik, ancaman microsleep dapat diminimalkan untuk menciptakan perjalanan yang lebih aman bagi semua pengguna jalan.
Baca selengkapnya di: www.liputan6.com




