Terungkap Alasan Tekanan Angin Mobil Listrik Lebih Tinggi Dibanding Mobil ICE Karena Bobot Baterai Yang Berat

Tekanan angin ban pada mobil listrik (EV) diketahui lebih tinggi dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional (ICE). Hal ini menjadi perhatian penting bagi pemilik EV yang baru beralih dari mobil ICE agar memahami perbedaan teknis dan dampaknya pada performa kendaraan.

Salah satu alasan utama tekanan angin ban EV lebih tinggi adalah bobot kendaraan yang lebih berat. Menurut Alfons Abikaryono, Customer Engineering Support Michelin Indonesia, baterai EV memberikan kontribusi terbesar terhadap bobot keseluruhan mobil. EV dengan baterai besar umumnya memiliki bobot lebih tinggi dibanding ICE sehingga butuh tekanan angin yang lebih kuat agar ban dapat menopang beban dengan optimal.

Perbandingan Tekanan Angin pada EV dan ICE

Data dari produsen ban Michelin menunjukkan bahwa anjuran tekanan angin ban pada EV bisa 10-40 persen lebih tinggi dibandingkan mobil ICE. Sebagai contoh, EV seperti Xpeng X9 yang menggunakan ban Michelin e-Primacy memiliki rekomendasi tekanan ban sekitar 39 PSI. Sementara, rata-rata tekanan angin ban pada mobil bensin konvensional biasanya berkisar antara 30 hingga 35 PSI.

  1. Tekanan angin pada mobil ICE: 30-35 PSI
  2. Tekanan angin pada mobil EV: di atas 36 PSI, contohnya 39 PSI pada Xpeng X9
  3. Peningkatan tekanan angin: 10-40 persen lebih tinggi pada EV

Tekanan angin yang lebih tinggi bukan hanya untuk menyesuaikan beban berat saja, tetapi juga penting untuk menjaga performa dan efisiensi energi EV. Tekanan ban yang tepat membantu mengurangi gesekan dengan permukaan jalan sehingga konsumsi energi baterai menjadi lebih efisien.

Dampak Tekanan Angin Ban terhadap Keselamatan dan Performa EV

Ban yang kurang tekanan akan mempercepat keausan dan menambah risiko pecah ban. Ini sangat penting pada EV karena bobotnya yang besar bisa menimbulkan tekanan berlebih pada ban jika tekanan angin tidak sesuai. Tekanan ban yang optimal juga memengaruhi pengendalian kendaraan, stabilitas saat menikung, dan jarak pengereman.

Michelin menyebutkan pentingnya mengikuti rekomendasi pabrikan ban yang tercantum pada stiker kendaraan maupun buku manual. Rekomendasi ini sudah diuji secara teknis untuk memastikan keamanan dan kenyamanan berkendara.

Mengapa Berat EV Lebih Besar?

Bobot tambahan pada EV berasal dari paket baterai yang bisa mencapai ratusan kilogram. Baterai lithium-ion merupakan komponen paling berat dibandingkan mesin ICE dan tangki bahan bakar. Hal ini mengubah karakteristik distribusi bobot kendaraan sehingga teknisi dan produsen ban harus menyesuaikan tekanan angin untuk menghasilkan daya dukung optimal.

Rekomendasi Perawatan Tekanan Ban untuk Pemilik EV

  1. Cek tekanan ban secara rutin minimal sekali dalam dua minggu.
  2. Gunakan alat pengukur tekanan angin ban (TPMS) untuk akurasi.
  3. Sesuaikan tekanan dengan anjuran pabrikan yang biasanya tertera pada stiker pintu pengemudi.
  4. Perhatikan perubahan kondisi ban dan konsultasi ke bengkel resmi jika ada keausan tidak merata.

Tekanan angin ban yang tepat di EV juga menjadi bagian dari upaya menjaga jarak tempuh maksimal dari satu kali pengisian baterai. Tekanan yang kurang dari standar dapat meningkatkan hambatan gulir, sehingga baterai cepat habis dan mobil harus sering diisi ulang.

Sebagai kesimpulan, peningkatan tekanan angin pada ban EV bukan tanpa alasan. Faktor utama adalah bobot baterai yang jauh lebih berat dibanding mesin dan tangki bahan bakar pada ICE. Produsen telah menyesuaikan rekomendasi tekanan ban agar EV tetap aman, nyaman, dan efisien dalam pemakaian sehari-hari.

Pemilik EV disarankan untuk selalu mengikuti anjuran tekanan angin dari pabrikan dan menjaga kondisi ban agar performa kendaraan tetap maksimal. Pemahaman ini penting untuk menjaga keselamatan, efisiensi energi, serta umur pakai ban kendaraan listrik yang kini semakin populer di Indonesia.

Source: otodriver.com

Berita Terkait

Back to top button