
Stellantis mempertimbangkan untuk mengadopsi teknologi kendaraan listrik (EV) dari perusahaan asal Cina, Leapmotor, guna menekan biaya produksi untuk merek-merek massal mereka di Eropa seperti Fiat, Opel, dan Peugeot. Langkah ini akan menjadi yang pertama kali bagi produsen otomotif besar Barat yang menggunakan arsitektur kendaraan serta perangkat lunak dari perusahaan Cina untuk mendukung model-model yang dijual di pasar Eropa.
Sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyebutkan bahwa Stellantis sedang mengevaluasi kemungkinan memperluas kerja sama joint venture dengan Leapmotor. Fokusnya adalah mengakses teknologi baterai dan powertrain listrik Leapmotor yang dinilai lebih maju. Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya riset dan pengembangan sekaligus mempercepat peningkatan daya saing produk Stellantis di tengah persaingan ketat di pasar Eropa.
Alasan Stellantis Memilih Leapmotor
Tekanan dari persaingan dengan produsen mobil listrik Cina seperti BYD maupun rival lokal seperti Volkswagen dan Renault menjadi salah satu faktor utama di balik langkah ini. Dengan mengadopsi teknologi Leapmotor, Stellantis bisa menghemat biaya riset dan pengembangan yang tinggi serta mendapatkan jalan pintas untuk menghadirkan produk yang lebih kompetitif di pasar. Sebelumnya, pada Mei, Stellantis mengumumkan adanya penurunan nilai aset dan biaya terkait restrukturisasi sebesar €22,2 miliar untuk mengatasi penurunan pangsa pasar dan keuntungan.
Kemitraan dan Investasi Awal
Kerja sama antara Stellantis dan Leapmotor dimulai pada 2023, ketika Stellantis menginvestasikan 1,5 miliar euro untuk mengakuisisi sekitar 20% saham Leapmotor, yang kini terdilusi menjadi 15%. Pada Mei tahun ini, mereka membentuk Leapmotor International, sebuah perusahaan joint venture di mana Stellantis memegang 51% saham. Melalui kesepakatan ini, Stellantis mulai menjual model Leapmotor C10 di jaringan dealer Eropa dan mendorong ekspansi global merek tersebut.
Langkah Ekspansi Pasar
Kolaborasi antara kedua perusahaan tidak hanya terbatas di Eropa. Leapmotor C10 sudah diproduksi di Malaysia, dan penjualan kendaraan Leapmotor juga mulai dikembangkan di pasar negara berkembang seperti Afrika Selatan. Perluasan ini menunjukkan strategi Stellantis untuk memperkuat posisinya di luar pasar tradisional sekaligus memanfaatkan teknologi Cina yang inovatif dengan biaya yang lebih efisien.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Proses negosiasi masih dalam tahap awal dan menghadapi sejumlah kendala regulasi. Salah satu isu utama adalah perlindungan data dan pembatasan dari Amerika Serikat terkait kendaraan terhubung yang memiliki hubungan dengan perusahaan Cina. Hal ini menjadi hambatan yang perlu diatasi agar kerja sama dapat segera direalisasikan dan memberikan manfaat maksimal.
Potensi Dampak untuk Industri Otomotif Eropa
Apabila kesepakatan tercapai, ini akan menjadi preseden penting bagi industri otomotif Barat menggunakan teknologi manufaktur dan perangkat lunak Cina. Selama ini, produsen mobil Eropa lebih mengandalkan sumber internal atau mitra dari wilayah lain. Adopsi teknologi Leapmotor bukan hanya soal prinsip, melainkan kebutuhan untuk tetap kompetitif dalam era kendaraan listrik yang bergerak cepat.
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan terkait potensi adopsi teknologi Leapmotor oleh Stellantis:
- Pengurangan biaya R&D yang selama ini menjadi beban besar produsen otomotif tradisional.
- Akses teknologi baterai dan powertrain listrik terkini dari perusahaan yang sudah berpengalaman di segmen EV Cina.
- Peningkatan daya saing produk di pasar Eropa yang semakin ketat.
- Perluasan pasar secara global lewat pabrik dan dealer di Asia Tenggara dan Afrika.
- Hambatan regulasi terkait data dan keamanan kendaraan terhubung khususnya di pasar Amerika dan Eropa.
Pemilihan Leapmotor sebagai mitra strategis menunjukkan bagaimana perusahaan besar Eropa beradaptasi dengan perubahan cepat di industri kendaraan listrik global. Keputusan ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi melainkan juga efisiensi biaya dan posisi pasar. Dengan potensi besar teknologi Leapmotor, Stellantis dapat mempercepat transisinya menuju kendaraan listrik yang lebih efisien dan terjangkau bagi konsumen Eropa.
Source: cnevpost.com




