Stellantis CEO Kantongi Penghasilan Setara Buruh 82 Tahun di Tahun Krisis, Kesenjangan Pendapatan yang Mencengangkan!

Antonio Filosa, CEO baru Stellantis, menerima kompensasi sebesar €5,4 juta atau sekitar $6,37 juta dalam tahun pertamanya menjabat. Jumlah tersebut terdiri dari gaji pokok sebesar €1,4 juta ($1,65 juta) dan berbagai tunjangan seperti transportasi, kendaraan, serta asuransi senilai €374.000 ($440.000).

Selain itu, Filosa juga mendapatkan tunjangan sebagai Chief Operating Officer wilayah Amerika Utara dan insentif jangka panjang senilai €1,5 juta ($1,77 juta) yang belum dibayarkan. Namun, ia tidak memperoleh bonus tahunan terkait insentif kinerja karena Stellantis gagal mencapai arus kas positif dan justru mencatat kerugian bersih sebesar $26,3 miliar tahun lalu.

Rasio Gaji Eksekutif dan Pekerja Rata-rata

Kompensasi Filosa yang mencapai $6,37 juta setara dengan pendapatan rata-rata pekerja Stellantis selama 82 tahun. Seorang pekerja rata-rata di perusahaan ini mendapat sekitar $78.000 per tahun. Kesenjangan ini sangat signifikan meskipun kompensasi Filosa masih lebih rendah dibandingkan pendahulunya, Carlos Tavares.

Tavares, mantan CEO Stellantis yang digantikan Filosa, menerima total kompensasi sebesar €12 juta ($14 juta) pada tahun terakhirnya, yang sebagian besar berasal dari pesangon dan insentif performa senilai €10 juta. Namun, pada 2023, Tavares mendapat gaji luar biasa hingga €36,5 juta ($39,5 juta), dengan sebagian besar dari insentif jangka panjang terkait pencapaian target perusahaan.

Krisis Keuangan dan Dampaknya pada Pekerja

Para pekerja Stellantis merasa sangat dirugikan karena tidak menerima bonus profit-sharing tahun ini. Jaringan pekerja yang tergabung dalam UAW tidak menerima bonus sama sekali akibat kerugian $2,2 miliar yang dialami Stellantis di pasar Amerika Utara. Kontrak kerja dengan serikat pekerja menyebutkan bonus hanya diberikan jika perusahaan membukukan keuntungan.

Hal ini berbeda dengan pesaing seperti Ford dan GM, yang tetap memberikan bonus kepada pekerjanya meski pasar otomotif mengalami tekanan. Kondisi ini mengundang kritik tajam dari para pimpinan serikat pekerja yang menilai ketidakadilan dalam pembagian keuntungan antara eksekutif dan pekerja biasa.

Kompensasi Eksekutif dalam Konteks Krisis

Meskipun perusahaan mengalami kerugian besar, gaji dan tunjangan untuk posisi puncak tetap mencapai jutaan dolar. Hal ini menyoroti kesenjangan besar antara tingkat penghasilan manajemen dan buruh di tengah masa sulit bagi perusahaan otomotif global.

Perbedaan kebijakan insentif juga memperlihatkan bagaimana tekanan keuangan perusahaan lebih terasa oleh karyawan lapangan dibandingkan oleh jajaran manajemen puncak. Sistem insentif yang bergantung pada profit margin sudah membuat pekerja tidak mendapatkan bonus, sementara kompensasi eksekutif tetap dibayarkan dengan jumlah yang sangat besar.

Faktor Penurunan dan Tantangan Mendatang

Pada tahun sebelumnya, penurunan kompensasi yang signifikan dialami oleh Tavares karena penurunan 70 persen dalam keuntungan bersih perusahaan. Hal ini memperlihatkan korelasi antara performa keuangan perusahaan dengan remunerasi puncak, meski pengurangan tersebut tetap menyisakan angka yang sangat besar.

Selain itu, tantangan seperti transisi ke kendaraan listrik, tekanan biaya produksi, dan ketidakpastian pasar turut membebani kinerja Stellantis dan menekan arus kas perusahaan. Target yang dulu dicapai seperti peningkatan penjualan kendaraan rendah emisi dan pengembangan teknologi baru makin sulit untuk dipenuhi.

Tinjauan terhadap Model Remunerasi

Model pemberian kompensasi yang sangat timpang ini memicu perdebatan mengenai keadilan dan keberlanjutan struktur gaji di perusahaan besar. Apalagi di tengah situasi krisis, keberadaan gap yang melebar antara gaji CEO dan rata-rata pekerja menimbulkan ketidakpuasan di kalangan karyawan dan serikat kerja.

Masih perlu dipertimbangkan apakah model insentif saat ini sudah benar-benar mencerminkan kontribusi dari seluruh elemen perusahaan, bukan hanya para eksekutif. Transparansi dan kesetaraan dalam pembagian hasil menjadi titik penting yang harus diperbaiki agar hubungan industrial menjadi lebih sehat dan produktif.

Situasi di Stellantis ini menjadi cerminan bagaimana perusahaan otomotif multinasional menghadapi tekanan ekonomi sambil mengelola kompensasi tinggi untuk manajemen puncak. Analisis lebih jauh dan kebijakan yang seimbang sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan kepuasan karyawan secara bersamaan.

Source: www.carscoops.com

Terkait