Penetrasi kendaraan listrik di daerah-daerah luar kota besar di Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan. Meski teknologi kendaraan listrik semakin diminati, volume penjualan di wilayah seperti Indonesia Timur masih tergolong rendah dan didominasi oleh kelompok konsumen early adopters yang mencoba tren baru.
Hariyadi Kaimuddin, CEO PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), selaku diler resmi BYD dan Denza, menjelaskan bahwa minat kendaraan listrik di daerah bukan semata karena alasan ekonomis. Konsumen di daerah cenderung membeli kendaraan listrik karena penasaran dan ingin mengikuti euforia produk baru, bukan didasarkan pada pertimbangan biaya operasional.
Kendala Penetrasi Kendaraan Listrik di Daerah
Penjualan kendaraan listrik di cabang-cabang diler Haka Auto di daerah masih rendah, berkisar antara 20 hingga 30 unit per cabang. Angka ini jauh di bawah capaian merek-merek sebelumnya yang dapat menjual lebih dari 100 unit per cabang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada hambatan dalam membangun kepercayaan dan minat yang lebih luas di luar kota besar.
“Hingga saat ini, orang-orang di daerah masih melihat kendaraan listrik sebagai produk eksperimental dan baru,” terang Hariyadi. Ia menambahkan bahwa penetrasi kendaraan listrik di kota-kota besar seperti Makassar sekalipun belum melampaui 30 unit per cabang untuk tahap awal.
Strategi Ekspansi Agresif Haka Auto
Meski menghadapi tantangan, Haka Auto menargetkan pertumbuhan agresif dengan rencana membuka 30 diler resmi BYD dan Denza dalam waktu dua tahun sejak 2025. Target ini tergolong sangat ambisius jika dibandingkan pengalaman grup usaha sebelumnya yang membutuhkan 50 tahun untuk mencapai jumlah cabang yang sama.
“Kecepatan ekspansi untuk kendaraan listrik sangat berbeda. Kami memerlukan usaha besar untuk meyakinkan pasar daerah dan membangun infrastruktur layanan,” kata Hariyadi.
Fokus pada Kesiapan Layanan Purna Jual
Selain pembukaan diler baru, Haka Auto juga menempatkan prioritas pada kesiapan layanan purna jual di setiap cabang. Layanan ini mencakup perawatan dan dukungan teknis kendaraan listrik yang penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
"Jaringan layanan yang memadai menjadi kunci dalam mendorong adopsi kendaraan listrik yang lebih luas. Hal ini termasuk kesiapan teknisi dan ketersediaan suku cadang," ujar Hariyadi.
Edukasi dan Pendekatan Bertahap ke Konsumen Daerah
Menurut Hariyadi, penetrasi kendaraan listrik di daerah akan melalui kurva adopsi bertahap. Konsumen pionir yang penasaran akan menjadi pembuka jalan bagi pasar massal di masa depan. Oleh karena itu, edukasi pasar menjadi aspek krusial agar konsumen memahami manfaat dan teknologi kendaraan listrik secara menyeluruh.
Faktor edukasi dan komunikasi aktif bertujuan membangun kepercayaan sehingga konsumen tidak hanya membeli karena tren semata, tetapi mengerti keuntungan jangka panjang dari penggunaan kendaraan listrik.
Berbagai tantangan yang dihadapi oleh Haka Auto dalam mendorong penjualan kendaraan listrik di daerah mencerminkan kondisi pasar yang masih dalam tahap awal adopsi. Upaya agresif membuka jaringan diler dan memperkuat layanan purna jual serta edukasi konsumen menjadi strategi utama untuk meningkatkan penetrasi kendaraan listrik secara nasional. Seiring waktu, pola konsumsi kendaraan listrik di luar kota besar diperkirakan akan semakin meningkat mengikuti tren global dan dukungan infrastruktur yang membaik.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com