
PT Jasa Marga (Persero) Tbk masih menjadi pengelola utama jalan tol di Indonesia dengan mengelola 42 persen dari total jalan tol yang beroperasi. Perusahaan ini mengelola tol sepanjang 1.294 kilometer dari total konsesi jalan tol sepanjang 1.736 kilometer di Indonesia. Posisi ini mengukuhkan Jasa Marga sebagai market leader di industri jalan tol nasional.
Pada 2025, Jasa Marga mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp19,8 triliun, meningkat 5,8 persen secara year-on-year (yoy). Pendapatan tol mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp18,2 triliun. Selain itu, pendapatan usaha lain yang mendukung mencapai Rp1,6 triliun. Kinerja positif ini terbukti dari peningkatan ebitda menjadi Rp13,3 triliun dengan margin yang kuat di level 67 persen.
Kinerja Keuangan Jasa Marga
Laba inti (core profit) Jasa Marga tetap stabil di angka Rp3,7 triliun. Hal ini disampaikan oleh direktur utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, yang menekankan pentingnya peningkatan pendapatan dan efisiensi dalam menekan beban keuangan secara konsolidasi. Beban keuangan menurun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, salah satu dampak positif dari aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT).
Langkah strategis Jasa Marga dengan menggandeng mitra strategis membuat perusahaan mampu menjaga fleksibilitas pendanaan dan kapasitas keuangan. Kepemilikan saham Jasa Marga di JTT tetap dominan sebesar 65 persen, menjamin kontrol utama atas operasional dan ekspansi bisnis perusahaan.
Volume Kendaraan dan Aktivitas Jalan Tol
Pada 2025, volume kendaraan yang melintas di jalan tol Jasa Marga mencapai 1,3 miliar transaksi, tumbuh 0,35 persen yoy. Rata-rata lalu lintas harian (LHR) mencapai 3,58 juta kendaraan. Angka ini menggambarkan tingginya aktivitas transportasi di jaringan jalan tol yang dikelola. Peningkatan ini berpotensi mendorong pendapatan tol pada tahun-tahun mendatang.
Pembangunan Jalan Tol Baru
Jasa Marga terus mengembangkan jaringan jalan tol dengan melanjutkan pembangunan beberapa ruas. Proyek tol yang tengah dalam tahap konstruksi dan pembebasan lahan antara lain Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi, Yogyakarta-Bawen, Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo, Jakarta-Cikampek II Selatan, dan akses tol Patimban. Empat dari lima ruas tersebut direncanakan dapat beroperasi secara fungsional tanpa tarif menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026, guna memastikan kelancaran lalu lintas.
Perusahaan juga meningkatkan kualitas layanan operasional untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas selama periode libur panjang. Upaya ini meliputi pemeliharaan perkerasan jalan, penambahan petugas dan kendaraan operasional, serta pengembangan teknologi melalui Jasamarga Tollroad Command Center dan aplikasi Travoy. Peningkatan fasilitas di rest area dan Travoy Rest juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan pengalaman pengguna jalan tol.
Strategi dan Prospek Bisnis
Jasa Marga optimistis dapat mempertahankan kinerja positif selama 2026 dengan berbagai inisiatif strategis. Fokus utama adalah optimalisasi anggaran, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan penyesuaian tarif tol sesuai rencana pemerintah. Dengan struktur keuangan yang lebih sehat, perusahaan mampu menekan biaya bunga dan memperkuat kesehatan finansialnya.
Rasio-rasio keuangan menunjukkan performa yang solid, dengan Interest Coverage Ratio (ICR) meningkat menjadi 3,7 kali dan rasio Debt to Equity Ratio (DER) terjaga di angka 1,2 kali. Kondisi ini memperkuat posisi Jasa Marga dalam memenuhi komitmen finansial sekaligus mendukung ekspansi dan pengoperasian ruas tol baru.
Dengan pencapaian ini, Jasa Marga terus mempertahankan leadership market di bidang pengelolaan jalan tol nasional. Perusahaan berupaya menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan secara berkelanjutan. Kinerja yang stabil dan pengelolaan bisnis yang resilien menjadi modal utama untuk menjaga dominasi dan mendorong pertumbuhan industri jalan tol di Indonesia.
Source: www.oto.com








