Lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) secara signifikan menyedot kapasitas produksi semikonduktor global. Kondisi ini memicu tekanan biaya tinggi pada sektor otomotif yang sangat bergantung pada komponen chip, terutama untuk kendaraan listrik (EV). Akibatnya, produksi EV global berpotensi terhambat dan berdampak luas pada rantai pasok baterai serta hilirisasi nikel di Indonesia.
Data dari International Energy Agency (IEA) memperlihatkan bahwa penjualan mobil listrik dunia terus meningkat pesat, dengan proyeksi mencapai lebih dari 20 juta unit pada 2025. Tren ini menunjukkan kebutuhan baterai EV melesat hingga 4,5 kali lipat pada 2030 dibandingkan 2023. Namun, permintaan konsumsi global nikel untuk baterai masih relatif kecil dibandingkan sektor stainless steel yang menguasai sekitar 65 persen penggunaan nikel primer.
Tekanan Pasokan Chip dan Dampaknya pada Produksi EV
Industri chip kini mengalami “triple super cycle,” yaitu lonjakan permintaan tinggi untuk memori High Bandwidth Memory (HBM), DRAM, dan NAND khusus untuk AI. Fokus produsen chip lebih mengarah pada segmen bernilai tinggi ini, sehingga kapasitas produksi memori konvensional yang dipakai industri otomotif menjadi terbatas. Nissan dan Lucid sebagai produsen EV pun telah mengonfirmasi kendala pasokan chip yang berpotensi membatasi output produksi mereka.
Bahkan riset S&P Global Mobility memperkirakan harga DRAM generasi lama untuk otomotif dapat melonjak hingga 70–100 persen pada 2026. Kenaikan biaya ini akan menghambat biaya produksi kendaraan listrik sehingga memengaruhi target volume produksi global hingga tahun-tahun mendatang.
Proyeksi Permintaan Nikel untuk Baterai yang Direvisi
Permintaan nikel untuk baterai EV pada 2030 direvisi turun dari perkiraan awal 1,5 juta ton menjadi sekitar 967.000 ton. Revisi ini dipicu oleh pergeseran teknologi baterai ke jenis lithium iron phosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel. Selain itu, hambatan pasokan chip dan biaya elektronik yang meningkat juga memperingan pertumbuhan pesanan baterai baru.
Revisi permintaan nikel menunjukkan bahwa laju kenaikan kebutuhan mineral ini kemungkinan tidak akan seagresif yang diperkirakan pada proyeksi awal. Sektor stainless steel masih menjadi konsumen utama nikel dalam jangka pendek hingga menengah.
Implikasi bagi Hilirisasi Nikel Indonesia
Indonesia menjadi pemain kunci dalam ekosistem baterai global karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Pemerintah telah menginisiasi berbagai proyek hilirisasi baterai EV, antara lain:
- Pabrik sel baterai kerja sama dengan CATL berkapasitas awal 6,9 GWh yang ditarget beroperasi akhir 2026.
- Konsorsium Antam-Indonesia Battery Corporation bersama Huayou senilai USD 6 miliar dengan kapasitas target 20 GWh.
- Total investasi ekosistem baterai diperkirakan mencapai hampir USD 10 miliar menurut BKPM.
Namun, terdapat dinamika penyesuaian investasi seperti penarikan LG Energy Solution dari proyek senilai USD 8,45 miliar. Data ekspor ferro-nickel Indonesia pada 2023 mencapai USD 15,29 miliar, menegaskan posisi penting Indonesia di rantai suplai global.
Tantangan Strategi Industri Nikel dan Baterai
Struktur pasar global yang masih didominasi stainless steel membuat penyerapan nikel untuk baterai belum menjadi mayoritas. Namun, sektor baterai dikategorikan paling dinamis dengan potensi pertumbuhan tinggi. Tekanan kenaikan biaya elektronik kendaraan karena booming AI dan perubahan teknologi baterai menjadi tantangan baru.
Indonesia perlu merancang strategi industrialisasi nikel yang fleksibel untuk mengantisipasi perubahan teknologi dan siklus permintaan global. Penyesuaian ini penting untuk menjaga daya saing serta kesinambungan investasi hilirisasi dalam menghadapi risiko perlambatan produksi EV akibat krisis chip.
Dengan demikian, keberlanjutan pengembangan baterai EV dan hilirisasi nikel di Indonesia sangat bergantung pada kestabilan pasokan komponen elektronik serta adaptasi teknologi baterai yang terus berkembang. Tantangan ini menjadi PR penting bagi pemangku kepentingan agar optimalisasi potensi sumber daya mineral dapat tercapai sesuai target pembangunan industri kendaraan listrik nasional.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.kabarbursa.com






