Haka Auto mematok target ambisius dengan merencanakan pengembangan hingga 50 dealer BYD di Indonesia pada akhir 2026. Strategi ini dilakukan untuk merespons pertumbuhan pesat pasar mobil listrik di Tanah Air yang makin diminati oleh konsumen. Pada awal tahun ini, Haka Auto telah mengoperasikan 15 dealer BYD dan dua dealer Denza di berbagai wilayah strategis.
Ekspansi ini akan berlangsung agresif dengan rencana membuka sekitar 6-7 dealer baru setelah Lebaran, terutama di kawasan Jawa dan luar Jawa. Target pada paruh pertama tahun ini adalah membuka 30 cabang, kemudian meningkatkan jumlahnya hingga mencapai 50-60 dealer pada akhir tahun, termasuk empat dealer merek Denza. Lokasi dealer baru yang dijadwalkan meliputi Pondok Indah, Surabaya, Bandung, Semarang, Magelang, Madiun, Banyuwangi, dan Samarinda.
Strategi Perluasan Jaringan Dealer BYD
Menurut Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto, pengembangan jaringan ini adalah langkah strategis untuk memperluas akses layanan penjualan serta purna jual kendaraan listrik. Haka Auto menilai pentingnya respons cepat dan kualitas layanan karena minat masyarakat terhadap kendaraan bertenaga listrik terus meningkat sejalan dengan dukungan pembangunan infrastruktur.
Untuk mempercepat ekspansi, perusahaan memilih pendekatan dengan mengambil alih dealer yang sudah ada daripada membangun dealer baru dari nol. Cara ini dipandang lebih efisien sehingga target agresif dapat direalisasikan dalam jangka waktu yang relatif singkat, yaitu dua tahun. Biasanya, pengembangan jaringan merek otomotif konvensional memerlukan puluhan tahun untuk mencapai jumlah dealer serupa.
Hingga kini, kontribusi Haka Auto terhadap jaringan dealer BYD secara nasional baru sekitar 20 persen. Meskipun demikian, perusahaan optimistis pasar kendaraan listrik di luar wilayah Jabodetabek akan bertumbuh kuat seiring waktu. Saat ini, sekitar 80 persen penjualan mobil listrik masih berpusat di kawasan metropolitan tersebut, namun tren tersebut diprediksi akan meluas dengan dukungan model plug-in hybrid baru.
Kekhawatiran Terhadap Konflik Geopolitik
Meskipun optimisme tinggi, CEO Haka Auto mengingatkan adanya risiko eksternal yang dapat memengaruhi industri otomotif nasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah khususnya perang di Iran berpotensi menimbulkan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini bisa berdampak negatif terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, yang kemudian akan berimbas pada penurunan daya beli dan investasi di sektor otomotif.
Hariyadi menilai bahwa kondisi ekonomi yang melemah bukan waktu yang tepat untuk melakukan investasi besar-besaran. Industri otomotif sangat bergantung pada stabilitas ekonomi karena permintaan kendaraan cenderung menurun saat situasi finansial memburuk. Oleh karena itu, situasi perang atau ketegangan geopolitik di Timur Tengah harus terus dipantau agar strategi perluasan bisnis tidak terganggu.
Rencana Ekspansi Dealer BYD Haka Auto dalam Angka
- Jumlah dealer BYD yang sudah beroperasi: 15 outlet
- Jumlah dealer Denza yang sudah beroperasi: 2 outlet
- Dealer baru yang akan dibuka setelah Lebaran: 6-7 outlet
- Target dealer pada paruh pertama tahun ini: 30 outlet
- Target dealer hingga akhir tahun: 50-60 outlet, termasuk 4 dealer Denza
- Wilayah ekspansi utama: Jakarta (Pondok Indah), Surabaya, Bandung, Semarang, Magelang, Madiun, Banyuwangi, Samarinda
Ekspansi dealer BYD yang dilakukan oleh Haka Auto menandai langkah penting dalam merangkul pasar kendaraan listrik yang tengah naik daun. Dengan jaringan yang semakin luas, layanan penjualan dan purna jual diharapkan lebih mudah diakses konsumen di berbagai daerah. Namun, kekhawatiran terhadap dinamika geopolitik global perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan industri otomotif listrik di Indonesia tetap stabil dan berkelanjutan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otodriver.com