Konflik AS–Israel Vs Iran Dorong Lonjakan Harga Minyak, Momentum Kendaraan Listrik Melonjak dan Saham Nikel Menguat

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran menyebabkan kenaikan harga minyak yang signifikan. Dampak geopolitik ini mendorong semakin besarnya minat pada kendaraan listrik sebagai alternatif transportasi ramah lingkungan dan hemat energi.

Harga minyak Brent saat ini berada di sekitar USD 81,40 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 74,56 per barel. Lonjakan harga minyak hingga 8-10 persen dalam sepekan terakhir dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya pada Transisi Energi

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak global memperkuat kebutuhan percepatan transisi energi. Ia menyatakan, ketergantungan pada energi impor menyebabkan ekonomi dan APBN rentan terhadap gejolak geopolitik. Oleh karena itu, pengembangan biofuel dan kendaraan listrik menjadi sarana mitigasi penting guna mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) fosil.

Menurut Josua, diversifikasi pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah masih penting sebagai solusi jangka pendek. “Semakin rendah intensitas konsumsi BBM fosil, semakin kecil tekanan subsidi ketika harga minyak naik dan semakin kecil tekanan pada defisit transaksi berjalan serta nilai tukar,” katanya.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak sebenarnya memberikan “marketing gratis” untuk ekosistem kendaraan listrik. Semakin mahal harga minyak, semakin menarik nilai ekonomis kendaraan listrik bagi konsumen.

Tren Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan adanya tren positif adopsi kendaraan listrik. Pada Januari, penjualan kendaraan listrik mencapai 10.061 unit dari total penjualan mobil nasional sebesar 66.477 unit atau sekitar 15 persen pangsa pasar. Selama Januari–November 2025, total penjualan EV mencapai 82.525 unit dengan pangsa pasar 11,6 persen.

Pertumbuhan ini didorong oleh hadirnya model kendaraan listrik baru serta dukungan insentif dari pemerintah. Wahyu menyampaikan bahwa dalam kondisi harga bensin yang melonjak, konsumen mulai memandang kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih terjangkau dan efisien.

Sentimen Positif bagi Industri Nikel dan Ekosistem EV

Nikel adalah bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Harga nikel di London Metal Exchange pada awal Maret berada di sekitar USD 17.085 per ton. Meski sempat mengalami sedikit pelemahan, harga nikel masih jauh lebih tinggi dibandingkan pada awal tahun ketika sekitar USD 14.000 per ton. Kenaikan harga ini menunjukkan sensitivitas logam baterai terhadap sentimen energi global.

Josua Pardede mengingatkan bahwa percepatan transisi ke kendaraan listrik harus dilengkapi dengan kesiapan infrastruktur pengisian dan pasokan listrik yang andal. Selain itu, penguatan rantai pasok manufaktur domestik penting agar manfaat transisi energi dapat meningkatkan daya saing industri nasional, bukan hanya mengurangi konsumsi BBM.

Pengembangan Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik

Jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia meningkat signifikan, dari 3.223 unit pada 2024 menjadi lebih dari 5.000 unit di awal 2026. Pemerintah menargetkan ekspansi SPKLU hingga 9.633 unit pada tahun ini dan 14.339 unit pada tahun berikutnya.

Proyeksi jangka panjang menunjukkan akan ada lebih dari 31.000 SPKLU di seluruh Indonesia pada 2030. Ekspansi infrastruktur ini sangat penting untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik secara luas dan memberikan jaminan bagi pengguna terkait ketersediaan fasilitas pengisian baterai.

Pengembangan industri kendaraan listrik mendapat momentum akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan harga minyak. Langkah ini tidak hanya menawarkan solusi lingkungan dan ekonomi, tetapi juga membuka peluang bagi industri lokal untuk memperkuat rantai pasokan dan manufaktur dalam negeri. Dengan dukungan kebijakan dan kemajuan infrastruktur, kendaraan listrik diprediksi akan semakin cepat merajai pasar otomotif nasional.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.kabarbursa.com
Exit mobile version