
Penjualan mobil merek Cina terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan signifikan pada bulan Februari. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat kenaikan penjualan retail berbagai merek mobil asal Negeri Tirai Bambu, dengan BYD tetap mempertahankan posisi puncak.
BYD berhasil mendistribusikan sebanyak 3.596 unit ke konsumen, mengalami lonjakan penjualan sebesar 42,9 persen dibandingkan Januari yang tercatat 2.516 unit. Peningkatan ini sekaligus menegaskan dominasi BYD di pasar mobil listrik dan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.
Peringkat dan Penjualan Merek Mobil Cina Terlaris
Berikut adalah daftar 10 merek mobil Cina dengan penjualan retail terbanyak di Indonesia pada Februari:
- BYD: 3.596 unit
- Jaecoo: 3.028 unit
- Wuling: 1.503 unit
- Chery: 1.167 unit
- Geely: 1.101 unit
- Aion: 712 unit
- GWM: 350 unit
- Denza: 349 unit
- Jetour: 222 unit
- Xpeng: 176 unit
Dibandingkan bulan sebelumnya, sebagian besar merek ini mencatat kenaikan signifikan. Misalnya, Jaecoo yang meraih penjualan 3.028 unit atau naik dari 2.031 unit, serta Wuling yang melonjak dari 1.047 unit menjadi 1.503 unit.
Faktor Pendorong Kenaikan Penjualan
Kenaikan penjualan kendaraan listrik dan hybrid menjadi faktor utama. Jaecoo mempercepat pengiriman model listrik Jaecoo J5 yang mendapat sambutan positif. Sementara Wuling melonjak berkat kehadiran lini produk baru seperti MPV Darion EV dan PHEV, yang diminati konsumen Indonesia.
Denza, sub merek premium dari BYD, juga mencatat pertumbuhan penjualan. Pada Februari, Denza mengirim 349 unit Denza D9 kepada konsumen, meningkat dari 194 unit pada Januari.
Xpeng pun mencatat hasil positif meski baru-baru ini menaikkan harga Xpeng X9. Penjualan Xpeng meningkat menjadi 176 unit dari 77 unit sebelumnya, menandakan daya tarik mobil listrik kelas menengah atas yang masih kuat.
Tren Mobil Listrik dan Dampaknya di Pasar Indonesia
Pertumbuhan penjualan merek mobil Cina sebagian besar didukung popularitas kendaraan listrik. Produsen menggenjot pengembangan produk ramah lingkungan dengan teknologi terkini dan harga kompetitif. Pemerintah Indonesia yang mendorong penggunaan kendaraan listrik juga turut memberikan insentif menarik.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen di pasar otomotif domestik. Merek-merek Cina yang agresif meluncurkan varian EV dan PHEV semakin diterima secara luas. Hal ini mengubah landscape persaingan di segmen kendaraan roda empat di Tanah Air.
Perbandingan dengan Penjualan Januari
Dibandingkan data bulan Januari, seluruh merek terlihat mengalami kenaikan penjualan. Sebagai contoh, Geely naik dari 585 menjadi 1.101 unit. Aion juga meningkat dari 675 menjadi 712 unit. GWM bertumbuh dari 211 menjadi 350 unit.
Jetour turut menunjukkan tren serupa, naik dari 144 pada Januari ke 222 unit bulan Februari. Sedangkan DFSK, yang ada di daftar Januari, tak masuk 10 besar pada Februari, menandakan pergeseran preferensi konsumen.
Jumlah unit yang dipasarkan merupakan angka retail yang menunjukkan distribusi dari diler ke konsumen akhir. Dengan data ini, memberikan gambaran nyata permintaan pasar terhadap kendaraan bermerek dari Cina.
Perkembangan ini penting sebagai indikator pasar otomotif Indonesia yang semakin berorientasi pada kendaraan dengan teknologi hijau. Merek lokal dan internasional harus menyesuaikan strategi untuk menghadapi kebangkitan mobil listrik dari Cina yang semakin agresif.
Perubahan dinamika pasar ini mencerminkan kesiapan Indonesia menyambut era mobilitas berkelanjutan yang ditandai oleh peningkatan kesadaran lingkungan dan regulasi yang mendukung kendaraan ramah lingkungan. Industri otomotif nasional diprediksi akan semakin kompetitif dengan kehadiran produk-produk inovatif dari negara-negara produsen utama, khususnya Cina.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.katadata.co.id








