Mercedes-Benz resmi bekerja sama dengan Geely dalam mengembangkan platform mobil listrik baru yang diberi nama kode Phoenix. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis guna menghadirkan generasi kendaraan listrik kompak yang lebih efisien dan kompetitif di pasar global.
Platform Phoenix akan memanfaatkan arsitektur elektronik dan sistem kelistrikan Geely GEEA 4.0. Sistem ini berperan sebagai pusat kendali kendaraan yang mengatur berbagai fungsi mulai dari pengelolaan baterai hingga tampilan interface di kabin.
Geely dikenal memiliki metode produksi kendaraan listrik yang lebih hemat biaya. Hal ini menjadi alasan utama Mercedes-Benz memilih bermitra agar dapat menekan biaya pengembangan tanpa mengorbankan kualitas tinggi khas teknologi Jerman.
Untuk pertama kalinya, pengembangan mobil kompak Mercedes-Benz dilakukan secara global dengan pusat R&D utama berada di Beijing, China. Sekitar 2.000 tenaga ahli di fasilitas tersebut menangani mulai dari desain hingga riset dan pengembangan model baru.
Platform Phoenix nantinya akan menjadi basis untuk sejumlah model Mercedes-Benz populer. Beberapa contohnya ialah A-Class, B-Class, dan CLA generasi terbaru yang direncanakan mulai diproduksi massal pada sekitar tahun 2030.
Penunjukan tim teknik China sebagai pemimpin pengembangan menandai perubahan besar dalam struktur perusahaan. Mercedes-Benz berharap inovasi teknologi China yang digabungkan dengan rekayasa khas Jerman dapat menghadirkan produk yang unggul secara teknis dan ekonomis.
Pasar China saat ini sangat kompetitif dengan kehadiran merek lokal seperti Nio dan Aito yang agresif memasarkan mobil listrik premium. Kondisi ini membuat penjualan Mercedes-Benz di China sempat turun sekitar 19 persen, mencapai 550.000 unit tahun lalu.
Angka tersebut nyaris sama dengan penjualan satu dekade sebelumnya, menunjukkan perlunya strategi baru agar tetap relevan dan menarik bagi konsumen muda yang semakin kritis terhadap teknologi dan harga. Kolaborasi dengan Geely diharapkan mampu menjawab tantangan ini.
Langkah serupa juga dilakukan oleh produsen global lain. Volkswagen bekerja sama dengan XPeng, sedangkan Stellantis berinvestasi di Leapmotor. Tren ini mengisyaratkan pergeseran pusat inovasi otomotif ke pasar China.
Keunggulan China sebagai pusat teknologi baterai dan mobil listrik dunia menjadi magnet utama bagi merek global. Mercedes-Benz menegaskan bahwa walaupun menggunakan teknologi mitra China, karakter dan identitas produk mereka tetap dipertahankan.
Platform Phoenix akan menjadi tolak ukur efektivitas kolaborasi lintas negara dalam menyongsong industri mobil listrik masa depan. Mercedes-Benz menargetkan produk berbasis platform ini dapat diterima secara luas di pasar internasional, bukan hanya China saja.
Berikut beberapa poin penting terkait pengembangan platform Phoenix:
1. Penggunaan arsitektur GEEA 4.0 milik Geely untuk pengelolaan sistem kendaraan.
2. Konsep pengembangan global dengan pusat riset utama di Beijing.
3. Target produksi massal sekitar tahun 2030.
4. Model basis Phoenix: A-Class, B-Class, dan CLA generasi baru.
5. Strategi efisiensi biaya melalui metode produksi China.
6. Penyesuaian dengan persaingan ketat di pasar mobil listrik global.
7. Kombinasi kualitas Jerman dan inovasi teknologi China.
Dengan kolaborasi yang menghadirkan efisiensi dan inovasi ini, Mercedes-Benz berupaya menegaskan kembali posisinya di pasar kendaraan listrik premium. Pengembangan platform Phoenix diyakini menjadi tonggak penting dalam revolusi mobil listrik masa depan yang menggabungkan keunggulan dua benua.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: voi.id






