Arus mudik Lebaran mulai menunjukkan peningkatan di sejumlah ruas tol utama yang terhubung dengan Jabodetabek dan Jawa Barat. Data operator jalan tol memperlihatkan kenaikan kendaraan pada beberapa gerbang tol penting, meski pola pergerakannya belum merata di semua arah.
Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division mencatat lonjakan lalu lintas mulai terlihat pada H-8 libur Idul Fitri. Kenaikan ini terutama terpantau pada akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Merak, serta sejumlah titik pergerakan ke arah Bandung dan Rancaekek.
Pergerakan keluar Jabodetabek mulai naik
Berdasarkan keterangan resmi Jasa Marga, total kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek melalui GT Cengkareng, GT Cikupa, dan GT Ciawi 1 mencapai 175.132 kendaraan. Angka itu naik 0,72 persen dibanding volume lalu lintas normal sebesar 173.879 kendaraan.
Senior General Manager Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division Widiyatmiko Nursejati menyatakan peningkatan sudah mulai terlihat di beberapa akses utama. Menurut dia, arus kendaraan menuju bandara, Merak, dan kawasan Puncak mulai berubah dibanding kondisi harian biasa.
Di GT Cengkareng yang mengarah ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tercatat 83.572 kendaraan melintas. Jumlah ini meningkat 1,20 persen dari volume normal yang berada di angka 82.577 kendaraan.
Kenaikan lebih tinggi terlihat di GT Cikupa menuju Merak. Pada titik ini, volume lalu lintas mencapai 55.520 kendaraan atau naik 6,88 persen dibanding kondisi normal sebanyak 51.944 kendaraan.
Namun, pola berbeda terjadi di GT Ciawi 1 yang mengarah ke kawasan Puncak, Bogor. Volume kendaraan di gerbang tol ini tercatat 36.040 kendaraan, turun 8,43 persen dari lalu lintas normal 39.358 kendaraan.
Bandung dan sekitarnya ikut mengalami kenaikan
Selain wilayah Jabodetabek, peningkatan kendaraan juga terlihat di koridor Jawa Barat. Jasa Marga menyebut arus menuju Bandung atau Rancaekek mulai bergerak naik melalui ruas Tol Padaleunyi.
Widiyatmiko mengatakan total kendaraan yang terpantau menuju Bandung atau Rancaekek dan sekitarnya mencapai 76.107 kendaraan. Angka itu naik 1,93 persen dibanding volume transaksi normal 74.668 kendaraan.
Pergerakan ini tercatat melalui dua gerbang tol utama, yaitu GT Cileunyi dan GT Pasteur. Kedua titik tersebut selama masa mudik kerap menjadi indikator awal kepadatan ke arah Bandung dan wilayah timur Jawa Barat.
Di GT Cileunyi, kendaraan menuju Rancaekek, Garut, dan sekitarnya tercatat sebanyak 38.728 kendaraan. Jumlah itu naik 2,34 persen dibanding volume normal 37.844 kendaraan.
Sementara itu, kendaraan yang menuju Bandung atau Jakarta melalui GT Cileunyi tercatat 32.645 kendaraan. Kenaikannya mencapai 14,23 persen dibanding lalu lintas normal yang berada di angka 28.579 kendaraan.
Di GT Pasteur, volume kendaraan menuju Kota Bandung mencapai 37.379 kendaraan. Angka tersebut meningkat 1,51 persen dari kondisi normal sebanyak 36.824 kendaraan.
Sebaliknya, kendaraan yang meninggalkan Bandung menuju Jakarta melalui GT Pasteur tercatat 30.999 kendaraan. Jumlah ini turun tipis 0,84 persen dibanding volume normal 31.261 kendaraan.
Ringkasan data lalu lintas utama
Berikut gambaran singkat pergerakan kendaraan di sejumlah gerbang tol utama:
- GT Cengkareng: 83.572 kendaraan, naik 1,20 persen.
- GT Cikupa: 55.520 kendaraan, naik 6,88 persen.
- GT Ciawi 1: 36.040 kendaraan, turun 8,43 persen.
- GT Cileunyi ke Rancaekek/Garut: 38.728 kendaraan, naik 2,34 persen.
- GT Cileunyi arah Bandung/Jakarta: 32.645 kendaraan, naik 14,23 persen.
- GT Pasteur ke Bandung: 37.379 kendaraan, naik 1,51 persen.
- GT Pasteur ke Jakarta: 30.999 kendaraan, turun 0,84 persen.
Apa arti data ini bagi pemudik
Kenaikan yang masih relatif terbatas menunjukkan arus mudik belum mencapai puncaknya. Meski begitu, tren awal ini penting karena memberi sinyal bahwa distribusi kendaraan sudah mulai bergerak ke jalur-jalur favorit mudik dan perjalanan libur.
Peningkatan tertinggi pada data rujukan terlihat di GT Cileunyi untuk arus Bandung atau Jakarta, serta di GT Cikupa menuju Merak. Ini mengindikasikan dua koridor tersebut berpotensi mengalami kepadatan lebih cepat dibanding arah lain apabila volume kendaraan terus bertambah dalam beberapa hari berikutnya.
Di sisi lain, penurunan di GT Ciawi 1 menunjukkan pergerakan ke kawasan Puncak belum sekuat jalur lain. Kondisi ini bisa berubah sewaktu-waktu karena pola perjalanan libur sering dipengaruhi pembagian waktu keberangkatan, cuaca, dan rekayasa lalu lintas.
Bagi pengguna jalan tol, data seperti ini dapat menjadi acuan untuk memilih waktu berangkat dan rute perjalanan. Pemantauan berkala melalui informasi resmi operator tol, kepolisian, dan otoritas transportasi tetap menjadi hal penting karena situasi arus mudik dapat berubah cepat seiring mendekatnya masa libur Lebaran.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com








