LCGC Masih Diburu, Saat Daya Beli Melemah Brio Satya Memimpin Penjualan

Mobil LCGC masih menjadi pilihan banyak konsumen di Indonesia, meski daya beli pasar menengah bawah sedang tertekan. Data terbaru menunjukkan segmen mobil biaya terjangkau ini belum kehilangan peminat, terutama untuk pembeli mobil pertama yang mencari harga masuk akal dan biaya operasional rendah.

Mengacu pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales LCGC pada Februari naik menjadi 11.412 unit. Angka itu meningkat dari Januari yang tercatat 10.694 unit, menandakan ada pergerakan positif di awal tahun.

Penjualan awal tahun masih menunjukkan minat

Kenaikan distribusi dari pabrik ke dealer memperlihatkan bahwa pasar LCGC belum berhenti bergerak. Di tengah persaingan mobil murah dan model kompak lain, LCGC tetap punya basis konsumen yang kuat.

Model terlaris pada periode itu adalah Honda Brio Satya. Wholesales mobil ini mencapai 3.096 unit dan menempatkannya sebagai kontributor terbesar dalam segmen LCGC.

Di bawah Brio Satya, Daihatsu Sigra mencatat distribusi 3.040 unit. Posisi berikutnya ditempati model kembarannya, Toyota Calya, dengan penjualan 3.036 unit.

Toyota Agya berada di urutan selanjutnya dengan 1.180 unit. Sementara Daihatsu Ayla mencatat 1.060 unit, melengkapi daftar model LCGC yang paling banyak dikirim ke dealer.

Daftar LCGC terlaris di Februari

  1. Honda Brio Satya: 3.096 unit
  2. Daihatsu Sigra: 3.040 unit
  3. Toyota Calya: 3.036 unit
  4. Toyota Agya: 1.180 unit
  5. Daihatsu Ayla: 1.060 unit

Komposisi penjualan itu menunjukkan dua pola penting. Pertama, city car murah tetap dicari, dan kedua, mobil tujuh penumpang murah masih sangat relevan untuk kebutuhan keluarga.

Tetap diminati meski tren tahunan menurun

Meski awal tahun mencatat kenaikan bulanan, kinerja LCGC secara tahunan sebelumnya memang melemah. Sepanjang 2025, penjualan retail LCGC hanya mencapai 130.799 unit, turun dari 178.726 unit pada 2024.

Penurunan itu setara 30,6 persen menurut data yang dikutip dari Gaikindo. Dari sisi wholesales, distribusi LCGC sepanjang 2025 juga hanya mencapai 122.686 unit.

Pangsa pasar LCGC ikut menyusut. Jika pada 2024 segmen ini menyumbang 20,1 persen dari total penjualan mobil nasional, maka pada 2025 tinggal 15,7 persen.

Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai perjalanan LCGC selama lebih dari satu dekade menunjukkan tren yang kini melambat. Dalam keterangannya, ia menyebut pasar LCEV atau Low Cost Emission Vehicle sempat memiliki pangsa hingga 22 persen, namun kemudian turun menjadi sekitar 15 persen.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa LCGC bukan segmen kecil dalam industri otomotif nasional. Selama bertahun-tahun, model ini justru menjadi salah satu penopang volume penjualan mobil di Indonesia.

Rekam jejak pasar LCGC sejak mulai berkembang

Sejak hadir pada 2013, LCGC sempat tumbuh sangat cepat. Dalam beberapa tahun, mobil murah ramah lingkungan itu mampu mengambil porsi besar dari pasar otomotif nasional.

Berikut gambaran perkembangan retail sales dan pangsa pasar LCGC berdasarkan data Gaikindo:

Tahun Penjualan Pangsa pasar
2013 45.348 unit 3,7 persen
2014 164.123 unit 13,6 persen
2015 166.517 unit 16,4 persen
2016 223.708 unit 21,1 persen
2017 242.680 unit 22,5 persen
2018 225.480 unit 19,6 persen
2019 221.006 unit 21,5 persen
2020 116.475 unit 21,9 persen
2021 145.219 unit 16,4 persen
2022 180.172 unit 17,8 persen
2023 198.564 unit 19,9 persen
2024 178.726 unit 20,1 persen
2025 130.799 unit 15,7 persen

Data itu menegaskan bahwa LCGC pernah menjadi segmen dengan pengaruh besar. Pada periode terbaiknya, pangsa pasar tembus di atas 20 persen, yang berarti sekitar seperlima penjualan mobil nasional berasal dari kategori ini.

Apa yang membuat LCGC masih dibeli

Harga yang relatif lebih terjangkau tetap menjadi alasan utama. Selain itu, konsumsi bahan bakar yang efisien dan biaya kepemilikan yang lebih ringan membuat LCGC menarik bagi banyak rumah tangga.

Segmen ini juga kuat karena menyasar kebutuhan yang sangat praktis. Konsumen membutuhkan mobil untuk mobilitas harian, antar-jemput keluarga, hingga kendaraan pertama yang mudah dirawat.

Namun tantangannya tidak kecil. Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kondisi ekonomi umum belum membaik dan daya beli kelas menengah bawah masih lemah, sehingga pasar utama LCGC menjadi yang paling terdampak.

Pernyataan itu menjelaskan mengapa penjualan tahunan sempat turun cukup dalam. Banyak calon pembeli mobil pertama menunda pembelian karena tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, dan kehati-hatian dalam mengambil cicilan.

Di sisi lain, kenaikan penjualan pada Februari memberi sinyal bahwa kebutuhan terhadap mobil terjangkau belum hilang. Selama harga tetap kompetitif dan fungsinya sesuai kebutuhan keluarga Indonesia, LCGC masih berpeluang menjadi segmen yang ramai dibeli di pasar domestik.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button