Jim Farley memberi penilaian yang cukup terbuka setelah mencoba dua pikap plug-in hybrid asal China di Australia, yakni BYD Shark 6 dan GWM Cannon Alpha PHEV. Bos Ford itu mengakui keduanya kompetitif, tetapi menegaskan karakter mereka belum setara dengan pikap pekerja keras seperti Ford Ranger untuk tugas angkut dan towing berat.
Pernyataan itu penting karena datang dari pemimpin salah satu merek besar di segmen pikap global. Dalam pandangan Farley, produk China kini bukan lagi sekadar alternatif murah, melainkan penantang serius yang mulai mengubah peta persaingan kendaraan niaga ringan dan lifestyle utility vehicle.
Bos Ford Akui Pikap China Punya Nilai Jual
Dalam laporan Drive yang dikutip Kompas.com, Farley mengatakan ia menghabiskan tiga hari untuk mengemudikan Toyota LandCruiser 70, BYD Shark, dan produk Great Wall versi PHEV. Ia lalu menyebut kedua pikap elektrifikasi asal China itu menawarkan karakter yang berbeda dari pikap konvensional.
Farley menilai BYD Shark 6 cukup menarik bagi konsumen yang tidak setiap hari membutuhkan kemampuan angkut berat. Ia mengatakan, “kalau Anda membawa beban 500 kg di belakang, itu bukan Ranger, bukan Hilux,” sehingga ada batas jelas antara pikap China baru dengan model mapan yang sudah lama dipakai untuk pekerjaan berat.
Komentar itu menunjukkan bahwa daya tarik utama Shark 6 bukan semata kemampuan kerja kasar. Produk ini dinilai lebih cocok untuk pembeli yang mencari elektrifikasi, kenyamanan, dan kepraktisan penggunaan harian tanpa tuntutan payload besar setiap waktu.
Farley bahkan menyebut Shark 6 “cukup kompetitif” untuk kelompok pengguna tersebut. Ia juga mengaku heran soal struktur biaya produksinya dengan mengatakan tidak tahu bagaimana pabrikan itu bisa menghasilkan uang setelah kendaraannya dibongkar.
GWM Cannon Alpha PHEV Juga Dipandang Serius
Penilaian positif tidak hanya diarahkan ke BYD. Farley juga menyebut GWM Cannon Alpha PHEV sebagai produk yang sangat kompetitif, meski tetap ada kompromi dalam daya angkut dibanding pikap kerja tradisional.
Menurut referensi artikel, Cannon Alpha PHEV masih mempertahankan sistem penggerak empat roda konvensional dan gigi low range. Kombinasi ini penting karena menunjukkan GWM tetap berusaha memberi kredensial off-road dan utilitas, walau pendekatannya berbeda dari formula pikap diesel kerja berat yang sudah lama dikenal pasar.
Farley juga mengungkap bahwa ia berbicara dengan banyak pelanggan dari kedua model tersebut. Ia menilai konsumen mereka cukup teredukasi, yang berarti pembeli datang dengan pemahaman jelas mengenai kelebihan dan keterbatasan produk PHEV dibanding pikap ladder frame konvensional.
Kenapa Belum Bisa Menandingi Ranger dan Hilux untuk Kerja Berat
Di titik ini, Farley tetap menarik garis tegas. Ia menyatakan pabrikan China belum memiliki jam terbang puluhan tahun seperti Ford Ranger atau Toyota Hilux dalam hal pengembangan sasis, towing, payload, dan penyempurnaan teknis untuk kebutuhan kerja berat.
Menurutnya, pengalaman panjang itu masih menjadi keunggulan utama pemain lama. Selain kendaraan, merek seperti Ford juga memiliki ekosistem pendukung yang lebih matang, mulai dari jaringan, layanan purna jual, hingga pemahaman pasar fleet dan pengguna komersial.
Secara ringkas, perbandingan yang disampaikan Farley dapat dibaca seperti berikut:
- BYD Shark 6 dan GWM Cannon Alpha PHEV kompetitif untuk konsumen yang ingin elektrifikasi.
- Keduanya belum diposisikan sebagai pengganti ideal Ranger atau Hilux untuk kerja berat harian.
- Keunggulan merek mapan masih terletak pada pengalaman sasis, towing, payload, dan ekosistem pendukung.
Farley menegaskan, “Tidak ada tandingannya,” saat membicarakan kemampuan Ranger untuk tugas yang memang dirancang sebagai pekerjaan berat. Namun ia juga mengakui tidak semua konsumen di Australia membeli Ranger untuk skenario ekstrem semacam itu.
Persaingan Global Sedang Berubah Cepat
Komentar Farley juga menarik karena disampaikan tanpa menutup mata pada kekuatan pesaing. Sebelumnya, ia dikenal cukup terbuka mengapresiasi produk otomotif China, termasuk ketika mengaku memakai sedan listrik Xiaomi SU7 selama enam bulan di Amerika Serikat dan enggan melepasnya.
Sikap itu memperlihatkan pendekatan yang lebih realistis dibanding sekadar defensif terhadap produk China. Alih-alih meremehkan, Farley justru menilai para produsen baru ini datang dengan penawaran yang solid, kompetitif, dan mulai memaksa merek global meningkatkan kemampuan terbaik mereka.
Ia menyoroti bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir, lanskap persaingan global berubah besar, terutama dengan kehadiran Great Wall dan merek China lain. Segmen pikap medium berchassis ladder frame kini dipandang sebagai sumber keuntungan global, sehingga semakin banyak pemain China masuk dengan serius.
Perubahan ini membuat pasar pikap tak lagi hanya soal ketangguhan tradisional. Kini ada lapisan konsumen baru yang mempertimbangkan elektrifikasi, efisiensi, fitur, dan pengalaman berkendara harian, sementara pemain lama tetap harus menjaga reputasi mereka di area towing, payload, dan durabilitas kerja berat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com