Arus mudik di jalur tol Trans-Jawa meningkat tajam sehingga pemerintah bersama kepolisian resmi menerapkan one way nasional dari KM 70 Cikampek Utama hingga KM 414 Kalikangkung, Semarang. Kebijakan ini mulai dijalankan pada Rabu siang sebagai respons atas lonjakan kendaraan menjelang puncak mudik Lebaran.
Penerapan rekayasa lalu lintas itu ditujukan untuk mengurai kepadatan di koridor utama pemudik dari arah Jabodetabek menuju Jawa Tengah dan sekitarnya. Langkah ini juga menandai eskalasi pengaturan lalu lintas setelah volume kendaraan terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.
One Way Nasional Diterapkan Karena Lonjakan Kendaraan
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan keputusan tersebut diambil setelah pemerintah melihat peningkatan jumlah pemudik yang signifikan. Dalam keterangan resminya, Dudy mengatakan one way nasional diberlakukan secara menyeluruh karena arus kendaraan terus naik pada hari pelaksanaan.
Menurut Dudy, penerapan sistem satu arah ini bersifat situasional dan akan menyesuaikan kondisi lapangan. Pemerintah menggunakan indikator rasio volume terhadap kapasitas jalan atau V/C ratio untuk menentukan apakah rekayasa lalu lintas perlu dipertahankan atau dihentikan.
“Jika V/C ratio melewati ambang tertentu, maka one way diberlakukan. Namun jika sudah menurun, arus lalu lintas akan dikembalikan normal,” kata Dudy.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kebijakan tidak diterapkan secara kaku. Petugas akan mengevaluasi efektivitas rekayasa lalu lintas secara berkala berdasarkan kepadatan aktual di ruas tol.
Ruas yang Terdampak dan Fokus Pengaturan
One way nasional berlaku di salah satu jalur terpadat saat musim mudik, yakni dari Cikampek hingga Kalikangkung. Ruas ini menjadi tulang punggung pergerakan kendaraan pribadi, bus, dan logistik yang mengarah ke wilayah tengah dan timur Pulau Jawa.
Di lapangan, kepadatan juga terlihat di sekitar Km 55 ruas Tol Jakarta-Cikampek. Kondisi ini memperkuat alasan pemerintah untuk memperluas rekayasa lalu lintas agar distribusi kendaraan lebih lancar dan antrean tidak menumpuk di titik-titik kritis.
Pengaturan arus dilakukan melalui koordinasi antara Kementerian Perhubungan, Korps Lalu Lintas Polri, kepolisian daerah, dan operator jalan tol. Pola ini umum dipakai saat periode mudik karena perubahan volume kendaraan bisa terjadi sangat cepat dalam hitungan jam.
Data Arus Mudik dari Jabodetabek
Jasa Marga mencatat sekitar 1,2 juta kendaraan telah meninggalkan wilayah Jabodetabek sejak H-10 hingga H-4 Lebaran. Angka ini merupakan akumulasi lalu lintas dari sejumlah gerbang tol utama ke berbagai arah tujuan mudik.
Data tersebut memberi gambaran bahwa beban lalu lintas sudah tinggi bahkan sebelum puncak arus mudik berlangsung. Karena itu, rekayasa seperti one way nasional dipandang sebagai langkah antisipatif untuk menjaga kecepatan rata-rata kendaraan dan menekan kemacetan panjang.
Secara umum, saat volume kendaraan mendekati atau melampaui kapasitas jalan, risiko perlambatan akan meningkat di titik sambung tol, rest area, dan gerbang keluar. Dalam konteks ini, sistem satu arah menjadi instrumen manajemen lalu lintas untuk memaksimalkan ruang jalan ke arah dominan perjalanan.
Imbauan untuk Pengendara Selama One Way
Pemerintah mengimbau pemudik tetap mengikuti arahan petugas di lapangan. Pengemudi juga diminta memastikan kondisi kendaraan dan fisik pengendara tetap prima sebelum masuk perjalanan jarak jauh.
Berikut hal penting yang perlu diperhatikan pemudik selama one way nasional berlangsung:
- Ikuti rambu sementara dan instruksi petugas.
- Jaga batas kecepatan aman sesuai kondisi lalu lintas.
- Isi bahan bakar sebelum memasuki ruas padat.
- Manfaatkan rest area secara bergantian dan tidak berlama-lama.
- Beristirahat bila mengantuk atau lelah untuk mencegah kecelakaan.
Imbauan ini penting karena kepadatan arus mudik sering meningkatkan risiko tabrakan beruntun, antrean panjang, dan kelelahan pengemudi. Faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah upaya mempercepat perjalanan pemudik.
Pengawalan di Wilayah Jawa Barat
Kapolda Jawa Barat Rudi Setiawan menegaskan jajarannya akan memberikan pengawalan maksimal bagi pemudik yang melintas di wilayah Jawa Barat. Fokus pengamanan diarahkan agar perjalanan tetap aman, tertib, dan bisa berlanjut hingga ke daerah tujuan.
Kehadiran aparat di lapangan juga dibutuhkan untuk mencegah gangguan lalu lintas di akses masuk dan keluar tol. Selain itu, pengaturan manual dibutuhkan ketika terjadi penumpukan kendaraan pada titik pertemuan arus utama dan jalur distribusi daerah.
Pemerintah masih terus memantau pergerakan kendaraan di jalan tol maupun jalur arteri. Selama volume kendaraan tetap tinggi, skema rekayasa lalu lintas seperti one way nasional akan dievaluasi secara real time dengan mempertimbangkan kondisi kepadatan, keselamatan, dan kelancaran perjalanan pemudik.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com