Negara kecil di selatan India, Sri Lanka, mengambil kebijakan unik terkait penggunaan mobil listrik. Pemerintah melarang pemilik mobil listrik mengisi daya baterai pada malam hari untuk mengurangi beban jaringan listrik.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, meminta pengguna mobil listrik mengecas saat siang hari. Alasan utamanya adalah adanya kelebihan listrik tenaga surya yang belum dimanfaatkan secara maksimal pada siang hari.
Pengisian daya mobil listrik pada malam hari disebut menambah konsumsi listrik sekitar 300 megawatt. Lonjakan ini menyebabkan operator pembangkit listrik harus menjalankan generator batu bara dan diesel secara intensif agar pasokan tetap stabil.
Sri Lanka memiliki kapasitas pembangkit listrik batu bara sebesar 900 megawatt dan pembangkit diesel sekitar 1.000 megawatt. Namun, kedua jenis pembangkit ini memicu emisi karbon tinggi sehingga bertentangan dengan tujuan penggunaan mobil listrik yang ramah lingkungan.
Pemakaian listrik tinggi pada malam hari menjadikan negara tersebut harus membakar lebih banyak bahan bakar fosil. Padahal, energi surya melimpah pada siang hari, namun tidak tersimpan maksimal karena belum tersedia fasilitas baterai skala besar.
Sejak Februari tahun ini, Sri Lanka melarang impor kendaraan konvensional dan lebih dari 10 persen kendaraan yang masuk adalah mobil listrik. Penjualan mobil listrik melonjak karena krisis energi akibat perang di Timur Tengah dan penjatahan bahan bakar di dalam negeri.
Kebijakan larangan ngecas pada malam hari dibarengi dengan rencana pemerintah menetapkan tarif listrik yang berbeda. Tarif lebih tinggi akan diberlakukan untuk pengisian daya di malam hari guna mengurangi penggunaan listrik peak load.
Dibratakannya, mobil listrik jika diisi malam hari akan menambah beban puncak listrik secara signifikan. Hal ini bisa memaksa negara menggunakan seluruh kapasitas pembangkit batu bara dan diesel yang notabene lebih polutif.
Pemerintah Sri Lanka juga sudah menerapkan pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam seminggu. Langkah ini bertujuan menghemat bahan bakar dan mengurangi tekanan pada pasokan energi nasional.
Ketersediaan energi surya melimpah pada siang hari seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber utama pengisian baterai mobil listrik. Namun, tanpa teknologi penyimpanan energi yang memadai, kelebihan energi surya terbuang percuma.
Berikut beberapa poin penting kebijakan terkait pengisian daya mobil listrik di Sri Lanka:
1. Larangan mengisi daya baterai mobil listrik pada malam hari untuk mengurangi beban listrik peak hour.
2. Anjuran mengisi daya pada siang hari saat surplus energi surya tersedia.
3. Rencana pemberlakuan tarif listrik lebih tinggi untuk pengisian malam hari.
4. Penjualan mobil listrik naik drastis setelah pelarangan impor kendaraan konvensional.
5. Belum adanya baterai berkapasitas besar untuk menyimpan energi matahari secara maksimal.
6. Pengurangan hari kerja menjadi empat hari untuk efisiensi konsumsi bahan bakar.
Kebijakan Sri Lanka menyoroti tantangan transisi energi bersih di negara berkembang. Meski mobil listrik lebih ramah lingkungan, kebutuhan infrastruktur pendukung seperti penyimpanan energi menjadi kunci agar manfaatnya optimal.
Langkah pemerintah ini juga mengingatkan pentingnya integrasi sumber energi terbarukan secara efektif. Dalam jangka panjang, pengembangan teknologi baterai dan pengaturan konsumsi listrik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berpolusi.
Pemilik mobil listrik di Sri Lanka pun diharapkan berperan aktif dalam mengatur waktu pengisian daya sesuai arahan pemerintah. Dengan cara ini, mereka dapat membantu menjaga kestabilan jaringan listrik sekaligus mengurangi emisi karbon.
Situasi di Sri Lanka dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain yang mulai mengadopsi mobil listrik secara masif. Penanganan akses energi dan penerapan kebijakan pengisian baterai yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan agenda elektrifikasi kendaraan secara berkelanjutan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com






