Harga BBM Terdorong Perang, Saat Warga Asia Berbondong-Bondong Beralih ke Mobil Listrik

Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah mulai mengubah perilaku konsumen otomotif di Asia. Saat biaya bahan bakar naik, mobil listrik dinilai makin menarik karena ongkos operasionalnya lebih rendah dan tidak bergantung langsung pada harga BBM.

Dampaknya terlihat pada lonjakan penjualan kendaraan listrik di sejumlah negara. Data dari laporan Bloomberg yang dikutip dalam artikel referensi menunjukkan dealer BYD di Manila, Filipina, mencatat penjualan dalam dua pekan pertama Maret yang sudah menyamai penjualan satu bulan penuh.

Harga minyak naik, minat EV ikut terdorong

Tekanan pada pasar energi terjadi setelah jalur distribusi minyak global terganggu. Artikel referensi menyebut penutupan Selat Hormuz di Iran menjadi faktor penting, karena sekitar 80% minyak yang beredar di Asia dikirim melalui jalur strategis tersebut.

Kondisi itu membuat banyak konsumen mulai menghitung ulang biaya penggunaan mobil bermesin bensin. Ketika harga BBM naik, selisih biaya harian antara mobil konvensional dan mobil listrik menjadi makin terasa, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

Seorang tenaga penjual BYD di Manila mengatakan banyak klien mengganti mobilnya ke EV karena kenaikan harga BBM. Pernyataan itu menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak lagi semata dipicu tren teknologi, tetapi juga pertimbangan ekonomi rumah tangga.

Fenomena serupa tampak di Vietnam. Salah satu dealer VinFast disebut berhasil menjual 250 mobil listrik dalam tiga pekan sejak perang terjadi.

Angka itu setara rata-rata sekitar 80 unit per pekan. Berdasarkan data penjualan sebelumnya yang dikutip artikel referensi, rata-rata mingguan dealer tersebut hanya sekitar 50 unit, sehingga terjadi kenaikan penjualan yang cukup tajam.

Seorang karyawan di Vietnam yang beralih dari mobil bensin ke mobil listrik mengatakan perpindahan itu membantunya menghemat uang. Komentar tersebut sejalan dengan alasan utama banyak konsumen saat harga energi bergerak naik, yakni efisiensi biaya pemakaian.

Efek perang pada keputusan beli kendaraan

Kenaikan harga energi kerap memberi dampak cepat pada sektor transportasi. Konsumen biasanya merespons dengan menunda pembelian mobil bensin, mencari kendaraan lebih irit, atau langsung beralih ke model elektrifikasi.

Dalam konteks ini, mobil listrik mendapat dorongan tambahan dari situasi geopolitik. Bukan hanya karena lebih hemat saat dipakai, tetapi juga karena dianggap memberi perlindungan relatif terhadap fluktuasi harga minyak global.

Albert Park, Kepala Ekonomi Asian Development Bank, menyatakan harga minyak yang lebih tinggi akan membantu transisi ke kendaraan listrik. Menurut dia, kondisi itu menciptakan insentif ekonomi yang mendorong perpindahan ke transportasi yang lebih hijau.

Pandangan tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara pasar energi dan adopsi EV. Saat biaya energi fosil naik, argumen ekonominya menjadi lebih kuat, bahkan di pasar yang sebelumnya masih ragu untuk beralih.

Thailand sempat diprediksi melambat, tetapi permintaan bertahan

Thailand juga mencerminkan dinamika yang sama. Penjualan mobil listrik sempat diperkirakan melambat setelah pemerintah mulai mengurangi insentif, sehingga daya tarik EV dianggap menurun dibanding mobil bermesin pembakaran internal.

Namun, kenaikan harga minyak mengubah perhitungan pasar. Jurubicara Asosiasi Federasi Industri Otomotif Thailand, Surapong Paisitpatnapong, mengatakan jika harga minyak bertahan di level tinggi atau naik lebih jauh, permintaan kendaraan listrik diperkirakan akan meningkat.

Pernyataan itu penting karena menunjukkan subsidi bukan satu-satunya pendorong pasar EV. Dalam situasi tertentu, faktor biaya operasional bisa menjadi pendorong yang sama kuatnya, bahkan saat dukungan fiskal mulai dikurangi.

China berada di posisi paling diuntungkan

Di tengah lonjakan minat mobil listrik di Asia, China dinilai menjadi pihak yang paling diuntungkan. Negara itu sudah memiliki basis produksi besar untuk mobil listrik dan plug-in hybrid, sehingga siap menangkap lonjakan permintaan regional maupun global.

Masih berdasarkan laporan Bloomberg yang dirujuk artikel referensi, pada dua bulan pertama 2026 ekspor mobil elektrifikasi China tercatat lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini memperkuat posisi China sebagai pemain utama dalam rantai pasok kendaraan energi baru.

Jika harga minyak tetap tinggi, ekspor dari China berpotensi terus tumbuh. Produsen seperti BYD mendapat momentum karena menawarkan produk yang sudah tersedia dalam skala besar, dengan jaringan distribusi yang semakin luas di pasar Asia.

Mengapa konsumen cepat beralih ke mobil listrik

Ada beberapa alasan yang membuat perpindahan ke EV terasa lebih cepat saat harga BBM naik:

  1. Biaya pengisian daya umumnya lebih stabil dibanding harga bensin.
  2. Pengguna harian bisa merasakan selisih pengeluaran operasional lebih cepat.
  3. Pilihan model EV kini makin banyak di berbagai segmen.
  4. Infrastruktur pengisian mulai berkembang di banyak negara Asia.
  5. Kekhawatiran terhadap gejolak minyak mendorong konsumen mencari alternatif.

Meski begitu, laju adopsi tetap dipengaruhi faktor lokal. Harga kendaraan, ketersediaan stasiun pengisian, insentif pemerintah, dan kepercayaan konsumen terhadap baterai masih menjadi penentu penting di tiap negara.

Di Indonesia sendiri, artikel referensi mencatat harga BBM belum naik seperti di sejumlah negara Asia lain. Namun, perkembangan regional ini tetap relevan karena menunjukkan bahwa gejolak geopolitik dan gangguan pasokan minyak dapat dengan cepat mengubah peta permintaan kendaraan, termasuk membuka ruang lebih besar bagi mobil listrik ketika konsumen mulai menaruh prioritas pada efisiensi biaya.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button